Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Desember 2016

Menjadi Guru

Hujan turun rintik-rintik di luar. Angin dingin menusuk tulangku. Wangi tanah basah menggelitik hidungku. Dari kejauhan tampak muridku sedang berjalan bertiga dari arah asrama, dengan membawa tumpukan kotak makanan milik kawan seasramanya. Wajah mereka cerah. Hujan tak menyurutkan kewajiban piket mereka, meskipun perlu berjalan melintasi pondok menuju dapur umum sambil membawa payung. Sepayung bertiga.

Senyum tipis tersungging di bibirku. Ya, hal ini adalah salah satu hal yang membuatku kerasan mengajar. Bahagia itu adalah ketika aku dapat menyaksikan buah-buah didikan dari sistem pendidikan yang kami bangun bersama-sama. Buahnya mungkin belum matang betul, namun baru melihat cikal bakal tumbuhannya yang tumbuh subur, senyum lebar akan selalu menghiasi bibirku.

Anak-anak ini ibarat sebuah tanaman. Mereka dipindahkan dari potnya yang nyaman, yaitu kampung halamannya. Berat, seperti layaknya sebuah tanaman yang baru dipindahkan ke tanah yang baru. Hidupnya akan merana karena tidak terbiasa jauh dari zona nyamannya. Yang mana sebelumnya keperluannya disiapkan orang tua, makan bisa seenaknya, dan bermain bisa sesuka hati saja. Namun masuk ke tanah yang baik dengan nutrisi dan lingkungan yang baik akan mengubah  kehidupan tanaman tersebut. Seorang anak yang dicemplungkan dalam lingkungan yang baik, asalkan terus konsisten dan dirinya berjiwa pembelajar, ia akan tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa.

Bagi kami para pendidik pun, hal terberat juga kami rasakan pada saat menangani benih-benih baru. Kami perlu menanamkan nilai-nilai yang mungkin asing di telinga mereka sebelumnya. Tak jarang kami habiskan waktu kami untuk sekedar menemani dan memahamkan anak yang tidak mau makan, yang merengek minta pulang, yang rindu masakan ibundanya, sampai yang bermasalah dengan temannya. Hal remeh temeh menurut orang dewasa bisa menjadi tantangan besar dalam perjalanan hidup seorang anak.

Senyum akan terus tersimpul di bibirku, setiap hari memerhatikan perubahan-perubahan kecil dari setiap anak. Gigi yang bersih, raut wajah segar, dan salam ketika berpapasan rasanya menjadi lebih dari cukup. Meskipun tak selalu kuberikan senyum manis ketika mereka melakukan kesalahan. Beberapa kalimat nasihat bernada tinggi dan tegas juga menjadi makanan mereka untuk menjadi lebih berhati-hati dalam bertingkah laku.

Itulah menjadi guru. Menjadi guru tak pernah sebersit pun terlintas dalam pikiranku sebelumnya. Kupikir aku hanya akan menjadi guru untuk anakku kelak. Namun rupanya Allah memberikan kesempatan berpuluh-puluh kali lipat lebih besar untuk berproses dalam melahirkan generasi unggul di masa depan, yang akan memegang estafetan kepemimpinan bangsa ini.

Anak-anak didikku juga guruku. Justru aku belajar banyak sekali tentang kehidupan melalui proses mendidik. Sekolah itu memang untuk belajar hidup bagi seluruh elemen di dalamnya. Baik untuk anak yang dididik, pendidik, orang tua, dan seluruh pihak yang terlibat. Percaya atau tidak, dari mengajar justru berbagai macam keahlian dan keterampilan milikku meningkat pesat, baik soft skill  maupun hard skill. Mulai dari kemampuan komunikasi, bernegosiasi, ilmu kesehatan, dan masih banyak lagi. Maklum, proses pendidikan ini berlangsung 24 jam. Hal remeh untuk membiasakan minum air putih setiap hari saja bisa jadi tantangan yang besar.

