Senin, 03 Februari 2020

Menyentuh Hati dengan Hati

Dua perempuan muda ini sudah beberapa kali menemui saya. "Ustadzah, nanti kami mau mengobrol ya?" Saya pasang dua jempol untuk mereka. Setelah menentukan waktu bertemu, saya pun melanjutkan aktifitas saya. Kami sama-sama sibuk. Salah satu perempuan itu adalah anak dengan segudang prestasi yang sibuknya minta ampun. Menyocokkan jadwal dengan dirinya bukan perkara mudah, meskipun kami tinggal di satu area. 

Mendekati pukul 5 sore, saya berpapasan lagi dengan mereka. Saya berikan kode untuk menunggu saya di saung. Saya boyong anak semata wayang saya ke sana. Si anak berprestasi ini membuka obrolan lebih dulu. Dirinya mau mengajukan diri menjadi ketua organisasi siswa. Ia mengajak salah seorang teman sekelasnya, yang mana tidak saya sangka akan mau ikut aktif mengikuti kampanye pemilihan ketua ini.

Menjadi ketua organisasi di sekolah tempat saya mengajar bukan perkara mudah. Karena ini adalah sekolah berasrama, seluruh tetek bengek kehidupan diurus. Rasanya memang seperti simulasi mengurus sebuah kota kecil. Mulai dari keamanan, kebersihan, kesehatan, pengembangan minat bakat, sampai urusan fasiliitas umum dikelola. Maka tentu saja tantangannya jauh berbeda dengan ketua OSIS di luar sana pada umumnya. 

Mereka mengharapkan nasehat. Saya sempat terdiam sebentar. Untungnya anak saya sedang mengantuk dan minta untuk menyusui. Maka saya bisa berbicara dengan tenang. Saya bicara apa adanya. Saya bicara berdasarkan pengalaman saya. Pesan saya, kerja ikhlas dan lakukan seluruh amanah dengan sepenuh hati. Itu saja. Pembicaraan mengalir begitu saja. Saya pun larut dalam kisah saya, bagaimana saya bisa konsisten ada di tempat saya mengajar sekarang ini.

"Rizki itu Allah kok yang mengatur. Intinya, percaya aja deh sama ayat Allah,
Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong  Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.’ (QS. Muhammad:7)
Anak-anak ini memang sudah seperti keluarga bagi saya. Cerita saya mengalir seperti air. Kedua perempuan muda ini mendengarkan dengan seksama, sesekali menuliskan poin yang mereka anggap penting. Sejujurnya, saya memang bersemangat dan menggebu-gebu sekali bercerita. Tidak ada yang saya tutup-tutupi. Di ujung cerita, tiba-tiba salah seorang perempuan muda ini menitikkan air mata. Ia adalah perempuan yang tidak pernah terbersit di bayangan saya akan menangis. Saya pun tidak terpikir sama sekali akan membuat ia tersentuh haru. Beberapa tetes air mata dan kalimat singkat darinya menanggapi cerita saya, sudah cukup membuktikan bahwa hatinya tersentuh. Allah memang maha membolak balikkan hati. Saya teringat pesan pimpinan sekolah saya,

 "Jika ingin menyentuh hati anak-anak, gunakanlah hati ketika berkomunikasi dengan mereka"

Setelah perbincangan sore ini kami sudahi, saya berjalan pulang dengan senyum lebar dan hati yang sangat lapang. Perbincangan ringan tadi sedikit banyak memberikan percikan semangat dan menampakkan sinyal dari Allah, bahwa saya harus konsisten dan lebih bekerja keras atas apa yang saya jalani saat ini. Karena anak-anak ini membutuhkan figur yang bisa membawa mereka menghadapi tantangan berat di masa depan. Saya tidak akan biarkan mereka patah semangat dan kalah sebelum bertanding dengan persaingan di luar sana nanti.

Sabtu, 03 Desember 2016

Menjadi Guru

Hujan turun rintik-rintik di luar. Angin dingin menusuk tulangku. Wangi tanah basah menggelitik hidungku. Dari kejauhan tampak muridku sedang berjalan bertiga dari arah asrama, dengan membawa tumpukan kotak makanan milik kawan seasramanya. Wajah mereka cerah. Hujan tak menyurutkan kewajiban piket mereka, meskipun perlu berjalan melintasi pondok menuju dapur umum sambil membawa payung. Sepayung bertiga.

Senyum tipis tersungging di bibirku. Ya, hal ini adalah salah satu hal yang membuatku kerasan mengajar. Bahagia itu adalah ketika aku dapat menyaksikan buah-buah didikan dari sistem pendidikan yang kami bangun bersama-sama. Buahnya mungkin belum matang betul, namun baru melihat cikal bakal tumbuhannya yang tumbuh subur, senyum lebar akan selalu menghiasi bibirku.

Anak-anak ini ibarat sebuah tanaman. Mereka dipindahkan dari potnya yang nyaman, yaitu kampung halamannya. Berat, seperti layaknya sebuah tanaman yang baru dipindahkan ke tanah yang baru. Hidupnya akan merana karena tidak terbiasa jauh dari zona nyamannya. Yang mana sebelumnya keperluannya disiapkan orang tua, makan bisa seenaknya, dan bermain bisa sesuka hati saja. Namun masuk ke tanah yang baik dengan nutrisi dan lingkungan yang baik akan mengubah  kehidupan tanaman tersebut. Seorang anak yang dicemplungkan dalam lingkungan yang baik, asalkan terus konsisten dan dirinya berjiwa pembelajar, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa.

Bagi kami para pendidik pun, hal terberat juga kami rasakan pada saat menangani benih-benih baru. Kami perlu menanamkan nilai-nilai yang mungkin asing di telinga mereka sebelumnya. Tak jarang kami habiskan waktu kami untuk sekedar menemani dan memahamkan anak yang tidak mau makan, yang merengek minta pulang, yang rindu masakan ibundanya, sampai yang bermasalah dengan temannya. Hal remeh temeh menurut orang dewasa bisa menjadi tantangan besar dalam perjalanan hidup seorang anak.

Senyum akan terus tersimpul di bibirku, setiap hari memerhatikan perubahan-perubahan kecil dari setiap anak. Gigi yang bersih, raut wajah segar, dan salam ketika berpapasan rasanya menjadi lebih dari cukup. Meskipun tak selalu kuberikan senyum manis ketika mereka melakukan kesalahan. Beberapa kalimat nasihat bernada tinggi dan tegas juga menjadi makanan mereka untuk menjadi lebih berhati-hati dalam bertingkah laku.

Itulah menjadi guru. Menjadi guru tak pernah sebersit pun terlintas dalam pikiranku sebelumnya. Kupikir aku hanya akan menjadi guru untuk anakku kelak. Namun rupanya Allah memberikan kesempatan berpuluh-puluh kali lipat lebih besar untuk berproses dalam melahirkan generasi unggul di masa depan, yang akan memegang estafetan kepemimpinan bangsa ini.

Anak-anak didikku juga guruku. Justru aku belajar banyak sekali tentang kehidupan melalui proses mendidik. Sekolah itu memang untuk belajar hidup bagi seluruh elemen di dalamnya. Baik untuk anak yang dididik, pendidik, orang tua, dan seluruh pihak yang terlibat. Percaya atau tidak, dari mengajar justru berbagai macam keahlian dan keterampilan milikku meningkat pesat, baik soft skill  maupun hard skill. Mulai dari kemampuan komunikasi, bernegosiasi, ilmu kesehatan, dan masih banyak lagi. Maklum, proses pendidikan ini berlangsung 24 jam. Hal remeh untuk membiasakan minum air putih setiap hari saja bisa jadi tantangan yang besar.

