Sabtu, 20 Februari 2016

Membangun Peradaban Bersih dari Sekolah


Meskipun buahnya baru akan kita saksikan dan nikmati 10 hingga 20 tahun lebih ke depan, namun berinvestasi dalam bidang pendidikan itu adalah suatu keniscayaan. Jika ingin mengubah nasib suatu bangsa, maka mulailah dari sektor pendidikannya.

Tulisan ini adalah hasil buah pikiran dari Zahra Nur Asyifa, santri kelas X Pondok Pesantren Modern Al Umanaa (Al Umanaa Boarding School), Sukabumi

***

Dua hari yang lalu, salah satu guru di sekolah saya memperlihatkan kondisi Sungai Citarum milik Indonesia kita ini. Sungguh, sungai itu sudah tidak cocok disebut sungai air! Lebih cocok disebut sungai sampah. Beberapa kali saya berkunjung ke Jakarta, dan hal yang selalu menarik mata hanyalah betapa banyaknya sampah berserakan tanpa mengenal estetika di jalanan, di selokan, dan tempat umum lainnya. Alhasil, bencanalah yang datang, seperti banjir, yang sering terjadi di negara kita ini, sampai-sampai ada longsor sampah, yang terkenal sebagai peristiwa Leuwi Gajah yang menewaskan ratusan orang, dan bencana lainnya.  Ini menunjukkan betapa kotornya negara kita ini, betapa buruknya sistem pengelolaan sampah yang dimiliki negeri ini!
Padahal, kebersihan adalah salah satu tolak ukur tingginya peradaban suatu bangsa. Maka keberhasilan pengelolaan sampah menjadi indikator keberhasilan suatu bangsa membangun peradabannya.  Sedangkan Indonesia belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik. Oleh karena itu, saya sebagai calon pemimpin bangsa ingin mengubah kenyataan ini dengan mengajak para pembaca semua untuk membangun sistem pengelolaan sampah Indonesia dari sekarang.

Namun, ketika kita sudah memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik, kesuksesan sistem itu bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Maka, Indonesia memerlukan rakyat yang mau dan mampu mengikuti sistem pengelolaan sampah tersebut. Sebenarnya Indonesia juga telah memiliki sistem pengelolaan sampahnya sendiri. Buktinya, banyak saya temui tempat sampah organik dan anorganik di beberapa kota yang pernah saya kunjungi. Namun, karena rendahnya kepedulian SDM-SDM Indonesia, pemilahan sederhana seperti itu saja tidak berjalan dengan baik. Jadi, Indonesia perlu sumber daya manusia yang memiliki kepedulian tinggi dan pastinya berintegritas.

Untuk merealisasikannya, sekolah adalah tempat yang paling tepat. Di sekolahlah pendidikan berlangsung, di sekolahlah orang-orang dikembangkan ilmunya, disempurnakan integritasnya. Sekolah memang tempat yang tepat untuk melahirkan SDM-SDM berkualitas, SDM-SDM yang memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan, SDM yang mau dan mampu mengelola sampahnya. Karenanya, sekolah pasti dapat menjadi solusi bagi permasalahan sampah Indonesia.


Pemilahan sampah di Al Umanaa

Contohnya sekolah saya sendiri, Al Umanaa. Kami selalu ditanamkan pemahaman bahwa “Kebersihan itu Sebagian dari Iman”, sehingga siswa-siswi di sekolah saya takut jika membuang sampah sembarangan.  Sekolah saya telah memulai pengelolaan sampahnya sendiri. Sampah kami pilah menjadi enam jenis, compostable (sampah mudah terurai), recyclable (sampah yang dapat didaur ulang), sanitary waste (sampah medis), hazardous waste (sampah berbahaya), trash (sampah yang tidak dapat didaur ulang), dan paper (kertas). Sampah kertas selanjutnya kami olah menjadi kertas daur ulang (recycle paper). Sistem pemilahan enam jenis ini baru kami mulai Januari 2016. Sebelumnya kami hanya memilah sampah menjadi dua jenis, yaitu organik dan anorganik. Alhamdulillah, sistem ini berhasil dijalankan dengan sempurna oleh siswa-siswinya hanya dalam rentang waktu satu minggu. Ini disebabkan karena kami berada dalam sistem pendidikan yang baik. Setiap kesalahan pasti akan ditegur dan dievaluasi secara langsung. Hal ini menyebabkan kami terbiasa untuk membuang sampah dengan benar. Kami pun terdorong untuk memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, seperti motto kami “Kami tinggal di bumi, dan kami mencintainya. Maka, mari menjaganya!” 

