Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

Sisa-sisa (makanan) yang tidak diikhlaskan

Saya kutip judul tulisan ini yang mirip dengan judul sebuah lagu Payung Teduh yang berjudul "Kita Adalah Sisa-sisa Keikhlasan yang Tidak Diikhlaskan", dari celetukan seorang teman. 


Ini adalah curahan kegelisahan saya sebagai seorang pecinta makanan

Pikiran-pikiran ini berawal dari hal yang paling sederhana. Saya belum akan menyajikan data dan fakta untuk memperkuat opini saya. Saya hanya mau berbagi sebagai seorang penikmat segala jenis hidangan, 

Saya merasa sangat terganggu dan merasa bersalah dengan fenomena di mana segala jenis asupan perut itu harus terbuang begitu saja, tanpa melewati perut manapun. Hal ini paling sering saya temukan di setiap acara publik seperti pesta, seminar, dan sejenisnya yang menghadirkan makanan prasmanan. Sajian makanan dan minuman gratis, di mana pengunjung tidak menanggung beban sepeserpun di situ. Kita dibebaskan untuk memilih dan menentukan besar kecilnya porsi segala jenis makanan dan minuman yang kita sukai, namun banyak sekali saya temukan yang pada akhirnya piring-piring berisi makanan itu hanya tersentuh sebagian dan dianggurkan di meja piring kotor. Kasus serupa juga ditemukan di beberapa restoran di mana pelanggan meninggalkan piring yang masih berisi makanan yang tidak habis di atas mejanya begitu saja dan melenggang pulang. Itu hanya dua buah contoh dari sekian banyak fenomena yang pasti sering kita temukan di sekitar kita, khususnya di kawasan urban.



Sudah kenyang? Porsi terlalu besar? Tidak suka dengan rasa makanannya?

Ilustrasi sisa-sisa makanan
Sumber : http://www.innovationmanagement.se/2012/05/16/a-coming-food-waste-revolution/
Saya ingat kembali memori ketika saya masih kecil, momen ketika makan bersama keluarga di rumah makan, Ibu saya jarang sekali memesan makanan sendiri. Seringkali saya heran dibuatnya. Lalu ketika di antara kami tidak menghabiskan makanan, Ibu saya siap sedia untuk menghabiskan. Ibu saya di rumah selalu mewanti-wanti dan mengajarkan kami sejak kecil untuk tidak menyisakan makanan. Jika ada makanan tersisa di rumah, beliau pasti akan putar otak dan pilihannya adalah mengajak kami menghabiskannya, atau segera membungkusnya untuk segera diberikan ke orang lain. Kemudian beliau akan berceloteh ketika menemukan makanan yang sudah kami beli atau pilih sendiri, namun pada akhirnya tidak dihabiskan hingga kadaluarsa dan terpaksa harus terbuang.

Rangkaian kebiasaan kecil di rumah yang dibangun ibu saya membuat saya paham.
Bukan, bukan paham karena seorang ibu cenderung lebih mudah gemuk ketika mengurus anak :)) (meskipun saya pun melihat fenomena ini). Tetapi mengapa dan apa efeknya untuk anak hingga dewasa nanti.

Beberapa keluarga menerapkan mitos supaya anak menghabiskan makanannya dengan membuat seakan-akan makanannya hidup dan bisa menangis jika terbuang. Ada pula kisah Dewi Sri yang konon katanya akan menangis jika ada nasi yang tertinggal di piring dan terbuang. Lucunya, dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dibangun dengan analogi cerita-cerita fiksi itu terkadang ampuh juga. 

Namun jauh dari kisah itu, ada makna yang jauh lebih dalam dari fenomena menyisakan makanan.

Tanggung Jawab
Selesaikan apa yang sudah menjadi pilihan dan tanggungan (makanan) kita. Ambil sebesar dan semampu kita untuk menyelesaikannya. Ini adalah esensi yang paling sarat saya rasakan dari hasil didikan ibu saya di rumah.

Bersyukur
Semua yang diberikan di depan mata kita adalah rezeki yang sudah diatur sedemikan rupa. Bersyukur bahwa manusia diberikan sinyal lapar untuk makan dan sinyal kenyang untuk mencukupkan asupan itu.

Ingat pada orang lain
Setelah kenyang, ingat bahwa rezeki yang diberikan ke setiap manusia itu bukanlah sepenuhnya menjadi miliknya. Maka mungkin jika cukup dengan porsi yang lebih kecil, sisakan untuk orang lain yang berhak. Dan ketika mengingat orang lain yang begitu sulitnya mendapatkan sesuap nasi, kita pasti akan jauh lebih bersyukur dengan segala hidangan di depan mata kita.

Kasus sederhana tentang kebiasaan makan memakan kita, tapi mencerminkan sebuah sisi dari kepribadian seseorang :)

Ayo, habiskan makananmu!