Pendidikan adalah investasi untuk jangka panjang. Aku belum tentu bisa menyaksikan keberhasilannya dalam jangka waktu dekat, tetapi keberhasilan itu pasti akan terjadi. Karena SDM adalah kunci keberhasilan dan kemajuan suatu bangsa. Selamat hari guru :)

Sabtu, 20 Februari 2016

Membangun Peradaban Bersih dari Sekolah


Meskipun buahnya baru akan kita saksikan dan nikmati 10 hingga 20 tahun lebih ke depan, namun berinvestasi dalam bidang pendidikan itu adalah suatu keniscayaan. Jika ingin mengubah nasib suatu bangsa, maka mulailah dari sektor pendidikannya.

Tulisan ini adalah hasil buah pikiran dari Zahra Nur Asyifa, santri kelas X Pondok Pesantren Modern Al Umanaa (Al Umanaa Boarding School), Sukabumi

***

Dua hari yang lalu, salah satu guru di sekolah saya memperlihatkan kondisi Sungai Citarum milik Indonesia kita ini. Sungguh, sungai itu sudah tidak cocok disebut sungai air! Lebih cocok disebut sungai sampah. Beberapa kali saya berkunjung ke Jakarta, dan hal yang selalu menarik mata hanyalah betapa banyaknya sampah berserakan tanpa mengenal estetika di jalanan, di selokan, dan tempat umum lainnya. Alhasil, bencanalah yang datang, seperti banjir, yang sering terjadi di negara kita ini, sampai-sampai ada longsor sampah, yang terkenal sebagai peristiwa Leuwi Gajah yang menewaskan ratusan orang, dan bencana lainnya.  Ini menunjukkan betapa kotornya negara kita ini, betapa buruknya sistem pengelolaan sampah yang dimiliki negeri ini!
Padahal, kebersihan adalah salah satu tolak ukur tingginya peradaban suatu bangsa. Maka keberhasilan pengelolaan sampah menjadi indikator keberhasilan suatu bangsa membangun peradabannya.  Sedangkan Indonesia belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik. Oleh karena itu, saya sebagai calon pemimpin bangsa ingin mengubah kenyataan ini dengan mengajak para pembaca semua untuk membangun sistem pengelolaan sampah Indonesia dari sekarang.

Namun, ketika kita sudah memiliki sistem pengelolaan sampah yang baik, kesuksesan sistem itu bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Maka, Indonesia memerlukan rakyat yang mau dan mampu mengikuti sistem pengelolaan sampah tersebut. Sebenarnya Indonesia juga telah memiliki sistem pengelolaan sampahnya sendiri. Buktinya, banyak saya temui tempat sampah organik dan anorganik di beberapa kota yang pernah saya kunjungi. Namun, karena rendahnya kepedulian SDM-SDM Indonesia, pemilahan sederhana seperti itu saja tidak berjalan dengan baik. Jadi, Indonesia perlu sumber daya manusia yang memiliki kepedulian tinggi dan pastinya berintegritas.

Untuk merealisasikannya, sekolah adalah tempat yang paling tepat. Di sekolahlah pendidikan berlangsung, di sekolahlah orang-orang dikembangkan ilmunya, disempurnakan integritasnya. Sekolah memang tempat yang tepat untuk melahirkan SDM-SDM berkualitas, SDM-SDM yang memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap lingkungan, SDM yang mau dan mampu mengelola sampahnya. Karenanya, sekolah pasti dapat menjadi solusi bagi permasalahan sampah Indonesia.


Pemilahan sampah di Al Umanaa

Contohnya sekolah saya sendiri, Al Umanaa. Kami selalu ditanamkan pemahaman bahwa “Kebersihan itu Sebagian dari Iman”, sehingga siswa-siswi di sekolah saya takut jika membuang sampah sembarangan.  Sekolah saya telah memulai pengelolaan sampahnya sendiri. Sampah kami pilah menjadi enam jenis, compostable (sampah mudah terurai), recyclable (sampah yang dapat didaur ulang), sanitary waste (sampah medis), hazardous waste (sampah berbahaya), trash (sampah yang tidak dapat didaur ulang), dan paper (kertas). Sampah kertas selanjutnya kami olah menjadi kertas daur ulang (recycle paper). Sistem pemilahan enam jenis ini baru kami mulai Januari 2016. Sebelumnya kami hanya memilah sampah menjadi dua jenis, yaitu organik dan anorganik. Alhamdulillah, sistem ini berhasil dijalankan dengan sempurna oleh siswa-siswinya hanya dalam rentang waktu satu minggu. Ini disebabkan karena kami berada dalam sistem pendidikan yang baik. Setiap kesalahan pasti akan ditegur dan dievaluasi secara langsung. Hal ini menyebabkan kami terbiasa untuk membuang sampah dengan benar. Kami pun terdorong untuk memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, seperti motto kami “Kami tinggal di bumi, dan kami mencintainya. Maka, mari menjaganya!” 