Jadi, saya sangat yakin bahwa lembaga pendidikan adalah tempat yang benar-benar tepat untuk memulai sistem pengelolaan sampah yang baik. Insya Allah, jika semua sekolah di Indonesia telah melakukan pendidikan sampah pada siswanya, maka rumah-rumah, kantor-kantor, dan tempat-tempat umum pun akan mengelola sampahnya dengan baik. Karena sekolahlah yang menentukan kualitas masyarakat suatu bangsa. Alhasil, Indonesia dapat menjadi negara yang beradab! Negara yang maju dan bermartabat!

Tulisan ini dikutip dari : http://www.alumanaa.com/?p=634

Rabu, 13 Januari 2016

Ilmu dari Alam

Saya adalah anak yang dilahirkan dan dibesarkan di sebuah kota. Segala akses kemudahan teknologi di kota besar sudah saya cicipi. Dari aktivitas saya sejak kecil hingga kuliah, keluarga saya menilai bahwa saya memang senang bermain di alam. Saat itu, saya mengamini hal tersebut. Namun saya definisikan bermain, belajar, dan mencintai alam sesuai dengan pengalaman saya saat itu. Dari kecintaan saya berjalan-jalan ke alam bebas, aktivitas outdoor tanpa khawatir warna kulit menjadi gelap, dan aktivitas saya di bidang pelestarian lingkungan, saya merasa bahwa diri saya sangat mencintai alam ciptaan-Nya ini, dan ingin banyak dekat dengan alam. 

Berpindah kota ke Bandung saat kuliah adalah sebuah kemahalan bagi saya ketika bisa mendapatkan bahwa menemukan daerah pepohonan yang masih hijau tidak sulit di sini. Bahkan jika disempatkan, saya bisa menikmati setiap akhir pekan saya untuk ‘dekat dengan alam’. Sampai saat itu, saya masih merasa bahwa saya memang mencintai alam ini.
Tak kenal maka tak sayang
Di detik ini, saya harus katakan bahwa saya salah mengenali diri saya. Saya tidak pernah benar-benar mencintai alam ini. Bahkan saya hanya menjadikannya sebuah ‘hiburan’ di tengah kesibukan saya yang lain, sebagai pemanis di tengah kesuntukan saya, dan sebagai latar indah di balik foto-foto saya. Saya tidak sedikitpun menghabiskan keringat dan pikiran dalam hidup saya dengan pertanyaan seperti : “Darimana makanan saya berasal? Bagaimana cara saya mengelola alam agar saya dan generasi selanjutnya bisa menghasilkan bahan makanan seperti ini?”. 

Alam menjadi tanggung jawab manusia untuk dikelola dengan bijaksana, sebagai pemenuhan kebutuhan seluruh umat manusia.
Saya mengatakan bahwa saya punya kegelisahan dengan masalah banyaknya sampah sisa makanan justru lebih kepada khawatir akan permasalahan sampah yang membludak di kota, di mana justru sense yang terbangun seharusnya lahir dari akar masalah bahwa proses pembuatan makanan itu panjang dan tidak seharusnya kebutuhan primer ini disia-siakan. Poin kedua saya katakan dan saya amini setiap saya terlibat dalam diskusi dengan kawan-kawan yang memiliki kepedulian di bidang pangan, namun lagi-lagi saya harus katakan bahwa saya sejujurnya tidak paham bagaimana sebenarnya ‘proses produksi makanan yang panjang’ itu. Saya tidak benar-benar mengenal langsung hingga saya merasakannya sendiri. Tak kenal maka tak sayang benar-benar saya resapi maknanya di detik ini.
Alam itu cerminan kehidupan manusia
Ini yang sangat mahal. Belajar dari alam yang saya kenal dulu sempit sekali. Mempelajari tingkah laku dan pertumbuhan makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan hanya sebagai sebuah hafalan tidak bermakna. Sesekali menjadi wawasan untuk bekal pemanfaatannya dalam kehidupan manusia. Namun rupanya ada pelajaran dan makna yang sangat berharga dari alam. Bagaimana Sang Pencipta mendesain pertumbuhan sebuah tanaman, cara hidup masing-masing jenis hewan, semuanya adalah refleksi dari kehidupan manusia yang patut diambil pelajaran. Sebagai contoh adalah bagaimana seekor elang hidup dalam tulisan saya di sini. Dan bagaimana memahami etos kerja yang paling unggul dari seekor lebah. Bahkan dari melihat proses pertumbuhan semua makhluk ciptaan-Nya, kita akan tersadar bahwa segala sesuatu itu perlu proses dan yang instan bukan sesuatu yang sehat, baik secara fisik maupun psikologis.