Minggu, 21 Juli 2013

Debar-Debar di Angkot

Mungkin agaknya cukup berlebihan kalau saya katakan bahwa jantung saya selalu berdebar-debar di kala detik-detik angkot yang saya naiki akan melewati tempat saya berhenti.

Siap-siap. Yak... sebentar lagi... (sambil sibuk merogoh-rogoh uang kecil di saku) 

"Kiri!" teriak saya dari kursi penumpang.

Seribu lima ratus atau dua ribu ya? 

Akhirnya saya putuskan cari aman. Saya ambil lembaran dua ribuan dan saya berikan ke Mang angkot melalui si jendela tanpa kaca. Saya perhatikan lekat-lekat. Kemudian keping lima ratus rupiah berpindah tangan ke tangan saya.

Alhamdulillah, masih seribu lima ratus!

Di lain waktu, dengan sopir yang berbeda dan/atau jurusan angkot berbeda, si sopir bisa dengan ketus memandang remeh lembaran uang yang saya berikan dan menagih paksa, "Seribu lagi, Neng!"

Aah.. Naiknya sampai dua kali lipat?! Pikir saya sambil menahan kesal di dalam hati.


Fenomena ini pasti dirasakan semua pengguna angkot. Secara luasnya adalah untuk semua bentuk angkutan umum dengan tarif yang tidak pasti. Dalam hal ini saya bicara angkot, sebagai moda transportasi yang sehari-hari paling sering saya gunakan. Perasaan berdebar-debar ini pun saya rasakan manakala saya gunakan angkot ke jurusan yang tidak pernah saya lewati maupun di kota yang tidak pernah saya tinggali. 

Belajar dari pengalaman

Prinsip saya hanya itu. Dari beberapa kali menaiki sebuah angkot jurusan tertentu, saya akan semakin paham kisaran tarifnya.

Kenaikan tarif yang tidak diprediksi

Semenjak peristiwa kenaikan BBM, perasaan berdebar-debar ini semakin menjadi-jadi. Beberapa angkot menaikan tarif dengan cukup realistis, namun ada pula yang saya nilai cukup berlebihan dan membuat si sopir angkot harus bersitegang dengan beberapa penumpangnya. Saya pilih tidak cari masalah, saya ikuti saya permintaan si Mang angkot.

Ya.. hitung-hitung nambah penghasilan si sopir.

Bukan, bukan soal ketidakikhlasan saya merogoh tambahan seribu bahkan dua ribu perak untuk ongkos sehari-hari. Namun ketidakpastian tarif ini untuk semua angkutan umum di Indonesia saya rasa menjadi sebuah ketidaknyamanan yang cukup krusial untuk bepergian ke manapun, juga sangat tidak ramah bagi orang-orang baru.

Semoga kelak seluruh sopir angkutan umum di Indonesia mendapat nominal penghasilan tetap yang layak dan seluruh angkutan umumnya memiliki tarif yang pasti! Aamiin!

Positifnya, jantung saya terlatih dengan setiap rasa deg-degan sebelum membayar ongkos angkutan. Hahaha..

Minggu, 16 Juni 2013

Pendidikan Anak Nusantara


Ceritanya saat ini saya diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk memperpanjang waktu abdi saya di kampus. Bidang saya saat ini menerjunkan saya untuk menyelami hal yang sebelumnya hanya saya dengar dan amati ceritanya dari orang-orang di sekeliling saya, yang mana mereka adalah sekelompok pemerhati dan aktivis pendidikan. Saya hanya sebagai pendengar. Tapi saat ini saya bisa berceloteh sendiri, atas apa yang saya lihat dan saya rasakan.

Pendidikan

Wawasan nusantara

Atas sebuah usulan program Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B), sekitar 500an putra-putri Papua dikirimkan untuk belajar di 31 universitas tersebar di Indonesia. Direktorat jenderal pendidikan tinggi (Dikti) sebagai eksekutor menyerahkan kepercayaannya pada Pemda setempat untuk melakukan proses seleksi. Kuota yang diberikan sejumlah 1000 kursi, namun pendaftar hanya berkisar 700 anak. Alhasil seluruh pendaftar diterima. Namun hanya yang mendaftar ulang yang tetap melangsungkan proses ini. 

Berawal dari perkenalan saya dengan salah seorang putra daerah asal Yalimo, Papua. Namanya Mewan. Yalimo kedengarannya sangat asing di telinga saya. Rupanya untuk mencapai kampungnya, selain menaiki pesawat Jakarta-Jayapura-Wamena dan mobil,  Mewan masih harus berjalan kaki 1 hari untuk sampai ke rumahnya! Mewan adalah salah satu dari kawan-kawan Papua yang mulai tahun 2012 lalu mengecap pendidikan tinggi di kampus ITB.

