Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 April 2015

Al-Umanaa : Sekolah = Belajar Hidup

Pendidikan, dalam bahasa Arab adalah Tarbiyah, akar katanya berasal dari kata Rabb yang mengandung berbagai macam makna, yaitu di antaranya mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara.

Kilasan pemaknaan pendidikan ini mengawali kekaguman saya terhadap sekolah yang satu ini. Al-Umanaa. Dengan pemaknaan tersebut, sekolah ini memiliki prinsip 
Sekolah adalah belajar hidup, tamat sekolah harus dapat hidup, bukan baru mulai belajar hidup.
Ya, dari sekolah, seseorang harus siap menghidupi dirinya sendiri dan mampu mengelola alam sebagai salah satu unsur penting dalam memenuhi penghidupan itu. 

***

Perjalanan saya dan tim FOODLAP ; Anka, Ridho, Rizan, dan Eva dimulai dari keberangkatan pukul 4.30 pagi untuk menghindari kemacetan arus Bandung-Sukabumi. Sejak tahun 2014, Al-Umanaa berdiri di atas lahan seluas 8 hektar di tanah Kabupaten Sukabumi. Pukul 9.00 kami tiba di kawasan Al-Umanaa yang sejuk dan asri. Kami disambut hangat oleh pengurus Al-Umanaa, yang salah satunya adalah kawan kami, Mahdi. Ditemani secangkir teh manis hangat, perkenalan tentang sekolah ini diawali. 

Selamat datang di Al-Umanaa!
Gedung sekretariat merangkap gedung serbaguna
Pada saat kami berkunjung ke sana sedang berlangsung pekan bahasa Arab. Berbekal kemampuan bahasa Arab kami yang masih level awal, kami hanya mampu memahami sepotong demi sepotong percakapan antar penghuni Al-Umanaa dan mengucapkan syukron (terima kasih) ketika diberikan sesuatu. Hehehe. Dari pengamatan saya, seluruh murid dan pengajar mampu berkomunikasi fasih dengan bahasa arab. Ternyata sistem pekan bahasa ini diberlakukan pula untuk dua bahasa resmi lainnya, yaitu bahasa jepang dan bahasa inggris. Kemampuan bahasa ini diasah dalam aspek dasar membaca, menulis, dan berbicara.

Kemampuan berbahasa hanyalah satu dari sekian banyak materi yang ditanamkan di Al-Umanaa untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan siap menghadapi tantangan perkembangan dunia saat ini. Al-Umanaa percaya bahwa pengembangan SDM adalah kunci keberhasilan suatu bangsa untuk meningkatkan seluruh aspek lainnya. Selain menanamkan teori-teori seperti di kebanyakan sekolah lainnya, sekolah ini memberikan praktek nyata di lapangan. Kemampuan dasar lainnya adalah kemampuan dalam pengembangan pertanian dan peternakan yang menyokong kebutuhan primer manusia yaitu pangan. Kunci keamanan suatu negara tanpa pengaruh kondisi ekonomi di luar adalah kesiapan bahan baku pangannya. 

Dari keterampilan pertanian dan peternakan itu pula dikembangkan kemampuan berwirausaha. Pendidikan untuk menghidupi diri secara mandiri benar-benar lengkap diberikan di sekolah ini! Rupanya praktek pertanian organik dan peternakan ini juga memiliki pesan penting dalam memilih asupan makanan sehari-hari. Asupan makanan alami dan bergizi sudah menjadi pilihan utama seluruh murid dan pengajar Al-Umanaa. Di kala kondisi bahan makanan kita yang penuh dengan pengawet dan bahan penyedap, mereka mampu memilih dan mengelola makanan sehatnya sendiri!


salah satu sudut Integrated farming
Sudut Al-Umanaa
Salah satu prinsip pendidikan yang paling saya kagumi di sini adalah keteladanan. Bagi seluruh pengajar Al-Umanaa, hal ini sudah menjadi prinsip. Ketika mengatakan sesuatu, maka diri sendiri harus melaksanakannya. Begitu pula halnya di murid-murid. Bagi siapa saja yang maju sebagai pemimpin, maka ia harus mampu memberikan teladan, baik secara ilmu, perbuatan, hingga stamina fisik. Maka jangan heran kalau ketua murid (sejenis OSIS) di sini adalah sosok yang pintar, berakhlak, sehat, dan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan lapangan seperti mencangkul dan beternak!