Pendidikan adalah investasi untuk jangka panjang. Aku belum tentu bisa menyaksikan keberhasilannya dalam jangka waktu dekat, tetapi keberhasilan itu pasti akan terjadi. Karena SDM adalah kunci keberhasilan dan kemajuan suatu bangsa. Selamat hari guru :)

Kamis, 29 September 2016

Lantunan Penyentil Para Pemuda

begitu banyak rintangan yang harus kita hadapi
lalu mengapa kau diam saja tak berdaya
di belia usia di masa yang paling indah
kau tampak tak bergairah

sementara yang lainnya hidup seenaknya
seakan waktu takkan pernah ada akhirnya
hanya mengejar kepentingan diri sendiri
lalu cuek akan derita sekitarnya

astaga, apa yang sedang terjadi
oh oh astaga, hendak kemana semua ini
bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli
mudah putus asa dan kehilangan arah

apa yang terjadi, hendak kemana semua ini
apa yang terjadi, sudah tak mau peduli
apa yang terjadi, hendak kemana semua ini
apa yang terjadi, sudah tak mau peduli

***

Lagu yang populer di era 90-an ini menarik perhatian saya saat telepon genggam salah seorang kawan saya berdering. Kembalilah saya di masa kecil saya, ketika mendengar lagu yang dilantunkan Ruth Sahanaya, lalu dinyanyikan ulang oleh Andien ini.

Namun momennya berbeda. Saat dulu saya masih kecil, saya belum memperhatikan lirik setiap lagu. Yang saya ingat hanya bagian "Astaga, apa yang sedang terjadi" - nya saja. Sisanya? Saya lupa sama sekali. Ditambah lagi, lagu tersebut memang bukan menyasar pada saya yang masih ingusan saat itu.

Sekarang, setelah ditilik lebih dalam, rupanya pesan dalam lagu ini sangat dalam, khususnya untuk para pemuda. Dibawakan dengan nada lebih bersemangat oleh Ruth Sahanaya, tanda sebuah peringatan, dan dengan gaya easy listening oleh Andien, tanda sebuah perenungan.

oh oh astaga, hendak kemana semua ini
bila kaum muda sudah tak mau lagi peduli
mudah putus asa dan kehilangan arah

Ayo bangun wahai pemuda!

#selfreminder

Sabtu, 20 Februari 2016

Membangun Peradaban Bersih dari Sekolah


Meskipun buahnya baru akan kita saksikan dan nikmati 10 hingga 20 tahun lebih ke depan, namun berinvestasi dalam bidang pendidikan itu adalah suatu keniscayaan. Jika ingin mengubah nasib suatu bangsa, maka mulailah dari sektor pendidikannya.

Tulisan ini adalah hasil buah pikiran dari Zahra Nur Asyifa, santri kelas X Pondok Pesantren Modern Al Umanaa (Al Umanaa Boarding School), Sukabumi

***

Dua hari yang lalu, salah satu guru di sekolah saya memperlihatkan kondisi Sungai Citarum milik Indonesia kita ini. Sungguh, sungai itu sudah tidak cocok disebut sungai air! Lebih cocok disebut sungai sampah. Beberapa kali saya berkunjung ke Jakarta, dan hal yang selalu menarik mata hanyalah betapa banyaknya sampah berserakan tanpa mengenal estetika di jalanan, di selokan, dan tempat umum lainnya. Alhasil, bencanalah yang datang, seperti banjir, yang sering terjadi di negara kita ini, sampai-sampai ada longsor sampah, yang terkenal sebagai peristiwa Leuwi Gajah yang menewaskan ratusan orang, dan bencana lainnya.  Ini menunjukkan betapa kotornya negara kita ini, betapa buruknya sistem pengelolaan sampah yang dimiliki negeri ini!
Padahal, kebersihan adalah salah satu tolak ukur tingginya peradaban suatu bangsa. Maka keberhasilan pengelolaan sampah menjadi indikator keberhasilan suatu bangsa membangun peradabannya.  Sedangkan Indonesia belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik. Oleh karena itu, saya sebagai calon pemimpin bangsa ingin mengubah kenyataan ini dengan mengajak para pembaca semua untuk membangun sistem pengelolaan sampah Indonesia dari sekarang.

Namun, ketika kita sudah memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik, kesuksesan sistem itu bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Maka, Indonesia memerlukan rakyat yang mau dan mampu mengikuti sistem pengelolaan sampah tersebut. Sebenarnya Indonesia juga telah memiliki sistem pengelolaan sampahnya sendiri. Buktinya, banyak saya temui tempat sampah organik dan anorganik di beberapa kota yang pernah saya kunjungi. Namun, karena rendahnya kepedulian SDM-SDM Indonesia, pemilahan sederhana seperti itu saja tidak berjalan dengan baik. Jadi, Indonesia perlu sumber daya manusia yang memiliki kepedulian tinggi dan pastinya berintegritas.

Untuk merealisasikannya, sekolah adalah tempat yang paling tepat. Di sekolahlah pendidikan berlangsung, di sekolahlah orang-orang dikembangkan ilmunya, disempurnakan integritasnya. Sekolah memang tempat yang tepat untuk melahirkan SDM-SDM berkualitas, SDM-SDM yang memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan, SDM yang mau dan mampu mengelola sampahnya. Karenanya, sekolah pasti dapat menjadi solusi bagi permasalahan sampah Indonesia.


Pemilahan sampah di Al Umanaa

Contohnya sekolah saya sendiri, Al Umanaa. Kami selalu ditanamkan pemahaman bahwa “Kebersihan itu Sebagian dari Iman”, sehingga siswa-siswi di sekolah saya takut jika membuang sampah sembarangan.  Sekolah saya telah memulai pengelolaan sampahnya sendiri. Sampah kami pilah menjadi enam jenis, compostable (sampah mudah terurai), recyclable (sampah yang dapat didaur ulang), sanitary waste (sampah medis), hazardous waste (sampah berbahaya), trash (sampah yang tidak dapat didaur ulang), dan paper (kertas). Sampah kertas selanjutnya kami olah menjadi kertas daur ulang (recycle paper). Sistem pemilahan enam jenis ini baru kami mulai Januari 2016. Sebelumnya kami hanya memilah sampah menjadi dua jenis, yaitu organik dan anorganik. Alhamdulillah, sistem ini berhasil dijalankan dengan sempurna oleh siswa-siswinya hanya dalam rentang waktu satu minggu. Ini disebabkan karena kami berada dalam sistem pendidikan yang baik. Setiap kesalahan pasti akan ditegur dan dievaluasi secara langsung. Hal ini menyebabkan kami terbiasa untuk membuang sampah dengan benar. Kami pun terdorong untuk memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, seperti motto kami “Kami tinggal di bumi, dan kami mencintainya. Maka, mari menjaganya!” 

Jadi, saya sangat yakin bahwa lembaga pendidikan adalah tempat yang benar-benar tepat untuk memulai sistem pengelolaan sampah yang baik. Insya Allah, jika semua sekolah di Indonesia telah melakukan pendidikan sampah pada siswanya, maka rumah-rumah, kantor-kantor, dan tempat-tempat umum pun akan mengelola sampahnya dengan baik. Karena sekolahlah yang menentukan kualitas masyarakat suatu bangsa. Alhasil, Indonesia dapat menjadi negara yang beradab! Negara yang maju dan bermartabat!

Tulisan ini dikutip dari : http://www.alumanaa.com/?p=634

Rabu, 13 Januari 2016

Ilmu dari Alam

Saya adalah anak yang dilahirkan dan dibesarkan di sebuah kota. Segala akses kemudahan teknologi di kota besar sudah saya cicipi. Dari aktivitas saya sejak kecil hingga kuliah, keluarga saya menilai bahwa saya memang senang bermain di alam. Saat itu, saya mengamini hal tersebut. Namun saya definisikan bermain, belajar, dan mencintai alam sesuai dengan pengalaman saya saat itu. Dari kecintaan saya berjalan-jalan ke alam bebas, aktivitas outdoor tanpa khawatir warna kulit menjadi gelap, dan aktivitas saya di bidang pelestarian lingkungan, saya merasa bahwa diri saya sangat mencintai alam ciptaan-Nya ini, dan ingin banyak dekat dengan alam. 