Sebuah tanaman yang berasal dari benih akan menjadi tunas, lalu diletakkanlah ia di dalam pot kecil. Tanaman itu diberikan nutrisi yang sama dengan kondisi lingkungan yang sama di dalam sebuah pot. Namun pada saatnya, ia tumbuh besar dan semakin besar. Jika tidak dipindahkan, ia akan mati. Kalaupun ia bisa tetap tumbuh di dalam pot tersebut, namun terbatas. Terbatas dari segi pertumbuhan, maupun manfaatnya. Namun lain ceritanya ketika tanaman tersebut kita pindahkan ke tanah yang baik, ke lahan baru yang lebih luas, tumbuhnya akan semakin besar dan manfaatnya akan semakin banyak. Jangan kaget ketika di awal perpindahan, tanaman tersebut akan tumbuh merana terlebih dahulu. Namun setelah itu, ia akan menjadi besar dan bisa berkembang memberikan manfaat yang jauh lebih besar. Seperti halnya manusia. Sudah kodratnya untuk dilepaskan dari zona nyamannya, kampung halamannya, lingkungan di mana ia dimanja, untuk menjadi orang yang besar. Meskipun di awal perpindahannya akan sakit rasanya, namun itu sudah menjadi fitrah dan hal yang biasa. Seperti seekor elang yang harus melewati fase sakit luar biasa untuk menjadi hewan yang kuat.

Saya belum lama keluar dari pot itu. Namun tidak ada kata terlambat. Meskipun begitu, tunas muda itu akan lebih besar manfaatnya ketika dikeluarkan di saat muda. Pendidikan yang dekat dengan alam itu harus dimulai dari sedini mungkin. Di situlah peran besar orang tua. Seperti sebuah induk tanaman yang melepas bagian tunas mudanya agar bisa berdiri sendiri dan tumbuh besar.
Manusia itu sudah kodratnya didekatkan dengan alamnya. Semakin kenal dirinya dengan apa yang diciptakan-Nya, maka akan semakin kenal pula dirinya pada penciptanya.

Sabtu, 11 April 2015

Al-Umanaa : Sekolah = Belajar Hidup

Pendidikan, dalam bahasa Arab adalah Tarbiyah, akar katanya berasal dari kata Rabb yang mengandung berbagai macam makna, yaitu di antaranya mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara.

Kilasan pemaknaan pendidikan ini mengawali kekaguman saya terhadap sekolah yang satu ini. Al-Umanaa. Dengan pemaknaan tersebut, sekolah ini memiliki prinsip 
Sekolah adalah belajar hidup, tamat sekolah harus dapat hidup, bukan baru mulai belajar hidup.
Ya, dari sekolah, seseorang harus siap menghidupi dirinya sendiri dan mampu mengelola alam sebagai salah satu unsur penting dalam memenuhi penghidupan itu. 

***

Perjalanan saya dan tim FOODLAP ; Anka, Ridho, Rizan, dan Eva dimulai dari keberangkatan pukul 4.30 pagi untuk menghindari kemacetan arus Bandung-Sukabumi. Sejak tahun 2014, Al-Umanaa berdiri di atas lahan seluas 8 hektar di tanah Kabupaten Sukabumi. Pukul 9.00 kami tiba di kawasan Al-Umanaa yang sejuk dan asri. Kami disambut hangat oleh pengurus Al-Umanaa, yang salah satunya adalah kawan kami, Mahdi. Ditemani secangkir teh manis hangat, perkenalan tentang sekolah ini diawali. 

Selamat datang di Al-Umanaa!
Gedung sekretariat merangkap gedung serbaguna
Pada saat kami berkunjung ke sana sedang berlangsung pekan bahasa Arab. Berbekal kemampuan bahasa Arab kami yang masih level awal, kami hanya mampu memahami sepotong demi sepotong percakapan antar penghuni Al-Umanaa dan mengucapkan syukron (terima kasih) ketika diberikan sesuatu. Hehehe. Dari pengamatan saya, seluruh murid dan pengajar mampu berkomunikasi fasih dengan bahasa arab. Ternyata sistem pekan bahasa ini diberlakukan pula untuk dua bahasa resmi lainnya, yaitu bahasa jepang dan bahasa inggris. Kemampuan bahasa ini diasah dalam aspek dasar membaca, menulis, dan berbicara.