Konsep-konsep pendidikan ini rasanya kurang afdol kalau dibuktikan sendiri. Dari pengalaman kami menginap satu malam, kami berhasil mendapatkan bukti-bukti nyata hasil pendidikan Al-Umanaa. Mulai dari interaksi dengan pengajar, beberapa murid yang sangat santun, hingga orang tua murid, kami mendapatkan bukti yang sangat nyata bahwa konsep pendidikan Al-Umanaa memang keren sekali! Hal ini pun diamini oleh seluruh orang tua yang sempat kami temui. Mereka mengaku takjub dengan perubahan positif anak-anaknya setelah melalui beberapa waktu di Al-Umanaa. 

Puncaknya adalah saat kami mendapatkan kesempatan untuk melihat penampilan beberapa murid di kelas yang menunjukkan kepiawaiannya dalam berpuisi, bercerita, pidato, bermain drama, alat musik, dan lain-lain. Sebagian besar masih duduk di bangku 1 SMP, di mana di saat itu juga kami benar-benar dibuat kagum sekaligus malu dengan kemampuan kawan-kawan Al-Umanaa yang jauh di atas kami pada usia itu. Dalam benak saya, saya yakin sekali kalau mereka adalah bibit-bibit unggul yang siap berada di garda depan pembangunan Indonesia, sekalipun kita akan melalui persaingan yang sangat ketat dengan bangsa lain.

Salah satu penampilan murid-murid Al-Umanaa
Bukti nyata lainnya adalah hasil karya murid dalam pembentukan konsep integrated farming. Mulai dari pengolahan sampah dapur dengan black soldier flies, peternakan lele, ayam, kambing, soang, kebun sayur dan buah, serta uji coba peternakan lebah. Setiap bentuk pengembangan di area ini diprakarsai oleh murid-murid sendiri, yang tergabung dalam kelompok penelitian dan pengembangan. 

Keaktifan murid-murid dalam praktik di lapangan dan keinginannya yang sangat kuat untuk belajar juga ditunjukkan pada saat kami sempat mendapat kesempatan untuk berbagi mengenai black soldier flies di kelas setelah usai shalat subuh. Di momen itu, seluruh murid mendengarkan setiap ada yang berbicara dengan sangat baik, sebuah hal yang sangat jarang saya temui saat ini, baik oleh orang dewasa sekalipun. Selain itu muncul pula beberapa pertanyaan jenius hasil praktik mereka di lapangan yang membuat diskusi menjadi semakin hangat. 


Diskusi penerapan black soldier flies yang difasilitasi Rizan
Foto bersama setelah diskusi
Sayangnya waktu kami di sana hanya semalam saja. Setelah sarapan dan menikmati air kelapa muda dari pohon sendiri, kami sempat berbincang kembali dan mendapat suntikan-suntikan semangat. Optimisme kami semakin tersulut. Perjalanan pulang yang memakan hingga 6 jam pun tidak terasa karena rasa puas dan energi hati yang kembali terisi penuh!

Ini adalah bukti penerapan pendidikan yang sebenar-benarnya untuk menyiapkan SDM Indonesia menembus tantangan-tantangan di masa depan!


Jumat, 09 Januari 2015

Bermain Ke Markas Komandan Lalat

(Sumedang, 25/12) Setelah melewati hampir 3 jam perjalanan dari Bandung dan melewati ramainya arus lalu lintas pantura, sampai juga kami di kaki Gunung Tampomas, Sumedang Utara. Tanggal merah ini kami agendakan untuk menemui Profesor Agus Pakpahan yang di tengah kesibukannya menerima kehadiran kami untuk belajar dan berdiskusi. Profesor Agus ini belakangan sering disebut-sebut sebagai 'komandan lalat' yang ramai di media. Mulai dari media lokal hingga nasional. 