Berpindah kota ke Bandung saat kuliah adalah sebuah kemahalan bagi saya ketika bisa mendapatkan bahwa menemukan daerah pepohonan yang masih hijau tidak sulit di sini. Bahkan jika disempatkan, saya bisa menikmati setiap akhir pekan saya untuk ‘dekat dengan alam’. Sampai saat itu, saya masih merasa bahwa saya memang mencintai alam ini.
Tak kenal maka tak sayang
Di detik ini, saya harus katakan bahwa saya salah mengenali diri saya. Saya tidak pernah benar-benar mencintai alam ini. Bahkan saya hanya menjadikannya sebuah ‘hiburan’ di tengah kesibukan saya yang lain, sebagai pemanis di tengah kesuntukan saya, dan sebagai latar indah di balik foto-foto saya. Saya tidak sedikitpun menghabiskan keringat dan pikiran dalam hidup saya dengan pertanyaan seperti : “Darimana makanan saya berasal? Bagaimana cara saya mengelola alam agar saya dan generasi selanjutnya bisa menghasilkan bahan makanan seperti ini?”. 

Alam menjadi tanggung jawab manusia untuk dikelola dengan bijaksana, sebagai pemenuhan kebutuhan seluruh umat manusia.
Saya mengatakan bahwa saya punya kegelisahan dengan masalah banyaknya sampah sisa makanan justru lebih kepada khawatir akan permasalahan sampah yang membludak di kota, di mana justru sense yang terbangun seharusnya lahir dari akar masalah bahwa proses pembuatan makanan itu panjang dan tidak seharusnya kebutuhan primer ini disia-siakan. Poin kedua saya katakan dan saya amini setiap saya terlibat dalam diskusi dengan kawan-kawan yang memiliki kepedulian di bidang pangan, namun lagi-lagi saya harus katakan bahwa saya sejujurnya tidak paham bagaimana sebenarnya ‘proses produksi makanan yang panjang’ itu. Saya tidak benar-benar mengenal langsung hingga saya merasakannya sendiri. Tak kenal maka tak sayang benar-benar saya resapi maknanya di detik ini.
Alam itu cerminan kehidupan manusia
Ini yang sangat mahal. Belajar dari alam yang saya kenal dulu sempit sekali. Mempelajari tingkah laku dan pertumbuhan makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan hanya sebagai sebuah hafalan tidak bermakna. Sesekali menjadi wawasan untuk bekal pemanfaatannya dalam kehidupan manusia. Namun rupanya ada pelajaran dan makna yang sangat berharga dari alam. Bagaimana Sang Pencipta mendesain pertumbuhan sebuah tanaman, cara hidup masing-masing jenis hewan, semuanya adalah refleksi dari kehidupan manusia yang patut diambil pelajaran. Sebagai contoh adalah bagaimana seekor elang hidup dalam tulisan saya di sini. Dan bagaimana memahami etos kerja yang paling unggul dari seekor lebah. Bahkan dari melihat proses pertumbuhan semua makhluk ciptaan-Nya, kita akan tersadar bahwa segala sesuatu itu perlu proses dan yang instan bukan sesuatu yang sehat, baik secara fisik maupun psikologis.

Sebuah tanaman yang berasal dari benih akan menjadi tunas, lalu diletakkanlah ia di dalam pot kecil. Tanaman itu diberikan nutrisi yang sama dengan kondisi lingkungan yang sama di dalam sebuah pot. Namun pada saatnya, ia tumbuh besar dan semakin besar. Jika tidak dipindahkan, ia akan mati. Kalaupun ia bisa tetap tumbuh di dalam pot tersebut, namun terbatas. Terbatas dari segi pertumbuhan, maupun manfaatnya. Namun lain ceritanya ketika tanaman tersebut kita pindahkan ke tanah yang baik, ke lahan baru yang lebih luas, tumbuhnya akan semakin besar dan manfaatnya akan semakin banyak. Jangan kaget ketika di awal perpindahan, tanaman tersebut akan tumbuh merana terlebih dahulu. Namun setelah itu, ia akan menjadi besar dan bisa berkembang memberikan manfaat yang jauh lebih besar. Seperti halnya manusia. Sudah kodratnya untuk dilepaskan dari zona nyamannya, kampung halamannya, lingkungan di mana ia dimanja, untuk menjadi orang yang besar. Meskipun di awal perpindahannya akan sakit rasanya, namun itu sudah menjadi fitrah dan hal yang biasa. Seperti seekor elang yang harus melewati fase sakit luar biasa untuk menjadi hewan yang kuat.

Saya belum lama keluar dari pot itu. Namun tidak ada kata terlambat. Meskipun begitu, tunas muda itu akan lebih besar manfaatnya ketika dikeluarkan di saat muda. Pendidikan yang dekat dengan alam itu harus dimulai dari sedini mungkin. Di situlah peran besar orang tua. Seperti sebuah induk tanaman yang melepas bagian tunas mudanya agar bisa berdiri sendiri dan tumbuh besar.
Manusia itu sudah kodratnya didekatkan dengan alamnya. Semakin kenal dirinya dengan apa yang diciptakan-Nya, maka akan semakin kenal pula dirinya pada penciptanya.

Sabtu, 11 April 2015

Al-Umanaa : Sekolah = Belajar Hidup

Pendidikan, dalam bahasa Arab adalah Tarbiyah, akar katanya berasal dari kata Rabb yang mengandung berbagai macam makna, yaitu di antaranya mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara.

Kilasan pemaknaan pendidikan ini mengawali kekaguman saya terhadap sekolah yang satu ini. Al-Umanaa. Dengan pemaknaan tersebut, sekolah ini memiliki prinsip 
Sekolah adalah belajar hidup, tamat sekolah harus dapat hidup, bukan baru mulai belajar hidup.
Ya, dari sekolah, seseorang harus siap menghidupi dirinya sendiri dan mampu mengelola alam sebagai salah satu unsur penting dalam memenuhi penghidupan itu. 

***

Perjalanan saya dan tim FOODLAP ; Anka, Ridho, Rizan, dan Eva dimulai dari keberangkatan pukul 4.30 pagi untuk menghindari kemacetan arus Bandung-Sukabumi. Sejak tahun 2014, Al-Umanaa berdiri di atas lahan seluas 8 hektar di tanah Kabupaten Sukabumi. Pukul 9.00 kami tiba di kawasan Al-Umanaa yang sejuk dan asri. Kami disambut hangat oleh pengurus Al-Umanaa, yang salah satunya adalah kawan kami, Mahdi. Ditemani secangkir teh manis hangat, perkenalan tentang sekolah ini diawali. 

Selamat datang di Al-Umanaa!
Gedung sekretariat merangkap gedung serbaguna
Pada saat kami berkunjung ke sana sedang berlangsung pekan bahasa Arab. Berbekal kemampuan bahasa Arab kami yang masih level awal, kami hanya mampu memahami sepotong demi sepotong percakapan antar penghuni Al-Umanaa dan mengucapkan syukron (terima kasih) ketika diberikan sesuatu. Hehehe. Dari pengamatan saya, seluruh murid dan pengajar mampu berkomunikasi fasih dengan bahasa arab. Ternyata sistem pekan bahasa ini diberlakukan pula untuk dua bahasa resmi lainnya, yaitu bahasa jepang dan bahasa inggris. Kemampuan bahasa ini diasah dalam aspek dasar membaca, menulis, dan berbicara.