Jadi, saya sangat yakin bahwa lembaga pendidikan adalah tempat yang benar-benar tepat untuk memulai sistem pengelolaan sampah yang baik. Insya Allah, jika semua sekolah di Indonesia telah melakukan pendidikan sampah pada siswanya, maka rumah-rumah, kantor-kantor, dan tempat-tempat umum pun akan mengelola sampahnya dengan baik. Karena sekolahlah yang menentukan kualitas masyarakat suatu bangsa. Alhasil, Indonesia dapat menjadi negara yang beradab! Negara yang maju dan bermartabat!

Tulisan ini dikutip dari : http://www.alumanaa.com/?p=634

Rabu, 13 Januari 2016

Ilmu dari Alam

Saya adalah anak yang dilahirkan dan dibesarkan di sebuah kota. Segala akses kemudahan teknologi di kota besar sudah saya cicipi. Dari aktivitas saya sejak kecil hingga kuliah, keluarga saya menilai bahwa saya memang senang bermain di alam. Saat itu, saya mengamini hal tersebut. Namun saya definisikan bermain, belajar, dan mencintai alam sesuai dengan pengalaman saya saat itu. Dari kecintaan saya berjalan-jalan ke alam bebas, aktivitas outdoor tanpa khawatir warna kulit menjadi gelap, dan aktivitas saya di bidang pelestarian lingkungan, saya merasa bahwa diri saya sangat mencintai alam ciptaan-Nya ini, dan ingin banyak dekat dengan alam. 

Berpindah kota ke Bandung saat kuliah adalah sebuah kemahalan bagi saya ketika bisa mendapatkan bahwa menemukan daerah pepohonan yang masih hijau tidak sulit di sini. Bahkan jika disempatkan, saya bisa menikmati setiap akhir pekan saya untuk ‘dekat dengan alam’. Sampai saat itu, saya masih merasa bahwa saya memang mencintai alam ini.
Tak kenal maka tak sayang
Di detik ini, saya harus katakan bahwa saya salah mengenali diri saya. Saya tidak pernah benar-benar mencintai alam ini. Bahkan saya hanya menjadikannya sebuah ‘hiburan’ di tengah kesibukan saya yang lain, sebagai pemanis di tengah kesuntukan saya, dan sebagai latar indah di balik foto-foto saya. Saya tidak sedikitpun menghabiskan keringat dan pikiran dalam hidup saya dengan pertanyaan seperti : “Darimana makanan saya berasal? Bagaimana cara saya mengelola alam agar saya dan generasi selanjutnya bisa menghasilkan bahan makanan seperti ini?”. 