Kampus saya menerima 11 putra Papua dari daerah berbeda-beda untuk jurusan sipil, elektro, dan mesin. Namun hingga saat ini hanya 6 anak yang bertahan dan masih terjaga komunikasi dan komitmennya. Ketiga jurusan tersebut dipilihkan oleh Pemda Papua dengan harapan dapat menjadi bekal untuk kembali dan membangun kampung halamannya. Anak-anak ini diterjunkan dalam kurikulum Tahap Persiapan Bersama, tanpa perlakuan khusus, kecuali pendampingan tutor dari beberapa mahasiswa yang sifatnya sukarela. 

Materi kuliah tahun pertama yang sama sekali tidak mudah, perbedaan kultur, dan kondisi lingkungan yang jauh berbeda tentu menjadi hal yang asing bagi mereka. Maka tidak perlu heran ketika indeks prestasinya nyaris 0, jika tidak terbantu oleh mata kuliah olahraga. Baik secara akademik maupun psikologis, mereka belum siap dan tidak disiapkan.

Mereka hanyalah segelintir anak dari ribuan, bahkan jutaan kawan kita yang tidak mengecap pendidikan formal berkualitas di kota. Saya semakin miris dibuatnya ketika saya berkesempatan mengunjungi Surya Institute, sekolah di bilangan Serpong dengan program khusus hasil kerjasama dengan Pemda Papua. Tidak jarang ditemukan anak-anak seumuran dengan saya namun tidak mengenal huruf, angka, mengenal angka hanya 1-4, bahkan turus!

Sedikit gambaran mengenai kondisi pendidikan masyarakat Papua, di mana tingkat buta huruf masyarakat masih mencapai 39,23% (BPS,2012). Sedangkan untuk angka partisipasi sekolah pada tingkat perguruan tinggi masih sangat minim, 13,92% untuk Provinsi Papua dan 19,31  untuk Provinsi Papua Barat. Secara keseluruhan, hanya 13,54% masyarakat Indonesia yang mengecap pendidikan hingga level perguruan tinggi. Hal ini pun terdesentralisasi di wilayah perkotaan, khususnya Pulau Jawa. Saya baru bicara 1 daerah. Dan masih banyak belasan ribu pulau, 300 suku, puluhan juta penduduk yang jadi tanda tanya besar soal pendidikannya.

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” 

Di sini kecintaan saya pada bangsa ini diuji. Peta Indonesia yang terpampang di tembok kamar sebagai dorongan cita-cita mengelilingi tanah air dan ilmu yang diserap dalam rangka mengenali bangsa ternyata masih jauh dari maknanya.

Terima kasih, ya Allah karena telah memberikan kejutan, jalan untuk berbagai petualangan seru di hidup saya untuk kembali mengingat makna syukur.


Rabu, 27 Maret 2013

Cerita Hujan


Tidak ada yang bisa menandingi kecintaan saya pada hujan. Panas seakan-akan hilang, terguyur oleh sejuknya hawa di kala hujan.

Hujan dan Bandung

Dua paduan sempurna. Menikmati hujan di Kota Bandung itu mahal buat saya. Maka jika hujan turun, saya selalu merindukan momen bersantai untuk menikmatinya. Tinggal dilengkapi dengan secangkir minuman hangat, buku bacaan, ataupun teman bicara, maka momennya menjadi sesempurna itu. Saat saya menulis ini pun cuaca sedang hujan. Tepat di hadapan saya si hujan beraksi. Saya sangat bersyukur dapat menikmati hawa dingin, suaranya, sampai wangi si tanah basahnya. Dan hal sesederhana ini pun mampu menenangkan dan menjernihkan hati.

Banyak orang meyakini dan punya padangan bahwa hujan adalah rezeki. Bahkan ada golongan tertentu yang meyakini bahwa hujan di awal tahun adalah bentuk pertanda baik sepanjang tahunnya. Bagaimana tidak? Air adalah sumber kehidupan dan Tuhan menurunkan itu untuk semua makhluk ciptaannya secara cuma-cuma! Nah lantas bagaimana ketika hujan tidaklah jadi sebuah peruntungan, bahkan sesuatu yang dihindari? 

Ceritanya Senin (25/03/13) malam lalu, saya dan teman saya diundang mengisi sesi mimbar kampus di Pikiran Rakyat FM. Tema kali itu adalah mengenai Banjir di Kota Bandung. Sebelumnya pun saya pernah ditelepon langsung untuk mengutarakan sedikit pandangan saya ketika banjir yang melanda Bandung Selatan yang lalu.

"Persoalan banjir sudah menjadi masalah dari dulu, apakah isu ini akan tetap menjadi isu yang cukup seksi untuk dibahas?"