Kemampuan berbahasa hanyalah satu dari sekian banyak materi yang ditanamkan di Al-Umanaa untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan perkembangan dunia saat ini. Al-Umanaa percaya bahwa pengembangan SDM adalah kunci keberhasilan suatu bangsa untuk meningkatkan seluruh aspek lainnya. Selain menanamkan teori-teori seperti di kebanyakan sekolah lainnya, sekolah ini memberikan praktek nyata di lapangan. Kemampuan dasar lainnya adalah kemampuan dalam pengembangan pertanian dan peternakan yang menyokong kebutuhan primer manusia yaitu pangan. Kunci keamanan suatu negara tanpa pengaruh kondisi ekonomi di luar adalah kesiapan bahan baku pangannya. 

Dari keterampilan pertanian dan peternakan itu pula dikembangkan kemampuan berwirausaha. Pendidikan untuk menghidupi diri secara mandiri benar-benar lengkap diberikan di sekolah ini! Rupanya praktek pertanian organik dan peternakan ini juga memiliki pesan penting dalam memilih asupan makanan sehari-hari. Asupan makanan alami dan bergizi sudah menjadi pilihan utama seluruh murid dan pengajar Al-Umanaa. Di kala kondisi bahan makanan kita yang penuh dengan pengawet dan bahan penyedap, mereka mampu memilih dan mengelola makanan sehatnya sendiri!


salah satu sudut Integrated farming
Sudut Al-Umanaa
Salah satu prinsip pendidikan yang paling saya kagumi di sini adalah keteladanan. Bagi seluruh pengajar Al-Umanaa, hal ini sudah menjadi prinsip. Ketika mengatakan sesuatu, maka diri sendiri harus melaksanakannya. Begitu pula halnya di murid-murid. Bagi siapa saja yang maju sebagai pemimpin, maka ia harus mampu memberikan teladan, baik secara ilmu, perbuatan, hingga stamina fisik. Maka jangan heran kalau ketua murid (sejenis OSIS) di sini adalah sosok yang pintar, berakhlak, sehat, dan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan lapangan seperti mencangkul dan beternak!

Konsep-konsep pendidikan ini rasanya kurang afdol kalau dibuktikan sendiri. Dari pengalaman kami menginap satu malam, kami berhasil mendapatkan bukti-bukti nyata hasil pendidikan Al-Umanaa. Mulai dari interaksi dengan pengajar, beberapa murid yang sangat santun, hingga orang tua murid, kami mendapatkan bukti yang sangat nyata bahwa konsep pendidikan Al-Umanaa memang keren sekali! Hal ini pun diamini oleh seluruh orang tua yang sempat kami temui. Mereka mengaku takjub dengan perubahan positif anak-anaknya setelah melalui beberapa waktu di Al-Umanaa. 

Puncaknya adalah saat kami mendapatkan kesempatan untuk melihat penampilan beberapa murid di kelas yang menunjukkan kepiawaiannya dalam berpuisi, bercerita, pidato, bermain drama, alat musik, dan lain-lain. Sebagian besar masih duduk di bangku 1 SMP, di mana di saat itu juga kami benar-benar dibuat kagum sekaligus malu dengan kemampuan kawan-kawan Al-Umanaa yang jauh di atas kami pada usia itu. Dalam benak saya, saya yakin sekali kalau mereka adalah bibit-bibit unggul yang siap berada di garda depan pembangunan Indonesia, sekalipun kita akan melalui persaingan yang sangat ketat dengan bangsa lain.

Salah satu penampilan murid-murid Al-Umanaa
Bukti nyata lainnya adalah hasil karya murid dalam pembentukan konsep integrated farming. Mulai dari pengolahan sampah dapur dengan black soldier flies, peternakan lele, ayam, kambing, soang, kebun sayur dan buah, serta uji coba peternakan lebah. Setiap bentuk pengembangan di area ini diprakarsai oleh murid-murid sendiri, yang tergabung dalam kelompok penelitian dan pengembangan. 

Keaktifan murid-murid dalam praktik di lapangan dan keinginannya yang sangat kuat untuk belajar juga ditunjukkan pada saat kami sempat mendapat kesempatan untuk berbagi mengenai black soldier flies di kelas setelah usai shalat subuh. Di momen itu, seluruh murid mendengarkan setiap ada yang berbicara dengan sangat baik, sebuah hal yang sangat jarang saya temui saat ini, baik oleh orang dewasa sekalipun. Selain itu muncul pula beberapa pertanyaan jenius hasil praktik mereka di lapangan yang membuat diskusi menjadi semakin hangat. 


Diskusi penerapan black soldier flies yang difasilitasi Rizan
Foto bersama setelah diskusi
Sayangnya waktu kami di sana hanya semalam saja. Setelah sarapan dan menikmati air kelapa muda dari pohon sendiri, kami sempat berbincang kembali dan mendapat suntikan-suntikan semangat. Optimisme kami semakin tersulut. Perjalanan pulang yang memakan hingga 6 jam pun tidak terasa karena rasa puas dan energi hati yang kembali terisi penuh!

Ini adalah bukti penerapan pendidikan yang sebenar-benarnya untuk menyiapkan SDM Indonesia menembus tantangan-tantangan di masa depan!


Jumat, 09 Januari 2015

Bermain Ke Markas Komandan Lalat

(Sumedang, 25/12) Setelah melewati hampir 3 jam perjalanan dari Bandung dan melewati ramainya arus lalu lintas pantura, sampai juga kami di kaki Gunung Tampomas, Sumedang Utara. Tanggal merah ini kami agendakan untuk menemui Profesor Agus Pakpahan yang di tengah kesibukannya menerima kehadiran kami untuk belajar dan berdiskusi. Profesor Agus ini belakangan sering disebut-sebut sebagai 'komandan lalat' yang ramai di media. Mulai dari media lokal hingga nasional. 

Fokus saya dan tim Foodlap dalam mencari teknologi-teknologi pengolahan sampah yang alami, mempertemukan kami dengan jenis lalat menarik yang satu ini, Black Soldier Flies (BSF). Cerita lengkap pertemuan kami dengan teknologi ciptaan Allah ini akan saya ceritakan di lain waktu. Singkat cerita, rasa penasaran kami terhadap hewan inilah yang kemudian mempertemukan kami dengan Profesor Agus.

Di depan rumah tuanya yang besar, kami disambut hangat. Obrolan kami diawali dengan perkenalan diri masing-masing, terutama kami, si anak-anak muda yang sengaja mengontak beliau untuk belajar mengenai lalat ke Profesor Agus atas penelitiannya selama 4 tahun. Kemudian dengan yakin beliau menceritakan latar belakang beliau dalam meyakini BSF sebagai solusi.

Asupan Protein Masyarakat Indonesia
"Asupan protein masyarakat kita yang senilai 13,5 gram/tahun dinilai sangat rendah, 2000 kali lebih rendah dari asupan protein warga Eropa yang rata-rata mencapai 70 gram/hari setiap orangnya."
Yang membuatnya semakin prihatin, dari sebuah buku, ia temukan bahwa tingkat IQ orang Indonesia rata-rata hanya 85. Rupanya ini sangat berkaitan dengan asupan protein yang merupakan nutrisi yang krusial dalam perkembangan otak. Kemudian Prof Agus memutar otaknya dan meyakini bahwa asupan protein tersebut utamanya disuplai oleh makanan, dengan sumber protein yang paling murah saat ini adalah ikan dan unggas. 