Fokus saya dan tim Foodlap dalam mencari teknologi-teknologi pengolahan sampah yang alami, mempertemukan kami dengan jenis lalat menarik yang satu ini, Black Soldier Flies (BSF). Cerita lengkap pertemuan kami dengan teknologi ciptaan Allah ini akan saya ceritakan di lain waktu. Singkat cerita, rasa penasaran kami terhadap hewan inilah yang kemudian mempertemukan kami dengan Profesor Agus.

Di depan rumah tuanya yang besar, kami disambut hangat. Obrolan kami diawali dengan perkenalan diri masing-masing, terutama kami, si anak-anak muda yang sengaja mengontak beliau untuk belajar mengenai lalat ke Profesor Agus atas penelitiannya selama 4 tahun. Kemudian dengan yakin beliau menceritakan latar belakang beliau dalam meyakini BSF sebagai solusi.

Asupan Protein Masyarakat Indonesia
"Asupan protein masyarakat kita yang senilai 13,5 gram/tahun dinilai sangat rendah, 2000 kali lebih rendah dari asupan protein warga Eropa yang rata-rata mencapai 70 gram/hari setiap orangnya."
Yang membuatnya semakin prihatin, dari sebuah buku, ia temukan bahwa tingkat IQ orang Indonesia rata-rata hanya 85. Rupanya ini sangat berkaitan dengan asupan protein yang merupakan nutrisi yang krusial dalam perkembangan otak. Kemudian Prof Agus memutar otaknya dan meyakini bahwa asupan protein tersebut utamanya disuplai oleh makanan, dengan sumber protein yang paling murah saat ini adalah ikan dan unggas. 

Masalah selanjutnya muncul. Rupanya tantangan terbesar dalam dunia peternakan adalah soal pakan. Biaya pakan memakan 70-80% biaya total pengembangbiakan ternak. Pakan di Indonesia terkenal mahal karena produk atau bahan bakunya hampir 90% impor. Beliau juga menyatakan bahwa salah satu penyebab pemanasan global adalah emisi gas buang tranportasi. Salah satu faktor pendorongnya adalah tingginya arus transportasi untuk pengangkutan pakan yang jauh-jauh harus diimpor. Lebih parahnya lagi, pakan tersebut merupakan hasil pemrosesan pabrik yang kandungannya tidak segar lagi. Prof Agus sendiri mengakui bahwa betapa pentingnya pemberian pakan segar dan alami untuk hewan ternak yang nantinya akan disantap oleh manusia


Masalah Protein + Sampah = Black Soldier Flies

Rentetan masalah tersebut mengasah ide beliau untuk berinovasi mencari tahu alternatif pakan yang tinggi protein, mudah, dan murah. Beliau memulai eksplorasinya pada tahun 2010. Faktor penting lainnya yang menjadi dasar pertimbangan beliau dalam melakukan eksplorasi adalah faktor iklim Indonesia yang dilalui garis khatulistiwa, sehingga memiliki karakteristik hot, wet, dan humid. Pilihan beliau jatuh pada jenis serangga lalat, namun bukan seperti lalat rumah kebanyakan. Saya sendiri mengakui bahwa jenis Black Soldier Flies ini mempunyai berbagai macam kelebihan dan karakteristik mencengangkan yang memang didesain secara alami membantu manusia.

Profesor Agus menambahkan poin konsep dalam pengelolaan sampah. Selain 3R (reduce, reuse, recycle), beliau menambahkan recreate dan revalue. Jadi bagaimana dalam pengolahan sampah ini bisa menghasilkan sumber daya baru dan meningkatkan potensi nilai dari sampah itu. Proses pengolahan menggunakan BSF ini berpotensi pemanfaatannya dalam berbagai bentuk, yaitu : protein yang dimanfaatkan untuk pakan, biostimulan, hasil sekresi larva untuk bahan pupuk cair, dan sisa-sisa kepompong dan bangkai lalat yang memiliki kandungan citosan. 