Kemampuan berbahasa hanyalah satu dari sekian banyak materi yang ditanamkan di Al-Umanaa untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan perkembangan dunia saat ini. Al-Umanaa percaya bahwa pengembangan SDM adalah kunci keberhasilan suatu bangsa untuk meningkatkan seluruh aspek lainnya. Selain menanamkan teori-teori seperti di kebanyakan sekolah lainnya, sekolah ini memberikan praktek nyata di lapangan. Kemampuan dasar lainnya adalah kemampuan dalam pengembangan pertanian dan peternakan yang menyokong kebutuhan primer manusia yaitu pangan. Kunci keamanan suatu negara tanpa pengaruh kondisi ekonomi di luar adalah kesiapan bahan baku pangannya. 

Dari keterampilan pertanian dan peternakan itu pula dikembangkan kemampuan berwirausaha. Pendidikan untuk menghidupi diri secara mandiri benar-benar lengkap diberikan di sekolah ini! Rupanya praktek pertanian organik dan peternakan ini juga memiliki pesan penting dalam memilih asupan makanan sehari-hari. Asupan makanan alami dan bergizi sudah menjadi pilihan utama seluruh murid dan pengajar Al-Umanaa. Di kala kondisi bahan makanan kita yang penuh dengan pengawet dan bahan penyedap, mereka mampu memilih dan mengelola makanan sehatnya sendiri!


salah satu sudut Integrated farming
Sudut Al-Umanaa
Salah satu prinsip pendidikan yang paling saya kagumi di sini adalah keteladanan. Bagi seluruh pengajar Al-Umanaa, hal ini sudah menjadi prinsip. Ketika mengatakan sesuatu, maka diri sendiri harus melaksanakannya. Begitu pula halnya di murid-murid. Bagi siapa saja yang maju sebagai pemimpin, maka ia harus mampu memberikan teladan, baik secara ilmu, perbuatan, hingga stamina fisik. Maka jangan heran kalau ketua murid (sejenis OSIS) di sini adalah sosok yang pintar, berakhlak, sehat, dan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan lapangan seperti mencangkul dan beternak!

Konsep-konsep pendidikan ini rasanya kurang afdol kalau dibuktikan sendiri. Dari pengalaman kami menginap satu malam, kami berhasil mendapatkan bukti-bukti nyata hasil pendidikan Al-Umanaa. Mulai dari interaksi dengan pengajar, beberapa murid yang sangat santun, hingga orang tua murid, kami mendapatkan bukti yang sangat nyata bahwa konsep pendidikan Al-Umanaa memang keren sekali! Hal ini pun diamini oleh seluruh orang tua yang sempat kami temui. Mereka mengaku takjub dengan perubahan positif anak-anaknya setelah melalui beberapa waktu di Al-Umanaa. 

Puncaknya adalah saat kami mendapatkan kesempatan untuk melihat penampilan beberapa murid di kelas yang menunjukkan kepiawaiannya dalam berpuisi, bercerita, pidato, bermain drama, alat musik, dan lain-lain. Sebagian besar masih duduk di bangku 1 SMP, di mana di saat itu juga kami benar-benar dibuat kagum sekaligus malu dengan kemampuan kawan-kawan Al-Umanaa yang jauh di atas kami pada usia itu. Dalam benak saya, saya yakin sekali kalau mereka adalah bibit-bibit unggul yang siap berada di garda depan pembangunan Indonesia, sekalipun kita akan melalui persaingan yang sangat ketat dengan bangsa lain.

Salah satu penampilan murid-murid Al-Umanaa
Bukti nyata lainnya adalah hasil karya murid dalam pembentukan konsep integrated farming. Mulai dari pengolahan sampah dapur dengan black soldier flies, peternakan lele, ayam, kambing, soang, kebun sayur dan buah, serta uji coba peternakan lebah. Setiap bentuk pengembangan di area ini diprakarsai oleh murid-murid sendiri, yang tergabung dalam kelompok penelitian dan pengembangan. 

Keaktifan murid-murid dalam praktik di lapangan dan keinginannya yang sangat kuat untuk belajar juga ditunjukkan pada saat kami sempat mendapat kesempatan untuk berbagi mengenai black soldier flies di kelas setelah usai shalat subuh. Di momen itu, seluruh murid mendengarkan setiap ada yang berbicara dengan sangat baik, sebuah hal yang sangat jarang saya temui saat ini, baik oleh orang dewasa sekalipun. Selain itu muncul pula beberapa pertanyaan jenius hasil praktik mereka di lapangan yang membuat diskusi menjadi semakin hangat. 