Masalah selanjutnya muncul. Rupanya tantangan terbesar dalam dunia peternakan adalah soal pakan. Biaya pakan memakan 70-80% biaya total pengembangbiakan ternak. Pakan di Indonesia terkenal mahal karena produk atau bahan bakunya hampir 90% impor. Beliau juga menyatakan bahwa salah satu penyebab pemanasan global adalah emisi gas buang tranportasi. Salah satu faktor pendorongnya adalah tingginya arus transportasi untuk pengangkutan pakan yang jauh-jauh harus diimpor. Lebih parahnya lagi, pakan tersebut merupakan hasil pemrosesan pabrik yang kandungannya tidak segar lagi. Prof Agus sendiri mengakui bahwa betapa pentingnya pemberian pakan segar dan alami untuk hewan ternak yang nantinya akan disantap oleh manusia


Masalah Protein + Sampah = Black Soldier Flies

Rentetan masalah tersebut mengasah ide beliau untuk berinovasi mencari tahu alternatif pakan yang tinggi protein, mudah, dan murah. Beliau memulai eksplorasinya pada tahun 2010. Faktor penting lainnya yang menjadi dasar pertimbangan beliau dalam melakukan eksplorasi adalah faktor iklim Indonesia yang dilalui garis khatulistiwa, sehingga memiliki karakteristik hot, wet, dan humid. Pilihan beliau jatuh pada jenis serangga lalat, namun bukan seperti lalat rumah kebanyakan. Saya sendiri mengakui bahwa jenis Black Soldier Flies ini mempunyai berbagai macam kelebihan dan karakteristik mencengangkan yang memang didesain secara alami membantu manusia.

Profesor Agus menambahkan poin konsep dalam pengelolaan sampah. Selain 3R (reduce, reuse, recycle), beliau menambahkan recreate dan revalue. Jadi bagaimana dalam pengolahan sampah ini bisa menghasilkan sumber daya baru dan meningkatkan potensi nilai dari sampah itu. Proses pengolahan menggunakan BSF ini berpotensi pemanfaatannya dalam berbagai bentuk, yaitu : protein yang dimanfaatkan untuk pakan, biostimulan, hasil sekresi larva untuk bahan pupuk cair, dan sisa-sisa kepompong dan bangkai lalat yang memiliki kandungan citosan. 

Transformasi sampah menjadi ayam

Setelah mengobrol panjang sebagai pengantar awal, kami diajak untuk menengok 'kandang lalat' beliau. Letaknya tidak jauh dari rumahnya, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun kami sama-sama menggunakan mobil untuk mempersingkat waktu. Sampailah kami di kandang lalat beliau. Tempat pengembangbiakan yang mampu mengolah 400-600 kg sampah per hari ini memiliki beberapa bagian. Pertama, rearing house yang merupakan kandang lalat untuk lalat tumbuh dan bertelur. Di kandang sederhana ini berkeliaran lalat-lalat hitam dan hinggap di jaring-jaring dan permukaan dedaunan di dalamnya.

Kedua, reactor house yang merupakan ruang larva, di mana di tempat inilah sampah diolah oleh ratusan ribu larva kelaparan. Kami dibuat terkagum-kagum dengan rentetan penjelasan dari Profesor Agus dan proses pengolahan sampah yang dilakukan oleh sekelompok larva lalat ini. Mata saya berbinar ketika melihat penuh dan ramainya belatung di antara sampah-sampah yang menjadi santapan mereka. Menariknya, area ini sama sekali tidak tercium bau busuk sampah. Hal ini dikarenakan sampah terolah secara cepat oleh si larva. Setiap hari 400-600 kg sampah pasar Sumedang dan isi rumen sapi di masukan ke dalam reaktor-reaktor berisi larva dan akan habis hari itu juga. Larva yang sudah dipanen disimpan di satu ruangan tersendiri, dan siap menjadi makanan segar untuk ayam-ayam yang dipelihara. Ya, tempat pengembangbiakan BSF ini terintegrasi dengan kandang ayam milik beliau. 

Atas idealisme Profesor Agus, ayam-ayam ini ditumbuhkembangkan secara alami. Tanpa vaksin dan asupan makanannya hanya dengan larva BSF dan dedak. Balai Penelitian Peternakan yang sempat mampir ke tempat beliau sempat melakukan pembedahan pada ayamnya dan terbukti sehat. Daya tahan tubuh ayam tergolong lebih kuat dari ayam lain dengan pakan pabrikan biasa. 

Teknologi ciptaan Tuhan memang keren sekali! Saya juga sangat bersemangat mengaduk-aduk dengan tangan saya, sekumpulan larva dewasa dalam 2 baskom besar yang siap menjadi santapan ayam. Larva-larva berwarna gelap yang masih menggeliat-geliat membuat geli telapak tangan saya.

Sumber : instagram @adriarani

Setelah puas berkeliling, kami masih melanjutkan diskusi hingga pukul 3 sore. Wah hampir 5 jam lamanya kami menghabiskan waktu 'liburan' satu hari kami di sini. Kekhawatiran akan padatnya lalu lintas menuju Bandung yang membatasi waktu kami.

***

Senang sekali bisa berbagi dan mendapat motivasi dari Profesor Agus. Tetap berkarya dan bermanfaat tanpa mengenal usia. Kami yang masih muda-muda ini mendapat banyak dorongan semangat dari beliau dan istri. Yang paling berkesan untuk saya adalah, ide-ide dan inspirasi beliau yang hampir selalu muncul dari mengamati situasi dan petunjuk dari alam. Ya, saya sangat percaya kalau teknologi paling canggih sebenarnya sudah dirancang sedemikian rupa di alam, hanya bagaimana manusia mampu menerjemahkan dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat manusia. :)


"...(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah..." (Ar-rum:30)


Senin, 15 Desember 2014

Bang Onte : Kuantita Kejiwaan Dari Alam


(Bandung, 13/12) Simpul Space BCCF pagi itu diwarnai dengan gelak tawa sekumpulan orang yang asik mendengarkan celotehan Bang Silverius Oscar Unggul (43), yang akrab disapa Bang Onte. Social Inovators Talk ke 4 kali ini mengundang beliau untuk berbagi kisahnya dalam membentuk internal organisasi yang kuat. Selama hampir 2 jam lamanya kami diasupi cerita-cerita perjuangan Bang Onte dan 8 kawannya dalam membangun visi menyelamatkan hutan Indonesia.

Bang Onte, pria kelahiran Kendari Sulawesi Tenggara ini adalah peraih Social Entrepreneur of The Year 2008, Ernst & Young, Schwab Foundation. Berawal dari perjuangannya di masa kuliah sebagai seorang pecinta alam, beliau dan kawan-kawannya membentuk organisasi Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) di kampusnya. Dari tempaan dan persahabatannya yang begitu erat dengan alam, Bang Onte benar-benar dimanjakan dengan warga-warga di pelosok Indonesia yang begitu baik. Sampai akhirnya Bang Onte berkesimpulan bahwa orang-orang akan berperilaku baik seiring dengan alamnya yang masih terjaga. Maka tidak heran ketika alam rusak akan berpengaruh negatif pada masyarakat di sekitarnya.

Bagaimana cara membantu orang-orang yang alamnya masih baik?
Bagaimana mengembalikan alam yang sudah rusak?

Yayasan Pecinta Alam (Yascita)

Sambil menahan geli, peraih Skoll Award for Social Entrepreneurship 2010 ini menceritakan asal muasal terbentuknya LSM buatannya dengan 7 kawannya. Ia melihat senior-senior kuliahnya yang sudah lulus bolak-balik menraktir makan ketika main ke kampus. Ditanya kerja apa, katanya di LSM. Bang Onte berkesimpulan :

Oh, kerja di LSM banyak duitnya

Dengan motivasi menyelamatkan alam dan gambaran finansial LSM yang menggiurkan,  tahun 1995 dibentuklah Yascita oleh 8 orang nekat ini. Rupanya setelah menjalani bidang pekerjaan di LSM yang mereka bentuk, angan-angan tentang LSM di awal buyar seketika. Selama 4 tahun mereka mencoba bertahan dalam kesempitan. Tetapi setiap merasa kesulitan, mereka akan kembali ke alam. Mereka percaya, bahwa alam akan membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh. 


Dari alam, Bang Onte mendapat pelajaran besar berupa kuantita kejiwaan : semangat pantang menyerah, semangat rela berkorban, semangat kebersamaan, dan semangat kekeluargaan.