Transformasi sampah menjadi ayam

Setelah mengobrol panjang sebagai pengantar awal, kami diajak untuk menengok 'kandang lalat' beliau. Letaknya tidak jauh dari rumahnya, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Namun kami sama-sama menggunakan mobil untuk mempersingkat waktu. Sampailah kami di kandang lalat beliau. Tempat pengembangbiakan yang mampu mengolah 400-600 kg sampah per hari ini memiliki beberapa bagian. Pertama, rearing house yang merupakan kandang lalat untuk lalat tumbuh dan bertelur. Di kandang sederhana ini berkeliaran lalat-lalat hitam dan hinggap di jaring-jaring dan permukaan dedaunan di dalamnya.

Kedua, reactor house yang merupakan ruang larva, di mana di tempat inilah sampah diolah oleh ratusan ribu larva kelaparan. Kami dibuat terkagum-kagum dengan rentetan penjelasan dari Profesor Agus dan proses pengolahan sampah yang dilakukan oleh sekelompok larva lalat ini. Mata saya berbinar ketika melihat penuh dan ramainya belatung di antara sampah-sampah yang menjadi santapan mereka. Menariknya, area ini sama sekali tidak tercium bau busuk sampah. Hal ini dikarenakan sampah terolah secara cepat oleh si larva. Setiap hari 400-600 kg sampah pasar Sumedang dan isi rumen sapi di masukan ke dalam reaktor-reaktor berisi larva dan akan habis hari itu juga. Larva yang sudah dipanen disimpan di satu ruangan tersendiri, dan siap menjadi makanan segar untuk ayam-ayam yang dipelihara. Ya, tempat pengembangbiakan BSF ini terintegrasi dengan kandang ayam milik beliau. 

Atas idealisme Profesor Agus, ayam-ayam ini ditumbuhkembangkan secara alami. Tanpa vaksin dan asupan makanannya hanya dengan larva BSF dan dedak. Balai Penelitian Peternakan yang sempat mampir ke tempat beliau sempat melakukan pembedahan pada ayamnya dan terbukti sehat. Daya tahan tubuh ayam tergolong lebih kuat dari ayam lain dengan pakan pabrikan biasa. 

Teknologi ciptaan Tuhan memang keren sekali! Saya juga sangat bersemangat mengaduk-aduk dengan tangan saya, sekumpulan larva dewasa dalam 2 baskom besar yang siap menjadi santapan ayam. Larva-larva berwarna gelap yang masih menggeliat-geliat membuat geli telapak tangan saya.

Sumber : instagram @adriarani

Setelah puas berkeliling, kami masih melanjutkan diskusi hingga pukul 3 sore. Wah hampir 5 jam lamanya kami menghabiskan waktu 'liburan' satu hari kami di sini. Kekhawatiran akan padatnya lalu lintas menuju Bandung yang membatasi waktu kami.

***

Senang sekali bisa berbagi dan mendapat motivasi dari Profesor Agus. Tetap berkarya dan bermanfaat tanpa mengenal usia. Kami yang masih muda-muda ini mendapat banyak dorongan semangat dari beliau dan istri. Yang paling berkesan untuk saya adalah, ide-ide dan inspirasi beliau yang hampir selalu muncul dari mengamati situasi dan petunjuk dari alam. Ya, saya sangat percaya kalau teknologi paling canggih sebenarnya sudah dirancang sedemikian rupa di alam, hanya bagaimana manusia mampu menerjemahkan dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat manusia. :)


"...(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah..." (Ar-rum:30)


Selasa, 10 Desember 2013

Santapan Cepat Saji Tanpa Rasa Bersalah





Ritme kehidupan di era saat ini membuat sebagian besar orang tidak mampu menyisihkan banyak waktu untuk pemenuhan urusan perut. Khususnya untuk usia mahasiswa dan pekerja yang dipadatkan dengan berbagai aktivitas. Untuk itu jenis makanan cepat saji mau tidak mau menjadi pilihan utama. Lain lagi ceritanya untuk sebagian besar orang yang sengaja memilih jenis makanan ini atas dasar selera, trend, dan pemuasan lidah. Bahkan ditemukan pula bahwa konsumsi jenis fast food menjadi salah satu pilihan untuk memberikan reward pada diri sendiri, meskipun ada sedikit perasaan bersalah dalam mengonsumsinya. Berbagai macam alasan ini mengakibatkan fenomena fast food makin menjamur, khususnya bagi masyarakat urban. 