Si penyiar melontarkan pertanyaan ini pada kami di akhir siaran. Sebenarnya tujuan pertanyaan menjurus ke isu yang akan ditawarkan oleh calon walikota Bandung, tapi saya tidak mau membahas bagian itu. Baiklah, jawabannya tentu saja iya. Hal ini sudah menjadi isu yang selalu ada tiap tahunnya. Kalau kita ketahui beberapa tahun belakangan ini, isunya juga adalah Bandung krisis air. Miris! Kenyataannya jalan-jalan protokoler di Kota Bandung ini sendiri pun seketika bisa berubah menjadi sungai dadakan, yang biasa disebut dalam istilah sunda sebagai banjir cileuncang, lalu kawasan Bandung Selatan 'hobinya' jadi danau dadakan jikalau diguyur hujan lebat. 

Dan limpahan air itu terbuang sia-sia.

Hujan yang seharusnya menjadi rezeki yang patut disyukuri, namun saat ini seolah-olah semua orang mengutuk si hujan ini. Tuhan melimpahkan hujan dan manusia selayaknya menyediakan 'wadah' yang layak sehingga bisa menikmatinya. Namun yang terjadi adalah si limpahan air lari begitu saja, atau bahkan menenggelamkan harta benda manusia. Sesuatu yang berlebihan, apalagi tidak didukung lingkungan yang mampu mengatasinya, akan jadi malapetaka.


Jadilah hujan adalah sebuah kutukan.


"Yah... hujan deh"


Begitu yang sarat di telinga saya ketika hujan datang. Hmmm... Kapan ya hujan dan manusia bisa selalu bersahabat?


Jumat, 20 Juli 2012

Ketika Urusan ke Belakang Menjadi Terbelakang


Setelah menikmati fasilitas sederhana kamar mandi milik keluarga Pak Agan di Desa Ponggang, Subang, ternyata saya salah ekspektasi untuk lokasi kerja praktek kedua saya di Desa Cidugaleun, Tasikmalaya. Saya pikir paling tidak saya akan merasakan fasilitas yang serupa, atau mungkin lebih baik.

Saya tidur di tempat mertua salah satu aparat desa yang aktif juga di program Pamsimas Desa Cidugaleun. Namanya Bu Dedeh. Cerita tentang keluarga ini akan saya ceritakan lebih mendetil lagi nantinya. Satu hal yang membuat saya agak kebingungan di rumah ini, ketika saya perlu ke belakang alias kamar mandi.

Rani : "Bu, punten bade wudhu ka mana ya, Bu?" (dengan bahasa Sunda pas-pasan)
Bu Dedeh : "Mangga di sini neng" sambil menunjuk pintu di sudut yang gelap.

Saya buka... dan hanya ada bak mandi di sisi kiri, dilengkapi dengan baskom besar di lantai. Mana klosetnya? Perasaan saya mulai tidak enak. Ada pintu lagi di sebelah kanan saya. Saya berharap ada benda berlubang alias kloset di sana. Hore ada secercah harapan! Saya buka dan di hadapan saya hanya ada air yang terus mengalir ke bak, yang dari bak tersebut dialirkan lagi air ke ember dan luapan air dari ember tersebut di bawahnya terdapat semacam selokan panjang dengan lebar sekitar 10 cm. Arah alirannya ke kolam di belakangnya.

Nggak mungkin di sini.

Setelah wudhu dan menunaikan shalat Ashar, saya iseng bertanya ke Bu Dedeh, di mana tempat buang airnya.

Bu Dedeh : "Ya di situ bisa, Neng"

Saya hanya senyum-senyum. Mencoba ke sana lagi, celingak celinguk dan mencoba mencerna. Saya tidak mungkin mengeluh dan tiba-tiba minta pindah rumah. 

Sebelum Pak Warman pulang, beliau seperti bisa membaca pikiran saya. Ia meminta maaf karena rumah Bu Dedeh adalah salah satu yang belum memasang septic tank dan jamban saniter. Ia menjanjikan pada saya untuk bisa menggunakan toliet di balai desa. Saya pikir wah lumayan juga harus jalan jauh untuk buang air. Karena tidak mau membuat keadaan lebih tidak enak lagi, saya tidak banyak complain.

Seperti biasa, saya pasti menjalani ritual mandi hari pertama di tempat baru dengan makan waktu yang lebih lama. Sibuk mempelajari seluk beluk dan "sudut aman"nya. Si kamar mandi ini berjendela, tetapi lebih cocok dikatakan dindingnya berlubang persegi panjang dengan mengarah langsung ke luar. Ya tetap bisa disebut kamar mandi pribadi sih.  Pemandangan dari jendelanya adalah kandang ayam, kolam, dan rumah tetangga sebelah. Kalau berdiri sebenarnya tetap aman, cuma karena saya agak parno, saya ambil posisi aman saja deh. Berjongkok. Lagi-lagi harus mandi sambil jongkok setelah pengalaman saya yang serupa di Desa Ponggang. Pada saat seperti ini saya sangat bersyukur dan memandang sebuah kamar mandi yang nyaman adalah barang mewah! Terima kasih ya Allah!