Di sela-sela waktu, Bang Onte menggunakan berbagai cara untuk tetap menumbuhkan semangat timnya, di mana salah satunya adalah menuliskan target dan optimisme di papan setiap awal bulan, meskipun pada akhirnya seringkali target tersebut tidak berbuah hasil. 

Akhirnya setelah penantian 4 tahun, Yascita mendapatkan proyek pertama mendokumentasikan foto hutan yang rusak. Tidak puas dengan yang dikerjakan, Bang Onte sempat sampai di titik hampir putus asa. Namun niatnya dibatalkan oleh kejadian kebetulan yang menyadarkannya bahwa meninggalkan warisan harta itu jauh tidak seberapa dibanding meninggalkan nama baik. Itulah yang dilakukan ayah Bang Onte dalam menjalankan amanahnya di kantor pemerintahan.


Radio dan TV lucu-lucu

Berpikir di tengah kondisi yang susah akan menumbukan kreativitas yang luar biasa! Pengalaman yang menjadi sentilan kecil itu menumbuhkan semangat dan ide besar. Karena sulitnya menyebarkan informasi lewat media massa pada zaman itu, di tahun 2000 8 orang ini beride gila membangun sebuah radio, Radio Swara Alam namanya. Pemancarnya dikaitkan ke pohon. Makin lama makin tinggi pemancarnya seiring dengan tumbuhnya pohon. Tapi jangan kaget kalau musim hujan tidak bisa siaran karena pemancarnya ikut tergoyang angin ribut. Berawal dari 10 pendengar hingga akhirnya berkembang dan menimbulkan ide baru untuk membangun stasiun TV pada tahun 2002. 

Kendari TV dijuluki sebagai "TV Lucu-Lucu" karena pengemasannya tidak seperti layaknya TV lain. Ketika sudah mampu menjadi perusahaan radio dan TV, Bang Onte dengan bangga mengundang para LSM untuk studi banding. Melihat kesederhanaan stasiun radio dan TV itu, mereka dicemooh. Namun rupanya Bang Onte punya alasan mengapa stasiunnya yang tampak "main-main" itu menjadi sasaran studi banding.

"Supaya kawan-kawan optimis bisa bikin seperti kami-kami ini. Kalau lihat stasiun TV besar, pulang-pulang nggak akan jadi bikin karena sudah keburu takut duluan dengan peralatan mahalnya" ujarnya.

Alhasil benar saja. Dari kunjungan tersebut, lahirlah stasiun TV lokal seperti Bengkulu TV dan lainnya. Dari stasiun-stasiun TV lokal tersebut, dibentuklah Asosiasi Televisi Kerakyatan Indonesia. Penikmat Kendari TV awalnya hanya 7 KK dan berkembang hingga dinikmati 8000 KK. 

Pada titik itu, Bang Onte dan kawan-kawan merenungkan kembali visi yang ingin mereka raih. Akhirnya tahun 2011 mereka menjual Kendari TV yang bernilai 12 Milyar (modal awal hanya 300 juta) dan Bengkulu TV yang bernilai 9 Milyar ke Kompas, dengan saham 40% masih dipegang oleh mereka. Demi mencapai visi bersama, didirikanlah TELAPAK yang masih bertahan hingga saat ini. TELAPAK adalah bentuk penggabungan LSM-LSM di Indonesia yang memiliki visi yang sama. 

Kunci Keberhasilan Tim

Yang berhasil membuat kami terkagum-kagum adalah salah satunya konsistensi 8 orang sebagai penggagas yang bertahan terus hingga saat ini. Hal itu yang menjadi teladan konkrit prinsip gotong royong, harapannya menjadi contoh bagi masyarakat yang mereka dekati. Yang mengikat mereka juga salah satunya adalah aturan main yang disepakati bersama. Misalnya dalam pembagian peran, masing-masing tidak akan campur tangan dengan bagian lainnya. Dari mulai yang jago berdiplomasi hingga peran menghibur tim, semuanya dipercayakan pada perannya masing-masing. Masalah pembagian uang, dulu dibagikan ke teman-teman yang membutuhkan. Misalnya pernah dalam cerita perjuangan di awal, ada 2 dari 8 orang ini yang mau menikah, maka 6 orang lainnya mengumpulkan uang untuk membantu kedua temannya. Untuk menghindari konlik internal, 8 orang ini rutin camping 2 minggu sekali. Ketika semakin banyak orang dalam radio dan TV, bentuknya berupa gathering 1 bulan sekali. Sekarang untuk skala TELAPAK, mereka rutin rapat besar 2 tahun sekali. 

Menariknya lagi, dalam pembagian hak secara finansial pun diatur sama rata dan gaji yang mereka terima masing-masing di luar masuk ke satu pintu. Mereka menggunakan sistem koperasi untuk mengikat  status kerjasama. Koperasi itulah yang memiliki saham di mana-mana. Menurut pengalaman Bang Onte, badan koperasi ini sangat membantu menghindari konflik internal karena hak dan kewajibannya diatur dengan sangat jelas. Selain menjunjung tinggi asas gotong royong,TELAPAK hingga saat ini yang beranggotakan 300 orang masih menggunakan sistem musyawarah, salah satunya dalam memilih pemimpin. Dalam rapat besar, orang-orang yang merasa pantas memimpin dan yang dipilih rekan-rekannya karena dianggap pantas diberikan waktu sendiri untuk menentukan siapa yang menjadi ketua di antara mereka. 

Kunci Keberhasilan di Masyarakat

Dalam bekerjasama dengan masyarakat di setiap programnya, mereka selalu belajar dari kegagaln. Salah satunya adalah tidak bergantung ke satu pihak yang dianggap sebagai tokoh masyarakat. Jika terjadi apa-apa dengan orang ini, maka program bisa bubar seketika. Kemudian proses pendekatan yang dilakukan juga unik. Selain prinsip partisipatif dengan membangun aturan bersama dengan masyarakat, pendekatannya adalah mengikuti kebiasaan masyarakat di awalnya. Kebiasaan makan bersama hingga mencuri kayu pun mereka geluti. Karena pada prinsipnya mereka percaya kalau banyak kesepakatan dan hal-hal penting yang dapat dilakukan dalam obrolan ringan di sela berkegiatan itu. Namun untuk beberapa kebiasaan negatif masyarakat, mereka strategikan untuk lama kelamaan digiring ke arah yang benar. Jika kebiasaan masyarakat yang kita rasa buruk langsung 'ditabrak' di awal, bisa-bisa kita langsung ditolak mentah-mentah. Sistem pembagian keuntungan juga dilakukan agar masyarakat merasakan timbal balik dari usahanya. Jika ada konflik, mereka menggunakan 'buku besar' yang mengatur segala aturan main-hasil kesepakatan mereka sendiri. Kunci lainnya adalah keteladanan. Delapan orang penggagas ini bertahan dengan jumlahnya dan menunjukan bukti nyata sebuah gotong royong dan koperasi.
Fokus dengan apa yang dicita-citakan. Fokus itu datangnya dari hati. Kalau memang tidak serius, lebih baik berhenti karena hanya buang-buang waktu saja!

Foto Bersama Seusai Ngobrol

Terima kasih untuk ceritanya yang sangat menginspirasi, Bang Onte! :)


Sabtu, 13 September 2014

Pesan Sang Guru


“The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.” -William Arthur Ward

Sudah lama sekali saya ingin menuliskan sedikit mengenai tokoh yang satu ini. 