Diskusi penerapan black soldier flies yang difasilitasi Rizan
Foto bersama setelah diskusi
Sayangnya waktu kami di sana hanya semalam saja. Setelah sarapan dan menikmati air kelapa muda dari pohon sendiri, kami sempat berbincang kembali dan mendapat suntikan-suntikan semangat. Optimisme kami semakin tersulut. Perjalanan pulang yang memakan hingga 6 jam pun tidak terasa karena rasa puas dan energi hati yang kembali terisi penuh!

Ini adalah bukti penerapan pendidikan yang sebenar-benarnya untuk menyiapkan SDM Indonesia menembus tantangan-tantangan di masa depan!


Jumat, 09 Januari 2015

Bermain Ke Markas Komandan Lalat

(Sumedang, 25/12) Setelah melewati hampir 3 jam perjalanan dari Bandung dan melewati ramainya arus lalu lintas pantura, sampai juga kami di kaki Gunung Tampomas, Sumedang Utara. Tanggal merah ini kami agendakan untuk menemui Profesor Agus Pakpahan yang di tengah kesibukannya menerima kehadiran kami untuk belajar dan berdiskusi. Profesor Agus ini belakangan sering disebut-sebut sebagai 'komandan lalat' yang ramai di media. Mulai dari media lokal hingga nasional. 

Fokus saya dan tim Foodlap dalam mencari teknologi-teknologi pengolahan sampah yang alami, mempertemukan kami dengan jenis lalat menarik yang satu ini, Black Soldier Flies (BSF). Cerita lengkap pertemuan kami dengan teknologi ciptaan Allah ini akan saya ceritakan di lain waktu. Singkat cerita, rasa penasaran kami terhadap hewan inilah yang kemudian mempertemukan kami dengan Profesor Agus.

Di depan rumah tuanya yang besar, kami disambut hangat. Obrolan kami diawali dengan perkenalan diri masing-masing, terutama kami, si anak-anak muda yang sengaja mengontak beliau untuk belajar mengenai lalat ke Profesor Agus atas penelitiannya selama 4 tahun. Kemudian dengan yakin beliau menceritakan latar belakang beliau dalam meyakini BSF sebagai solusi.

Asupan Protein Masyarakat Indonesia
"Asupan protein masyarakat kita yang senilai 13,5 gram/tahun dinilai sangat rendah, 2000 kali lebih rendah dari asupan protein warga Eropa yang rata-rata mencapai 70 gram/hari setiap orangnya."
Yang membuatnya semakin prihatin, dari sebuah buku, ia temukan bahwa tingkat IQ orang Indonesia rata-rata hanya 85. Rupanya ini sangat berkaitan dengan asupan protein yang merupakan nutrisi yang krusial dalam perkembangan otak. Kemudian Prof Agus memutar otaknya dan meyakini bahwa asupan protein tersebut utamanya disuplai oleh makanan, dengan sumber protein yang paling murah saat ini adalah ikan dan unggas. 

Masalah selanjutnya muncul. Rupanya tantangan terbesar dalam dunia peternakan adalah soal pakan. Biaya pakan memakan 70-80% biaya total pengembangbiakan ternak. Pakan di Indonesia terkenal mahal karena produk atau bahan bakunya hampir 90% impor. Beliau juga menyatakan bahwa salah satu penyebab pemanasan global adalah emisi gas buang tranportasi. Salah satu faktor pendorongnya adalah tingginya arus transportasi untuk pengangkutan pakan yang jauh-jauh harus diimpor. Lebih parahnya lagi, pakan tersebut merupakan hasil pemrosesan pabrik yang kandungannya tidak segar lagi. Prof Agus sendiri mengakui bahwa betapa pentingnya pemberian pakan segar dan alami untuk hewan ternak yang nantinya akan disantap oleh manusia


Masalah Protein + Sampah = Black Soldier Flies

Rentetan masalah tersebut mengasah ide beliau untuk berinovasi mencari tahu alternatif pakan yang tinggi protein, mudah, dan murah. Beliau memulai eksplorasinya pada tahun 2010. Faktor penting lainnya yang menjadi dasar pertimbangan beliau dalam melakukan eksplorasi adalah faktor iklim Indonesia yang dilalui garis khatulistiwa, sehingga memiliki karakteristik hot, wet, dan humid. Pilihan beliau jatuh pada jenis serangga lalat, namun bukan seperti lalat rumah kebanyakan. Saya sendiri mengakui bahwa jenis Black Soldier Flies ini mempunyai berbagai macam kelebihan dan karakteristik mencengangkan yang memang didesain secara alami membantu manusia.