Di sisi kiri, itu yang namanya pacilingan

Pemandangan dari jendela kamar mandi

Jadi begitulah sebagian besar kebiasaan warga Desa Cidugaleun. Mengandalkan kolam-kolam pribadi, bahkan tetangganya untuk menjadi tempat penyalur buangan kakus. Sebelum tahun 2009 ketika diberi penyadaran mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat dan didekatkan akses airnya, hampir semua warganya buang air di pacilingan atau pancuran, semacam gubuk kecil di atas kolam. 

Salah satu pacilingan yang telah dibongkar dan tidak lagi digunakan

Saat ini warganya sudah mengalami peningkatan pesat. Sebagian orang telah tersadarkan untuk membuat jamban yang saniter. Bayangkan saja dulunya ketika sebagian besar orang buang air di atas kolam, yang kemudian airnya mengalir ke selokan dan jatuhnya ke sungai. Belum lagi ketika akses air bersih masih jauh, masyarakat mengambil air dari selokan yang sama! Kelihatannya jernih memang air selokannya. Mengalirnya dari gunung. Tetapi ketika semua buangan mengalir ke sana dan digunakan oleh orang di bawahnya, terbayang kan bagaimana kondisi airnya? Terbukti dengan banyaknya kasus diare dan penyakit kulit pada masa itu.

"Kan jadi makanan ikan?"

Warga banyak yang merasa tidak bermasalah dengan kondisi buang airnya yang seperti itu, karena kotoran yang dikeluarkan akan langsung lenyap dilahap ikan. Mereka tidak menyadari bahaya dan efeknya untuk keluarganya, juga untuk orang-orang di lingkungannya. Seperti efek domino. Posisi Desa Cidugaleun merupakan desa dengan elevasi tertinggi jika dibandingkan dengan desa lain di Tasikmalaya. Sungai ini mengalir ke seluruh wilayah di Kabupaten Tasikmalaya. Jadi memang sudah seharusnya diperbaiki dari hulunya, yaitu desa ini. Ketika diposisikan di zaman dahulu ketika penduduk masih sedikit, mungkin hal ini tidak menjadi masalah yang signifikan. Tetapi ketika kepadatan semakin meningkat, apakah akan terus begini?

Kondisi ini saya pandang sangat memprihatinkan. Mengingat bukan selalu persoalan uang yang jadi kendala penyediaan sarana sanitasi yang layak. Tetapi kesadaran si masyarakat itu sendiri. Jangan terlalu berharap banyak ketika melihat fisik luar sebuah rumah dan interior di dalamnya seperti orang berpunya. Tetapi coba lihat ke kamar mandi dan bagian dapur. Apakah sesuai?

Yang penting adalah apa yang terlihat orang lain. 

Ya mungkin itu juga yang jadi salah satu perkaranya. Fenomena ini bukan asing lagi di mata saya. Sebagian besar masyarakat kita masih berpola pikir seperti ini. Yang di belakang, juga jadi urusan belakangan. Padahal justru tempat-tempat itulah jadi tempat kelahiran si bakal penyakit.

Itu pandangan dan opini dari apa yang saya amati. Ketika urusan ke belakang menjadi terbelakang.

Ini kali pertama saya tinggal di tempat yang belum terfasilitasi jamban yang saniter.Ya, menjadi PR besar untuk saya. Untuk selanjutnya, untuk mendalami jenis pekerjaan ini akan tidak asing lagi menemukan hal-hal seperti ini. Ini tantangan! 


Kembali ke kisah saya di Desa Cidugaleun..

Menjalani hari demi hari di desa ini, akhirnya saya agak terbiasa. Makhluk hidup memang diciptakan untuk bisa beradaptasi. Hehe. Belakangan agak menikmati juga bisa memandang langit dan pemandangan di luar sambil berkegiatan kamar mandi. Hahaha. Apalagi di hari keduanya ada pemandangan baru, burung elang peliharaan Budi, anak ketiga dari Bu Dedeh, bertengger di atap kandang ayam. Meskipun ada rasa bersalah saya karena buang air di tempat ini, tapi ya mau bagaimana lagi. Hanya satu hal yang mempengaruhi, saya enggan menyantap ikan buatan Ibu Dedeh. 

Darimana ikannya?? Dari kolaaam. 
Ikannya makan apa?? Ya... jawab sendiri ya. 


Puasa : belajar kompromi dengan diri


puasa /pu·a·sa/ 1 v menghindari makan, minum, dsb dng sengaja (terutama bertalian dng keagamaan); 2 n Isl salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yg membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari; saum;

Saum (Bahasa Arab: صوم, transliterasi: Sauwm) secara bahasa artinya menahan atau mencegah. Menurut syariat agama Islam artinya menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hinggalah terbenam matahari, dengan syarat tertentu, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim. 

Tidak terasa saya telah berjumpa lagi dengan bulan Ramadhan. Alhamdulillah :)

Puasa adalah bentuk pengendalian diri. Ah, saya lebih suka menyebutnya dengan mendidik diri. Kalau yang namanya mendidik anak tidak boleh dimanja, nah begitu juga dengan memperlakukan diri sendiri.