Alam menjadi tanggung jawab manusia untuk dikelola dengan bijaksana, sebagai pemenuhan kebutuhan seluruh umat manusia.
Saya mengatakan bahwa saya punya kegelisahan dengan masalah banyaknya sampah sisa makanan justru lebih kepada khawatir akan permasalahan sampah yang membludak di kota, di mana justru sense yang terbangun seharusnya lahir dari akar masalah bahwa proses pembuatan makanan itu panjang dan tidak seharusnya kebutuhan primer ini disia-siakan. Poin kedua saya katakan dan saya amini setiap saya terlibat dalam diskusi dengan kawan-kawan yang memiliki kepedulian di bidang pangan, namun lagi-lagi saya harus katakan bahwa saya sejujurnya tidak paham bagaimana sebenarnya ‘proses produksi makanan yang panjang’ itu. Saya tidak benar-benar mengenal langsung hingga saya merasakannya sendiri. Tak kenal maka tak sayang benar-benar saya resapi maknanya di detik ini.
Alam itu cerminan kehidupan manusia
Ini yang sangat mahal. Belajar dari alam yang saya kenal dulu sempit sekali. Mempelajari tingkah laku dan pertumbuhan makhluk hidup seperti hewan dan tumbuhan hanya sebagai sebuah hafalan tidak bermakna. Sesekali menjadi wawasan untuk bekal pemanfaatannya dalam kehidupan manusia. Namun rupanya ada pelajaran dan makna yang sangat berharga dari alam. Bagaimana Sang Pencipta mendesain pertumbuhan sebuah tanaman, cara hidup masing-masing jenis hewan, semuanya adalah refleksi dari kehidupan manusia yang patut diambil pelajaran. Sebagai contoh adalah bagaimana seekor elang hidup dalam tulisan saya di sini. Dan bagaimana memahami etos kerja yang paling unggul dari seekor lebah. Bahkan dari melihat proses pertumbuhan semua makhluk ciptaan-Nya, kita akan tersadar bahwa segala sesuatu itu perlu proses dan yang instan bukan sesuatu yang sehat, baik secara fisik maupun psikologis.

Sebuah tanaman yang berasal dari benih akan menjadi tunas, lalu diletakkanlah ia di dalam pot kecil. Tanaman itu diberikan nutrisi yang sama dengan kondisi lingkungan yang sama di dalam sebuah pot. Namun pada saatnya, ia tumbuh besar dan semakin besar. Jika tidak dipindahkan, ia akan mati. Kalaupun ia bisa tetap tumbuh di dalam pot tersebut, namun terbatas. Terbatas dari segi pertumbuhan, maupun manfaatnya. Namun lain ceritanya ketika tanaman tersebut kita pindahkan ke tanah yang baik, ke lahan baru yang lebih luas, tumbuhnya akan semakin besar dan manfaatnya akan semakin banyak. Jangan kaget ketika di awal perpindahan, tanaman tersebut akan tumbuh merana terlebih dahulu. Namun setelah itu, ia akan menjadi besar dan bisa berkembang memberikan manfaat yang jauh lebih besar. Seperti halnya manusia. Sudah kodratnya untuk dilepaskan dari zona nyamannya, kampung halamannya, lingkungan di mana ia dimanja, untuk menjadi orang yang besar. Meskipun di awal perpindahannya akan sakit rasanya, namun itu sudah menjadi fitrah dan hal yang biasa. Seperti seekor elang yang harus melewati fase sakit luar biasa untuk menjadi hewan yang kuat.

Saya belum lama keluar dari pot itu. Namun tidak ada kata terlambat. Meskipun begitu, tunas muda itu akan lebih besar manfaatnya ketika dikeluarkan di saat muda. Pendidikan yang dekat dengan alam itu harus dimulai dari sedini mungkin. Di situlah peran besar orang tua. Seperti sebuah induk tanaman yang melepas bagian tunas mudanya agar bisa berdiri sendiri dan tumbuh besar.
Manusia itu sudah kodratnya didekatkan dengan alamnya. Semakin kenal dirinya dengan apa yang diciptakan-Nya, maka akan semakin kenal pula dirinya pada penciptanya.

Sabtu, 11 April 2015

Al-Umanaa : Sekolah = Belajar Hidup

Pendidikan, dalam bahasa Arab adalah Tarbiyah, akar katanya berasal dari kata Rabb yang mengandung berbagai macam makna, yaitu di antaranya mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara.

Kilasan pemaknaan pendidikan ini mengawali kekaguman saya terhadap sekolah yang satu ini. Al-Umanaa. Dengan pemaknaan tersebut, sekolah ini memiliki prinsip 
Sekolah adalah belajar hidup, tamat sekolah harus dapat hidup, bukan baru mulai belajar hidup.
Ya, dari sekolah, seseorang harus siap menghidupi dirinya sendiri dan mampu mengelola alam sebagai salah satu unsur penting dalam memenuhi penghidupan itu. 