Hari Kamis pagi lalu, saya menemui kembali dosen favorit, mentor, dan guru saya selama di Kampus. Dr. Ir. Tresna Dermawan Kunaefi, yang akrab disebut Pak Iwan. Seorang dosen sekaligus mantan duta besar UNESCO, yang menjunjung tinggi nilai socio-technology dan aktif di ranah pendidikan. Beliau adalah salah satu pihak yang berjasa dalam mengusahakan batik sebagai world heritage. Kecintaan beliau terhadap pekerjaan dan hobinya menginsipirasi saya sejak awal berkomunikasi dengan beliau sebagai dosen mata kuliah Infrastruktur Sanitasi, pembimbing mata kuliah kerja praktek, dan tugas akhir saya yang berkaitan dengan community based sanitation

Pesan ini selalu beliau ingatkan kepada saya, di sela-sela penyampaian harapan beliau terhadap saya menuju kesuksesan di masa depan. Maka izinkan saya menulis untuk membagi dan mengingatnya.

Bangga terhadap pekerjaanmu, 
Cintai pekerjaanmu, 
Lakukan yang terbaik pada pekerjaanmu,

Dibarengi dengan senyum lebar dan kisah beliau melewati serunya kehidupan.

Perjalanan amanah dan sepak terjang beliau yang naik turun dilakukan dengan sepenuh hati. Sudah beberapa kali beliau sampaikan ini kepada saya, setiap mendengar celotehan saya akan mimpi dan minat saya yang meledak-ledak. Harapan dan pesan selalu hadir dari beliau

Sumber : Pikiran Rakyat

Terima kasih, Pak Iwan. Semoga tetap sehat dan menginspirasi sepanjang masa!

Sabtu, 23 Agustus 2014

Empati Adalah Imunitas?

Lagi-lagi saya menemukan korelasi yang keren antara hati dan tubuh kita!

Pernahkan ketika kita sedang sibuk melakukan banyak hal rasanya seperti sehat selalu? Bahkan orang tua saya di rumah pun sampai bingung dan beberapa kali khawatir dengan kesehatan saya si anak bungsu ini. Awalnya saya pikir itu adalah efek dari pengalihan pikiran sehingga badan pun tidak terasa "sinyal-sinyal" capeknya. Maka biasanya baru terasa lelahnya atau ambruk ketika pekerjaan sudah selesai dan dalam masa rehat. 

Namun ada kalanya beberapa jenis aktifitas positif yang meskipun capeknya bukan main, tetapi badan saya baik-baik saja tuh setelah aktifitas tersebut usai. Yang saya dapatkan justru energi yang lebih meledak-ledak. Hehehe. 

Ada hal menarik yang lagi-lagi saya temukan dari temuan Gobind Vashdevh dalam buku Hapiness Inside

Korelasi empati dan imunitas tubuh

Gobind memberikan contoh seorang mendiang tokoh tersohor di dunia, Bunda Theresa. Seorang perempuan peraih nobel perdamaian karena perjuangannya bersama kaum papa. Bagaimana beliau dan rekan-rekannya bisa kebal dari penularan penyakit kusta selama begitu lamanya bersentuhan dengan pengidap penyakit menular ini? Kemudian saya jadi mengingat bagaimana para relawan-relawan selama ini baik-baik saja dalam misi menolong korban, baik dari penyakit menular, bencana, atau di permukiman kumuh yang katanya menjadi sumber penyakit? Kondisi terjepit tersebut mengakibatkan para relawan tidak sempat mengonsumsi makanan dan istirahat teratur. Secara nalar, hal ini sangat tidak mungkin.

Informasi setelahnya sangat mencengangkan dan membuat saya merinding.
Seorang psikolog dari Harvard, David McClelland dan Carol Kirshnit telah melakukan penelitian tentang hubungan antara empati dan kekebalan tubuh, melalui pengecekan air liur penonton film-film yang mengundang empati. Hasilnya luar biasa. Peningkatan empati berkorelasi positif terhadap kenaikan tingkat Immunoglobulin A (IgA).
Saya lagi-lagi harus katakan bahwa saya merinding dibuatnya. Saya sebarkan ke beberapa teman terdekat mengenai informasi luar biasa ini. Bahwa betapa hebatnya tubuh kita merespon kebaikan, empati, dan nilai berbagi kepada sekitar kita. Terjawab sudah pertanyaan saya. Itulah mengapa pemimpin-pemimpin hebat di negeri kita ini seperti tidak ada lelahnya, dan orang-orang mulia di sekitar kita seperti tidak pernah habis energinya. Karena mereka benar-benar berempati untuk sesama. :)



Jumat, 22 Agustus 2014

Media dan Saringan Diri

Tulisan mengenai fenomena paparan dan arus media yang terjadi saat ini sebenarnya sudah lama sekali ingin saya tuliskan. Mulai dari berita, sarana hiburan, hingga iklan dalam berbagai bentuk media menggelitik saya untuk mengamati fenomena yang terjadi atas akibat yang ditimbulkan olehnya. Namun hanya tersimpan dalam pikiran dan belum terpikirkan banyak hal untuk disampaikan hingga saya menemukan beberapa yang menarik.

Kemudian saya seperti seakan diingatkan kembali mengenai hal ini ketika dipinjamkan buku Happiness Inside karya Gobind Vashdev, yang menyebut dirinya sebagai heartworker. Izinkan saya mengutip dan menuliskan kembali beberapa poin menarik yang saya serap dari buku inspiratif ini, dan saya elaborasikan dengan sumber lainnya. 

Manusia dan Air

Mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita mengenai keajaiban yang terjadi dalam pengaruh struktur molekul dalam air terhadap respon hal-hal yang diterimanya, mulai dari kata-kata, lagu, bahkan tulisan di dekatnya. Penelitan yang telah menggemparkan dunia ini dilakukan oleh Dr. Masaru Emoto dari Jepang dengan pengamatan melalui mikroskop. Pembentukan kristal yang terjadi dalam air menunjukkan respon terhadap hal-hal positif seperti kata-kata yang baik, doa, dan alunan musik yang menenangkan.

Melihat hasil penelitian tersebut, maka menjadi logis kaitannya dengan perilaku manusia. Bicara mengenai air, kurang lebih 2/3 kandungan dalam tubuh manusia adalah air. Sama halnya dengan hakikat air yang disebutkan di atas, bahwa jika tubuh kita terpapar hal-hal yang baik, maka sebagian besar dari tubuh kita akan merespon dengan baik pula. Begitu pun sebaliknya yang terjadi pada hal-hal yang buruk.

Penularan Perilaku

Bukan hanya penyakit fisik yang bisa menjadi wabah. Rupanya segala bentuk perilaku juga bisa mengalami hal serupa. Kekhawatiran dan kecurigaan saya berawal dari banyaknya tayangan dan informasi negatif terkait tindakan kriminal, bahkan film-film berbau sadis tersebar bebas ke publik, yang mengakibatkan meningkatnya pula tindakan kriminal di dunia nyata. 

Rupanya kekhawatiran saya terjawab. Penelitian  telah dilakukan oleh David Philips dari University of California, San Diego mengenai korelasi positif antara pemberitaan di media mengenai kejadian bunuh diri dan tingkat bunuh diri yang terjadi di wilayah tersebut. Selain itu penelitian ini juga dibuktikan oleh Malcolm Gladwell yang mengamati fenomena di Mikronesia mengenai peningkatan kejadian bunuh diri hingga 7 kali lipat dengan cara yang hampir serupa, setelah 1 kejadian bunuh diri yang diberitakan media massa setempat.

Yang saya sampaikan di atas mungkin lebih kepada kekhawatiran untuk perilaku ekstrim. Untuk membuktikan fenomena penularan paling sederhana di sekitar kita, coba kita perhatikan tren yang dibentuk oleh media, atau kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan oleh teman di sekeliling kita yang membuat kita melakukan hal yang sama. Alam bawah sadar kita terbukti merespon apa yang kita dengar, lihat, dan rasakan.

Saringan Diri
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra :36)
Dengan kepungan media yang terjadi saat ini, mau tidak mau kita sendiri yang harus "membentengi" diri dan menciptakan lingkungan yang baik di sekitar kita. Adalah sepenuhnya hak kita secara sadar untuk merespon hal-hal yang kita terima. Ada sebuah kisah menarik yang ingin saya kutip mengenai "saringan pikiran".