"Hey badan, tetap kuat ya!" (bicara dengan badan sendiri)

Saya jadi teringat pertemuan Forum Hijau Bandung beberapa hari yang lalu mengenai "Ramadhan Hijau". Adalah sebuah fenomena menarik yang cukup menyentil saya, di mana di kala bulan Ramadhan, masyarakat kita cenderung lebih konsumtif. Itulah kenapa momen ini dimanfaatkan oleh sebagian pedagang untuk menaikan harga barang-barang pokok.

Mengapa?

Coba diingat-ingat. Biasanya memasak makan malam biasa-biasa saja, manakala untuk berbuka, apakah menjadi lebih "wah"? Seperti ada kecenderungan untuk memberi "penghargaan" pada diri sendiri atas usaha menahan lapar dan haus seharian. Atau bisa juga sebagai bentuk penyemangat dalam menjalani puasa sebulan penuh. Lantas, apakah sebegitu besarnya bentuk pengorbanan kita sehingga perlu diberi penghargaan terus menerus, sementara pada kenyataannya pengeluaran justru membengkak selama sebulan ini? Itu hanya salah satu bentuk pembenaran yang dibuat oleh kita sendiri, agar tidak ada perasaan bersalah.

Saya tidak munafik. Saya juga penikmat makanan enak. Terkadang justru ketika perasaan lapar itu membuncah, akan ada berbagai macam keinginan. Kita sebut saja namanya "lapar mata". Belum lagi ketika momen Lebaran itu menjadi momen di mana segala sesuatunya perlu dibuat besar-besaran, segalanya harus baru. 

"Baju baru.. alhamdulillah... Bisa dipakai di hari raya..."

Lalu bagaimana esensi tentang Ramadhan adalah sebuah latihan untuk mendidik hawa nafsu?

Ada sedikit ayat yang saya kutip :

Allah berfirman dalam surat [Al-A'Raaf] ayat 31:
"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan"

Nabi S.A.W.juga bersabda:
"Kita ini adalah kaum yang makan bila lapar, dan makan tidak kenyang."


Dan bila dikaitkan dengan kesehatan pun, makan berlebihan setelah perut kosong dalam waktu yang panjang sangat tidak baik untuk kesehatan.

Segala bentuk hawa nafsu bukan melulu soal urusan perut. Belajar berkompromi dengan tubuh, kuasai hawa nafsu, belajar mendidik diri, tenangkan dan sucikan hati. Tubuh kita pun butuh "bernafas" dari proses metabolisme yang terus menerus berjalan tiada henti. Begitu pula dengan hati. Badan ini punya kita sendiri. Kalau bukan kita yang mencoba mengenal dan mengendalikannya, lalu siapa? Puasa adalah ajang kita berlatih! Dan beruntungnya lagi ada bentuk pahala yang dilipatgandakan. Wah, sekali mendayung, 2-3 pulau terlampaui! (Jadi berperibahasa sedikit)

Mohon maaf lahir dan batin. Semoga di bulan Ramadhan ini segala bentuk ibadah kita membawa berkah dan dilipatgandakan untuk kita semua. 

Aamiin... Selamat menunaikan ibadah puasa! :)

Selasa, 21 Juni 2011

Mengapa benci (pelajaran) sejarah?

Saya benci hafalan. Memandang tulisan kecil berdempet dalam berlembar-lembar kertas itu rasanya malas minta ampun. Isinya tahun, nama-nama tokoh, peristiwa, dan tetek bengek lainnya yang rasanya mustahil untuk dihafal semuanya. Sejak masih di bangku SD, saya sudah mengklaim bahwa saya tidak suka pelajaran sejarah. Meskipun sangat terpaksanya harus menghafal, setelah mengerjakan soal toh nanti lupa lagi. Tidak ada yang menarik di situ.

Membaca buku sejarah selain buku dari sekolah? Ah buat apa. Toh baca buku dari sekolah saja sudah susah payah. Jalan-jalan ke museum? Yaaa.. formalitas darmawisata dari sekolah. Kalau tidak ada tugas yang harus dikumpulkan, paling saya hanya liat-liat sepintas saja keterangan-keterangan di tiap pamerannya.

Mengapa saya benci pelajaran sejarah? Tidak, bukan hanya saya. Banyak sekali yang beranggapan bahwa sejarah itu membosankan dan bikin ngantuk. Padahal sejarah itu milik kita semua. Sejarah adalah unsur yang bisa menjadi acuan atau tolak ukur dalam menjalani hidup di masa kini dan masa datang.