***

Perjalanan saya dan tim FOODLAP ; Anka, Ridho, Rizan, dan Eva dimulai dari keberangkatan pukul 4.30 pagi untuk menghindari kemacetan arus Bandung-Sukabumi. Sejak tahun 2014, Al-Umanaa berdiri di atas lahan seluas 8 hektar di tanah Kabupaten Sukabumi. Pukul 9.00 kami tiba di kawasan Al-Umanaa yang sejuk dan asri. Kami disambut hangat oleh pengurus Al-Umanaa, yang salah satunya adalah kawan kami, Mahdi. Ditemani secangkir teh manis hangat, perkenalan tentang sekolah ini diawali. 

Selamat datang di Al-Umanaa!
Gedung sekretariat merangkap gedung serbaguna
Pada saat kami berkunjung ke sana sedang berlangsung pekan bahasa Arab. Berbekal kemampuan bahasa Arab kami yang masih level awal, kami hanya mampu memahami sepotong demi sepotong percakapan antar penghuni Al-Umanaa dan mengucapkan syukron (terima kasih) ketika diberikan sesuatu. Hehehe. Dari pengamatan saya, seluruh murid dan pengajar mampu berkomunikasi fasih dengan bahasa arab. Ternyata sistem pekan bahasa ini diberlakukan pula untuk dua bahasa resmi lainnya, yaitu bahasa jepang dan bahasa inggris. Kemampuan bahasa ini diasah dalam aspek dasar membaca, menulis, dan berbicara.

Kemampuan berbahasa hanyalah satu dari sekian banyak materi yang ditanamkan di Al-Umanaa untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan perkembangan dunia saat ini. Al-Umanaa percaya bahwa pengembangan SDM adalah kunci keberhasilan suatu bangsa untuk meningkatkan seluruh aspek lainnya. Selain menanamkan teori-teori seperti di kebanyakan sekolah lainnya, sekolah ini memberikan praktek nyata di lapangan. Kemampuan dasar lainnya adalah kemampuan dalam pengembangan pertanian dan peternakan yang menyokong kebutuhan primer manusia yaitu pangan. Kunci keamanan suatu negara tanpa pengaruh kondisi ekonomi di luar adalah kesiapan bahan baku pangannya. 

Dari keterampilan pertanian dan peternakan itu pula dikembangkan kemampuan berwirausaha. Pendidikan untuk menghidupi diri secara mandiri benar-benar lengkap diberikan di sekolah ini! Rupanya praktek pertanian organik dan peternakan ini juga memiliki pesan penting dalam memilih asupan makanan sehari-hari. Asupan makanan alami dan bergizi sudah menjadi pilihan utama seluruh murid dan pengajar Al-Umanaa. Di kala kondisi bahan makanan kita yang penuh dengan pengawet dan bahan penyedap, mereka mampu memilih dan mengelola makanan sehatnya sendiri!


salah satu sudut Integrated farming
Sudut Al-Umanaa
Salah satu prinsip pendidikan yang paling saya kagumi di sini adalah keteladanan. Bagi seluruh pengajar Al-Umanaa, hal ini sudah menjadi prinsip. Ketika mengatakan sesuatu, maka diri sendiri harus melaksanakannya. Begitu pula halnya di murid-murid. Bagi siapa saja yang maju sebagai pemimpin, maka ia harus mampu memberikan teladan, baik secara ilmu, perbuatan, hingga stamina fisik. Maka jangan heran kalau ketua murid (sejenis OSIS) di sini adalah sosok yang pintar, berakhlak, sehat, dan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan lapangan seperti mencangkul dan beternak!

Konsep-konsep pendidikan ini rasanya kurang afdol kalau dibuktikan sendiri. Dari pengalaman kami menginap satu malam, kami berhasil mendapatkan bukti-bukti nyata hasil pendidikan Al-Umanaa. Mulai dari interaksi dengan pengajar, beberapa murid yang sangat santun, hingga orang tua murid, kami mendapatkan bukti yang sangat nyata bahwa konsep pendidikan Al-Umanaa memang keren sekali! Hal ini pun diamini oleh seluruh orang tua yang sempat kami temui. Mereka mengaku takjub dengan perubahan positif anak-anaknya setelah melalui beberapa waktu di Al-Umanaa. 