Profesor Agus menambahkan poin konsep dalam pengelolaan sampah. Selain 3R (reduce, reuse, recycle), beliau menambahkan recreate dan revalue. Jadi bagaimana dalam pengolahan sampah ini bisa menghasilkan sumber daya baru dan meningkatkan potensi nilai dari sampah itu. Proses pengolahan menggunakan BSF ini berpotensi pemanfaatannya dalam berbagai bentuk, yaitu : protein yang dimanfaatkan untuk pakan, biostimulan, hasil sekresi larva untuk bahan pupuk cair, dan sisa-sisa kepompong dan bangkai lalat yang memiliki kandungan citosan. 

Transformasi sampah menjadi ayam

Setelah mengobrol panjang sebagai pengantar awal, kami diajak untuk menengok 'kandang lalat' beliau. Letaknya tidak jauh dari rumahnya, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun kami sama-sama menggunakan mobil untuk mempersingkat waktu. Sampailah kami di kandang lalat beliau. Tempat pengembangbiakan yang mampu mengolah 400-600 kg sampah per hari ini memiliki beberapa bagian. Pertama, rearing house yang merupakan kandang lalat untuk lalat tumbuh dan bertelur. Di kandang sederhana ini berkeliaran lalat-lalat hitam dan hinggap di jaring-jaring dan permukaan dedaunan di dalamnya.

Kedua, reactor house yang merupakan ruang larva, di mana di tempat inilah sampah diolah oleh ratusan ribu larva kelaparan. Kami dibuat terkagum-kagum dengan rentetan penjelasan dari Profesor Agus dan proses pengolahan sampah yang dilakukan oleh sekelompok larva lalat ini. Mata saya berbinar ketika melihat penuh dan ramainya belatung di antara sampah-sampah yang menjadi santapan mereka. Menariknya, area ini sama sekali tidak tercium bau busuk sampah. Hal ini dikarenakan sampah terolah secara cepat oleh si larva. Setiap hari 400-600 kg sampah pasar Sumedang dan isi rumen sapi di masukan ke dalam reaktor-reaktor berisi larva dan akan habis hari itu juga. Larva yang sudah dipanen disimpan di satu ruangan tersendiri, dan siap menjadi makanan segar untuk ayam-ayam yang dipelihara. Ya, tempat pengembangbiakan BSF ini terintegrasi dengan kandang ayam milik beliau. 

Atas idealisme Profesor Agus, ayam-ayam ini ditumbuhkembangkan secara alami. Tanpa vaksin dan asupan makanannya hanya dengan larva BSF dan dedak. Balai Penelitian Peternakan yang sempat mampir ke tempat beliau sempat melakukan pembedahan pada ayamnya dan terbukti sehat. Daya tahan tubuh ayam tergolong lebih kuat dari ayam lain dengan pakan pabrikan biasa. 

Teknologi ciptaan Tuhan memang keren sekali! Saya juga sangat bersemangat mengaduk-aduk dengan tangan saya, sekumpulan larva dewasa dalam 2 baskom besar yang siap menjadi santapan ayam. Larva-larva berwarna gelap yang masih menggeliat-geliat membuat geli telapak tangan saya.

Sumber : instagram @adriarani

Setelah puas berkeliling, kami masih melanjutkan diskusi hingga pukul 3 sore. Wah hampir 5 jam lamanya kami menghabiskan waktu 'liburan' satu hari kami di sini. Kekhawatiran akan padatnya lalu lintas menuju Bandung yang membatasi waktu kami.

***

Senang sekali bisa berbagi dan mendapat motivasi dari Profesor Agus. Tetap berkarya dan bermanfaat tanpa mengenal usia. Kami yang masih muda-muda ini mendapat banyak dorongan semangat dari beliau dan istri. Yang paling berkesan untuk saya adalah, ide-ide dan inspirasi beliau yang hampir selalu muncul dari mengamati situasi dan petunjuk dari alam. Ya, saya sangat percaya kalau teknologi paling canggih sebenarnya sudah dirancang sedemikian rupa di alam, hanya bagaimana manusia mampu menerjemahkan dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat manusia. :)


"...(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah..." (Ar-rum:30)