Saya tidak mau semata-mata menyalahkan sistem pendidikan kita yang sekarang. Walaupun pada kenyataannya, anak tidak didorong untuk merasa perlu belajar untuk bekal dirinya, tetapi untuk nilai 100 di atas kertas. Belajar sejarah bukan menjadi seperti membaca dongeng yang menyenangkan, tetapi sebuah beban untuk memasukkan sekian ratus kata dalam kepala, yang harus ditumpahkan di atas kertas ulangan sesuai dengan pertanyaan yang diajukan. Pemilihan kata demi kata pun cenderung sama persis seperti di buku. Selain sistem, mungkin dari saya sendiri bukan anak yang cukup kritis pada saat itu, yang saya kejar hanya nilai, nilai, dan nilai.

Justru ketika umur saya mulai hampir menginjak kepala dua, banyak hal yang saya sadari bahwa terlalu banyak yang saya lewatkan. Mengapa dulu saya tidak benar-benar mendengarkan guru "bercerita" tentang sejarah di depan kelas? Karena pada saat itu yang saya rasakan bukan cerita, melainkan hafalan rumit yang kadang membuat mata saya terkantuk-kantuk. Sekarang justru mengenai sejarah Indonesia rasanya sangat menyenangkan untuk didengar dan dicari informasi selengkap-lengkapnya. Segala sesuatunya punya filosofi yang berasal dari sejarah.

Mengapa begini? Pelajari sejarahnya
Bagaimana dengan ini? Pelajari sejarahnya
Di mana lokasi itu? Pelajari sejarahnya
Kapan terjadinya peristiwa ini? Pelajari sejarahnya

Dan masih banyak pertanyaan saat ini yang akan terjawab ketika kita tau dan mengerti sejarahnya. Terutama untuk Indonesia, negara yang sarat akan kebudayaannya. Setiap suku, etnis, dan budaya memiliki sejarah dan kisah masing-masing yang melahirkan sebuah kearifan lokal, kekayaan yang tidak ternilai.

Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Yang jelas, menghafal itu tetap menyebalkan (hehe), tetapi belajar sejarah sekarang menjadi menyenangkan :)

Minggu, 30 Januari 2011

Realita papan mading kampus

X : "Eh ini tolong ditempel di mading-mading ya. Pokoknya di semua mading kampus"
Y : "Siaaaap..."

Begitu Y sampai di mading, yang dia liat adalah kertas bertumpuk, tidak jelas penempelannya. Ada yang sudah copot-copot, ada yang saling timpa satu sama lain. Ada yang baru ditempel kemarinnya, eh sekarang sudah ditimpa poster lain. Y berjalan ke papan mading lain. Ternyata sama saja keadaannya. Timbul juga kekhawatiran poster acaranya besok atau bahkan nanti sore sudah ditimpa orang lain.

Sudah ada gridnya, ternyata tidak berpengaruh banyak

Tumpuk teruus

Tertarikkah kamu membacanya?

Yaaah ini lagi, nggak bisa lihat tempat kosong... mading penuh, tempat manapun jadi

Mau tempel di sebelah mana yaa?

Y : "Wah kalau begini caranya, gimana poster acara gue keliatan orang?"

Sempat terlintas cara membombardir satu papan mading dengan poster acaranya saja. Mau tidak mau orang-orang yang lewat pasti lihat. Hmmm tapi diurungkan niat itu akhirnya. Ia memilih mencopot poster yang tidak berlaku lagi tanggalnya, lalu menempel poster miliknya.

Papan mading ini milik umum.Bukan mentang-mentang saya anak lingkungan lalu saya hanya melihat dari sisi penghematan kertasnya. Ya, memang salah satu kesalahan penggunaan poster gila-gilaan itu adalah pemborosan kertas. Tapi itu hanya efek sampingannya saja. Coba lihat dari sudut pandang lain :
  1. Efektifitas media publikasi.
  2. Toleransi dan rasa saling menghargai. Harusnya masing-masing acara bukannya saling timpa satu sama lain. Cobalah cari slot kosong di samping poster acara yang bahkan masih seminggu lagi diadakannya.
  3. Nilai estetika. Apakah itu enak dilihatnya?
  4. Pemeliharaan fasilitas umum kampus. Menempel dengan lem, meskipun murah tapi itu akan merusak papan mading.
  5. Budaya melihat papan pengumuman, tidak apatis dengan acara-acara kampus. Siapa tahu bermanfaat. Kalau mading rapi dan semuanya hanya menempel masing-masing satu poster maka orang akan sengaja datang ke mading untuk melihat "Ada acara apa aja nih?"
  6. Semua orang akan menjalankan fungsi kontrolnya sebagai warga kampus. Belajar peduli dengan keadaan sekitar dan berani menegur kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, di sini kasusnya adalah soal penggunaan papan mading.
  7. Yang penting kualitas, bukan kuantitas. Mengasah kreativitas orang untuk mencari solusi "Bagaimana cara menarik perhatian orang ke publikasi acara, tanpa harus merugikan acara orang lain dan mengandalkan kuantitas poster?"
  8. Efisiensi penggunaan kertas.
Kalau sarana prasarana di dalam kampus saja tidak mau sama-sama ikut menjaga, bagaimana dengan keadaan di luar kampus? Orang Indonesia katanya paling lemah di bagian pengelolaan dan pemeliharaan. Ayo buktikan bahwa pernyataan itu salah!