Puncaknya adalah saat kami mendapatkan kesempatan untuk melihat penampilan beberapa murid di kelas yang menunjukkan kepiawaiannya dalam berpuisi, bercerita, pidato, bermain drama, alat musik, dan lain-lain. Sebagian besar masih duduk di bangku 1 SMP, di mana di saat itu juga kami benar-benar dibuat kagum sekaligus malu dengan kemampuan kawan-kawan Al-Umanaa yang jauh di atas kami pada usia itu. Dalam benak saya, saya yakin sekali kalau mereka adalah bibit-bibit unggul yang siap berada di garda depan pembangunan Indonesia, sekalipun kita akan melalui persaingan yang sangat ketat dengan bangsa lain.

Salah satu penampilan murid-murid Al-Umanaa
Bukti nyata lainnya adalah hasil karya murid dalam pembentukan konsep integrated farming. Mulai dari pengolahan sampah dapur dengan black soldier flies, peternakan lele, ayam, kambing, soang, kebun sayur dan buah, serta uji coba peternakan lebah. Setiap bentuk pengembangan di area ini diprakarsai oleh murid-murid sendiri, yang tergabung dalam kelompok penelitian dan pengembangan. 

Keaktifan murid-murid dalam praktik di lapangan dan keinginannya yang sangat kuat untuk belajar juga ditunjukkan pada saat kami sempat mendapat kesempatan untuk berbagi mengenai black soldier flies di kelas setelah usai shalat subuh. Di momen itu, seluruh murid mendengarkan setiap ada yang berbicara dengan sangat baik, sebuah hal yang sangat jarang saya temui saat ini, baik oleh orang dewasa sekalipun. Selain itu muncul pula beberapa pertanyaan jenius hasil praktik mereka di lapangan yang membuat diskusi menjadi semakin hangat. 


Diskusi penerapan black soldier flies yang difasilitasi Rizan
Foto bersama setelah diskusi
Sayangnya waktu kami di sana hanya semalam saja. Setelah sarapan dan menikmati air kelapa muda dari pohon sendiri, kami sempat berbincang kembali dan mendapat suntikan-suntikan semangat. Optimisme kami semakin tersulut. Perjalanan pulang yang memakan hingga 6 jam pun tidak terasa karena rasa puas dan energi hati yang kembali terisi penuh!

Ini adalah bukti penerapan pendidikan yang sebenar-benarnya untuk menyiapkan SDM Indonesia menembus tantangan-tantangan di masa depan!


Kamis, 04 Juli 2013

Aksi Afirmasi, Niat Mulia Memajukan Pendidikan Papua

Ini adalah artikel singkat yang saya sebar ke teman-teman di kampus, mengenai ringkasan cerita program afirmasi Papua, di mana beberapa mahasiswa program ini di antaranya masuk dan belajar dalam lingkungan kampus saya. Semoga cukup memberi pencerahan mengenai salah satu program usaha pengembangan dan pemerataan pendidikan di Indonesia!

Mari saya mulai dengan definisi afirmasi. Afirmasi menurut KBBI:

afir·ma·si n 1 penetapan yg positif; penegasan; peneguhan; 2 pernyataan atau pengakuan yg sungguh-sungguh (di bawah ancaman hukum) oleh orang yg menolak melakukan sumpah; pengakuan

Sedangkan definisi secara filosofisnya dapat dilihat di pemaparan berikut ini.
Affirmative action means positive steps taken to increase the representation of women and minorities in areas of employment, education, and business from which they have been historically excluded. When those steps involve preferential selection—selection on the basis of race, gender, or ethnicity—affirmative action generates intense controversy. (Stanford Encyclopedia of Philosophy)

Berdasarkan definisi yang dimiliki oleh Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat (UP4B), Affirmative Action adalah kebijakan yang diambil dengan tujuan agar kelompok/golongan tertentu (gender ataupun profesi) memperoleh peluang yang setara dengan kelompok/golongan lain dalam bidang yang sama. Hal ini bertujuan sebagai keberpihakan terhadap terhadap Orang Asli Papua.
Secara nasional, Tahun 2012 ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Papua Barat berada di peringkat 29 dan IPM Provinsi Papua menempati urutan 33 dari 33 provinsi  di Indonesia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menekankan semua pihak untuk memberikan kesempatan dan keberpihakan kepada orang asli Papua dalam segala hal. "Memberikan peluang bagi putra-putri Papua untuk jadi pemimpin dan diutamakan dalam semua hal. Kebijakan saya itu masih berlaku dan saya minta diperbaiki lagi," hal ini disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didepan ratusan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Nusantara di Universitas Cenderawasih Jayapura, pada Senin, 22 November 2010.