Pada jaman Yunani kuno, Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanaannya yang tinggi. Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan berkata, "Tahukah Anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman Anda?"
"Tunggu sebentar," jawab Socrates. "Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin Anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut dinamakan Ujian Saringan Tiga Lapis."
"Saringan Tiga Lapis?" tanya pria tersebut.
"Betul," lanjut Socrates," sebelum Anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Lapis."
" Saringan yang pertama adalah KEBENARAN. Sudah pastikah Anda bahwa apa yang akan Anda katakan kepada saya itu benar?"
"Tidak," kata pria tersebut. "Sesungguhnya saya hanya mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada Anda."
"Baiklah," kata Socrates. "Jadi Anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak."
"Sekarang mari kita coba saringan kedua, yaitu KEBAIKAN. Apakah yang akan Anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik?"
"Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk."
"Jadi," lanjut Socrates, "Anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi Anda tidak yakin jika itu benar. Anda mungkin masih dapat lulus ujian selanjutnya, yaitu KEGUNAAN. Apakah cerita yang Anda ingin beritahu kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?"
"Tidak, sungguh tidak," jawab pria tersebut.
"Jika begitu," simpul Socrates, "Jika apa yang akan Anda beritahukan kepada saya itu tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, mengapa Anda ingin menceritakannya kepada saya?"

Kisah di atas sebenarnya tepat sekali direnungkan oleh kita yang bisa mendapati kondisi diri kita sebagai penerima atau pemberi informasi. Sebagai penerima, ada beberapa informasi yang mungkin tidak dapat terhindarkan untuk kita terima, namun kita berhak memilih dan memilah mana yang baik untuk diresapi oleh diri kita. Tidak kalah penting halnya untuk ikut menjaga lingkungan terdekat kita dari "penularan perilaku" negatif melalui paparan media tersebut, khususnya terhadap anak kecil.

Bukan hanya sebagai penerima informasi yang harus pintar, tetapi juga si pemberi informasi. Sesuatu yang seharusnya paling dapat kita kontrol adalah sebagai pemberi. Meskipun saat ini media sosial memberikan hak kepada kita untuk seluas-luasnya menyebarkan atau menginformasikan sesuatu, alangkah lebih indahnya kalau kita mengambil waktu sejenak untuk memikirkan efek yang akan diterima oleh orang-orang di sekeliling kita sebagai si penerima. Tentunya masing-masing dari kita mengharapkan sekitar kita mendapatkan penularan hal-hal yang positif :)

Rabu, 28 Mei 2014

Desa Mulyo Agung : Sampah Menjadi Berkah

24 Mei 2014, Kabupaten Malang.

Kebiasaan masyarakat Indonesia menyikapi sampahnya adalah bagaimana menyingkirkan ‘masalah’ itu sejauh-jauh dan sesegera mungkin. Namun lain ceritanya dengan masyarakat Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang Jawa Timur. Dari sampah menjadi berkah. 

Akibat sampah, desa yang dilewati Kali Brantas ini awalnya hampir menjerumuskan kepala desanya pada tahun 2007 ke peradilan. Desa yang menghasilkan sampah hingga 30 meter kubik per hari ini sebelumnya terbiasa menggelontor sampahnya langsung ke Kali Brantas, hingga dikecam oleh pemerintah kebuapaten setempat karena dinilai sebagai salah satu penyebab utama pencemaran Kali Brantas.

Mulai tahun 2008 Desa Mulyo Agung mendapatkan hibah bahwa sampah harus dikelola. Tahun 2009 dimulai dengan dilakukan pembebasan lahan untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah (TPS) seluas 2000 meter kubik. TPS yang berdiri pada tahun 2010 ini mulai berani dioperasikan oleh masyarakat pada tahun 2011. 

Pak Supadi, Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat
Awal berdirinya TPS pada 4 bulan pertama menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat bahkan pengurus harus menelan caci maki. Hal ini dipicu oleh timbulnya bau yang diakibatkan proses pengelolaan yang belum sempurna serta adanya lalat dan belatung. Pak Supadi dan tim tidak kehabisan akal. Berawal dari mencoba memanfaatkan ayam untuk menyantap habis belatung-belatung yang timbul, pengurus mencoba membangun beberapa kolam yang berisikan ikan lele dan nila. Rupanya belatung dengan protein yang sangat tinggi ini sangat potensial untuk budidaya ikan. 


Kolam budidaya ikan sebagai salah satu alternatif dalam pemanfaatan sampah
Sampah yang saat ini berjumlah 64 meter kubik ini dihasilkan oleh 7800 KK yang terdaftar sebagai pelanggan. Peningkatan jumlah pelanggan hingga dua kali lipat terjadi setelah TPS berjalan 3 tahun lamanya. Pengelolaan sampah yang dilakukan hanya menyisakan residu sejumlah 16% dari keseluruhan sampah yang masuk, untuk kemudian diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). 

Untuk biaya operasional, masing-masing KK ditarik iuran sebesar 5.000-12.000 rupiah/bulan. Penarikan iuran tersebut diserahkan kepada pengurus RT dan RW masing-masing dan mengambil bagian sejumlah 10% sebagai 'upah' dalam pengumpulan iuran. Sejumlah 38 juta rupiah berhasil ditarik dari pelanggan, sementara biaya total yang dibutuhkan untuk keseluruhan operasional adalah 90 juta rupiah. Bagaimana mengisi selisihnya? Nah ini yang menarik. Berbagai jenis sampah yang masuk dipilah dengan dibagi dalam beberapa zona.



Tahap awal adalah sampah dipilah secara manual menggunakan tangan. Deretan petugas sibuk memilah sampah-sampah yang baru saja masuk ke area TPS. Kemudian sampah yang telah terpilah tersebut ddistribusikan ke setiap kamar-kamar yang mengkategorikan sampah berdasarkan jenisnya. Dari jenis sampah anorganik dapat menghaslkan 473 jenis produk dan 39 di antaranya dibeli oleh pabrik sedangkan sisanya ke pengepul sampah untuk dijual.


Pemilahan sampah
Pengelompokan jenis sampah hingga siap dikemas untuk dibeli pabrik-pabrik dan dijual ke pengepul sampah
Proses pembuatan kompos
Jenis sampah organik berupa dedaunan dipisahkan untuk diolah menjadi kompos. Kompos ini digunakan kembali di kebun-kebun di Desa Mulyoagung. Untuk sampah sisa-sisa makanan lain seperti nasi dan bahan-bahan dapur lainnya dikumpulkan untuk kemudian dicacah manual dengan sabit dan dibungkus dalam kemasan plastik-plastik, siap dibeli oleh peternak babi dan bebek. Satu buah kantongnya dibanderol dengan 3000 rupiah saja. Dari penjualan sisa makanan ini bisa menghasilkan hingga 3.500.000 rupiah per bulan. Selain itu dilakukan juga budidaya peternakan kambing dan bebek dengan pakan sampah basah dan sampah organik dari hasil pemilahan.

Pencacahan, pengepakan, dan daftar peternak langganan (kiri ke kanan)
TPST telah membuka lapangan pekerjaan untuk 77 karyawan yang berasal dari masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah. Pengelolaan TPS ini dapat menjadi alternatif lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang kurang mampu. Usaha ini mampu menggaji karyawannya dengan biaya minimum 850 ribu rupiah dan maksimum 1.250.000. 

Pak Supadi sebagai ketua Kelompok Swadaya Masyarakat memiliki prinsip dan kunci kesuksesan dalam mengajak masyarakat peduli dengan persampahan dengan tidak menggunakan konsep 'sosialisasi', namun lebih kepada sharing ide atau berbagi satu sama lain. 

"Ngolah sampah tidak boleh pinter-pinteran!" ujarnya.

Semoga ada Pak Supadi Pak Supadi lain yang lahir menjadi solusi!