"Mulai dari diri sendiri
mulai dari hal kecil,
mulai dari sekarang"

-KH Abdullah Gymnastiar-

Si Oman sampai juga ke Goa Belanda



Halooo perkenalkan ini sepeda kesayangan saya, namanya Oman. Diadaptasi dari Hanoman tokoh favorit saya di cerita Ramayana. Kenapa Hanoman? Karena tanpa ia sadari, ia adalah termasuk orang terkuat. Warnanya juga putih, sama seperti sepeda saya ini. Eits jangan mentang-mentang ini sepeda lipat lalu diremehkan ya. Buktinya saya masih selamat dan kuat gowes dari kampus ITB sampai Goa Belanda, Tahura! :D


Yeay sampai di gerbang Tahura!


Saya mau beri sedikit tips & trick menggunakan folding bike :

  1. Buat ikatan batin dengan sepedamu. Eh jangan bingung dulu. Ini penting lho. Saya sampai menolak ditawari pakai sepeda gunung sama Kak Fariz karena saya lebih percaya sama Oman :)
  2. Percaya sama dirimu dan sepedamu. Ayo! Kamu pasti bisa gowes sampai atas!
  3. Lupakan bahwa dia adalah sepeda lipat. Ah sama saja kok, sepeda-sepeda juga. Hehehe. Karena kalau kita terus-terusan mengingat diameter rodanya yang jauh lebih kecil dari sepeda-sepeda lainnya, kamu bisa stres nanti dan menghitung capeknya.
  4. Jangan gunakan gigi 1 ketika di tanjakan, securam apapun itu. Mengapa? Karena ketika kita menggunakan gigi 1, maka tidak ada harapan lagi untuk lebih ringan gowesnya. Ah pupuslah sudah harapan deh. Lebih baik pakai gigi 2 dan 3 secara bergantian. Kalau sudah gila nanjaknya dan terlalu capek, barulah boleh dipakai, tapi ketika tanjaknya melandai, jangan lupa langsung ganti ke gigi 2 lagi.
  5. Pasang sadel lebih tinggi. Ini juga dilakukan di sepeda-sepeda lain sih. Gowesnya akan lebih kuat karena kekuatannya dari atas badan ke bawah.
  6. Nafas teratur, jangan buka mulut ketika ngos-ngosan. Eh ini juga penting lho, karena tenggorokan akan lebih cepat kering dan haus. Selain itu ketika kita kurangi megap-megap, kelihatannya akan tetap oke dan cool :)
  7. Jangan terlalu sering melihat betapa jauh dan terjalnya tanjakan. Ya okelah kalau dalam kehidupan itu kita harus melihat jauh ke depan. Tapi untuk yang ini kurang saya sarankan, Bung! Melihat betapa jauhnya tanjakan yang mau kamu lewati hanya bikin down. Jadi, konsentrasi aja sama jalanan yang lagi dilewati.
  8. Pakai ransel! Males banget kan kalau harus bolak balik betulin posisi tas? Ini akan sedikit menguras energimu.
  9. Bawa barang seperlunya. Barang bawaan yang berat akan menghambat juga tuh. Eh tapi jangan sampai lupa bawa minum sendiri ya. Ingat! Kurangi sampah botol plastik!
  10. Ambil posisi di garda depan. Meskipun di barisan depan rombonganmu adalah cowok-cowok strong dengan mountain bike yang giginya di depan belakang roda, tetap jaga posisi di depan! Karena ini akan memotivasimu untuk selalu gowes cepat.
  11. Kalau sudah capeknya pol, yah bolehlah dituntun sepedanya. Tapi jangan berhenti ya. Tetap bawa sepedamu pelan-pelan.
  12. Gunakan celana dan sepatu yang nyaman.
Ayo rasakan sensasinya gowes sampai ke tempat (yang menurut pikiran kita) tidak terjamah! Setelah Bumi Sangkuriang, Goa Belanda was my new record!

*)beberapa foto adalah hasil jepretan saudara Fahma. Hatur nuhun Fahma!

Selasa, 27 Juli 2010

Saya suka sore hari


Semua orang pasti suka deh.

Saya suka perpaduan matahari, langit, dan awan. Saya suka melihat aktivitas matahari. waktu baru muncul maupun saat akan tenggelam. Seneng banget ketika saya melihat ke atas dan langit sedang cantik-cantiknya. Terutama waktu sore hari! Langit yang merah, matahari yang tidak panas di kulit, dan angin yang hembusannya pelan.

Subhanallah. Dengan melihat ini saja rasanya sedikit terhibur. Hiburan mata gratis!


senja di kampus


senja dari beranda kamar