Program keberpihakan bidang pendidikan merupakan amanat pasal 56 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Provinsi Papua, yang menyatakan bahwa “Setiap penduduk berhak memperoleh pendidikan yang bermutu dengan beban masyarakat serendah-rendahnya”.

Permasalahan di Papua yang sangat kompleks dan mendasar mendorong pembuatan Peraturan Presiden yang dapat melakukan percepatan pembangunan di Papua.

Sesuai dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2011 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (P4B) dan Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2011 tentang Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat (UP4B) menyatakan antara lain tugas pokoknya adalah: “Memberikan dukungan kepada Presiden Republik Indonesia dalam koordinasi, sinkronisasi, fasilitasi serta pengendalian dan evaluasi pelaksanaan program percepatan pembangunan di Provinsi Papua dan Papua Barat.” Pembentukan UP4B didasari pada kondisi objektif yang terjadi saat ini di Provinsi Papua dan Papua Barat.

UP4B merupakan suatu lembaga setingkat menteri yang tugasnya melakukan koordinasi, sinkronisasi dan fasilitasi program perencanaan pembangunan dengan Kementerian/Lembaga terkait termasuk didalamnya memfasilitasi tersedianya kuota bagi putra/putri asli Papua untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Provinsi Papua James Modouw menyatakan, program afirmasi diprakarsai UP4B ini bertujuan mulia dalam rangka meningkatkan pendidikan di Papua yang masih tertinggal. Salah satu penyebab karena pendidikan dasar dan menengah masih berantakan, minat guru bertugas di daerah terisolasi masih rendah, sarana dan prasarana juga masih terbatas. Itulah yang menjadikan lemahnya daya saing putera-puteri Papua ketika mereka harus memasuki perguruan tinggi negeri.

Para mahasiswa asal Papua direkrut melalui kerjasama Direktur Jendral Perguruan Tinggi (PT). Jumlah peserta keseluruhan sebanyak 747 calon mahasiswa. Mereka adalah yang telah lolos dan memenuhi persyaratan. Kuota yang tersedia sebanyak 1016 kursi di perguruan tinggi negeri seluruh Indonesia dan telah mendaftar sebanyak 918 calon mahasiswa.

Mahasiswa-mahasiswa ini tersebar di 31 Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia dan difasilitasi UP4B mendapat beasiswa dari DIKTI sebesar sebesar Rp 600-800 ribu/bulan. Jatah hidup ini atas bantuan Dikti untuk biaya hidup selama enam bulan. Jumlah tersebut belum termasuk biaya kuliah selama 4 tahun yang diberikan gratis. Selanjutnya biaya hidup diharapkan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dan orang tua.

Peranan dan dukungan dari pihak orang tua/ wali atau keluarga besar dari mahasiswa/i sangat dibutuhkan untuk memenuhi biaya bagi 569 orang mahasiswa yang kini sudah memulai kuliah tahun ajaran 2012/2013 dengan berbagai program studi itu sudah tersebar di 31 perguruan tinggi negeri Indonesia di luar provinsi Papua dan Papua Barat.

Institut Teknologi Bandung adalah salah satu perguruan tinggi penerima mahasiswa afirmasi Papua 2012/2013 yang pada awalnya berjumlah 15 orang. Bagaimana cerita saudara-saudara Papua kita di kampus gajah ini? Cerita selengkapnya akan disajikan pada tulisan berikutnya :)


Sumber :
http://www.up4b.go.id/

Minggu, 16 Juni 2013

Pendidikan Anak Nusantara


Ceritanya saat ini saya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk memperpanjang waktu abdi saya di kampus. Bidang saya saat ini menerjunkan saya untuk menyelami hal yang sebelumnya hanya saya dengar dan amati ceritanya dari orang-orang di sekeliling saya, yang mana mereka adalah sekelompok pemerhati dan aktivis pendidikan. Saya hanya sebagai pendengar. Tapi saat ini saya bisa berceloteh sendiri, atas apa yang saya lihat dan saya rasakan.

Pendidikan

Wawasan nusantara

Atas sebuah usulan program Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), sekitar 500an putra-putri Papua dikirimkan untuk belajar di 31 universitas tersebar di Indonesia. Direktorat jenderal pendidikan tinggi (Dikti) sebagai eksekutor menyerahkan kepercayaannya pada Pemda setempat untuk melakukan proses seleksi. Kuota yang diberikan sejumlah 1000 kursi, namun pendaftar hanya berkisar 700 anak. Alhasil seluruh pendaftar diterima. Namun hanya yang mendaftar ulang yang tetap melangsungkan proses ini. 

Berawal dari perkenalan saya dengan salah seorang putra daerah asal Yalimo, Papua. Namanya Mewan. Yalimo kedengarannya sangat asing di telinga saya. Rupanya untuk mencapai kampungnya, selain menaiki pesawat Jakarta-Jayapura-Wamena dan mobil,  Mewan masih harus berjalan kaki 1 hari untuk sampai ke rumahnya! Mewan adalah salah satu dari kawan-kawan Papua yang mulai tahun 2012 lalu mengecap pendidikan tinggi di kampus ITB.

Kampus saya menerima 11 putra Papua dari daerah berbeda-beda untuk jurusan sipil, elektro, dan mesin. Namun hingga saat ini hanya 6 anak yang bertahan dan masih terjaga komunikasi dan komitmennya. Ketiga jurusan tersebut dipilihkan oleh Pemda Papua dengan harapan dapat menjadi bekal untuk kembali dan membangun kampung halamannya. Anak-anak ini diterjunkan dalam kurikulum Tahap Persiapan Bersama, tanpa perlakuan khusus, kecuali pendampingan tutor dari beberapa mahasiswa yang sifatnya sukarela. 

Materi kuliah tahun pertama yang sama sekali tidak mudah, perbedaan kultur, dan kondisi lingkungan yang jauh berbeda tentu menjadi hal yang asing bagi mereka. Maka tidak perlu heran ketika indeks prestasinya nyaris 0, jika tidak terbantu oleh mata kuliah olahraga. Baik secara akademik maupun psikologis, mereka belum siap dan tidak disiapkan.

Mereka hanyalah segelintir anak dari ribuan, bahkan jutaan kawan kita yang tidak mengecap pendidikan formal berkualitas di kota. Saya semakin miris dibuatnya ketika saya berkesempatan mengunjungi Surya Institute, sekolah di bilangan Serpong dengan program khusus hasil kerjasama dengan Pemda Papua. Tidak jarang ditemukan anak-anak seumuran dengan saya namun tidak mengenal huruf, angka, mengenal angka hanya 1-4, bahkan turus!

Sedikit gambaran mengenai kondisi pendidikan masyarakat Papua, di mana tingkat buta huruf masyarakat masih mencapai 39,23% (BPS,2012). Sedangkan untuk angka partisipasi sekolah pada tingkat perguruan tinggi masih sangat minim, 13,92% untuk Provinsi Papua dan 19,31  untuk Provinsi Papua Barat. Secara keseluruhan, hanya 13,54% masyarakat Indonesia yang mengecap pendidikan hingga level perguruan tinggi. Hal ini pun terdesentralisasi di wilayah perkotaan, khususnya Pulau Jawa. Saya baru bicara 1 daerah. Dan masih banyak belasan ribu pulau, 300 suku, puluhan juta penduduk yang jadi tanda tanya besar soal pendidikannya.

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” 

Di sini kecintaan saya pada bangsa ini diuji. Peta Indonesia yang terpampang di tembok kamar sebagai dorongan cita-cita mengelilingi tanah air dan ilmu yang diserap dalam rangka mengenali bangsa ternyata masih jauh dari maknanya.

Terima kasih, ya Allah karena telah memberikan kejutan, jalan untuk berbagai petualangan seru di hidup saya untuk kembali mengingat makna syukur.