Fast food = Junk Food?

Saya bisa bilang hampir semua makanan cepat saji dapat dikategorikan pula sebagai junk food. Konsumsi yang mengenyangkan, tetapi hanya berujung pada peningkatan kolesterol dan lemak yang tinggi untuk tubuh. Junk food bersifat sangat addictive bagi penikmatnya. Belum lagi produk-produk makanan yang beredar di supermarket saat ini semakin tidak familiar kandungannya. Istilah-istilah aneh yang-bahkan-saya-tidak-mampu-melafalkan-dengan-benar memenuhi bagian daftar kandungan yang terdapat pada kemasan makanan dan minuman saat ini.

Di tengah keprihatinan itu, Helga, sahabat saya sejak SD yang satu ini dengan semangat menggebu-gebu menumpahkan keluh kesahnya tentang fenomena kandungan makanan dan minuman yang dikonsumsi masyarakat saat ini. Di balik keluhannya, ia ceritakan juga ide dan mimpi besar bersama partnernya, Max. 

Mimpi besar membawa pasangan ini memutuskan untuk kembali ke tanah air setelah 4 tahun mengeyam pendidikan tinggi di Belanda. Iming-iming pekerjaan dan gaji berlimpah di sana kalah dengan idealisme dan spirit untuk membangun usaha dan kampanye di bidang makanan sehat. Wow!

Terhitung semenjak bulan Juli-November mereka sibuk mewujudkan ide hingga akhirnya semua orang bisa mencicipi karya mereka. Hamburger menjadi pilihan makanan yang mereka jual, sebagai salah satu jenis makanan yang paling digandrungi para pecinta fast food. Max sebagai vegetarian mewujudkan sajian ini dalam kandungan yang lebih 'ramah' untuk tubuh kita. 

Patty yang biasanya berbahan baku daging diwujudkan dengan pilihan bahan jamur, bayam, atau kacang-kacangan. Roti yang biasanya mengandung pemutih, mengandung banyak gula, dengan bahan lain yang mengenyalkan tekstur diwujudkan dengan homemade bun berbahan gandum namun tidak kalah enak tekstur dan rasanya. Saus mayonnaise dengan lemak tinggi diwujudkan dengan homemade light mayonnaise.

Yes, they call it Burgreens!


Welcome!


Sebagai pecinta makanan sejujurnya saya sangat menikmati sajian berkualitas ini. Terlebih idealisme dan konsep mereka yang kuat, bukan hanya kepentingan meraup keuntungan semata. Lokasi dengan wilayah perumahan di bilangan Rempoa ini disulap menjadi cafe dengan ukuran yang tidak terlalu besar, namun sangat meneduhkan pengunjung. Dengan konsep dan sentuhan yang sangat personal dari Banyu dan Helga, kita berhasil dibuat betah berlama-lama di sini. Cuaca dan matahari yang terik terhalang dengan teduhnya pohon-pohon kamboja di sekitar meja. Sebagai pemain baru di bisnis makanan dengan konsep yang unik, tim Burgreens juga berusaha menjaga hubungan personal dengan setiap pelanggannya.


Pemandangan ke dalam dapur
Say Hello! Here you are, the  open kitchen
Interior dengan sentuhan yang personal
Sajian burger yang sangat mengenyangkan dapat dipilih sesuai selera. Mulai dari patty, bun, dan sausnya. Namun jika baru pertama kali ke sini dan penasaran untuk mencicipi ketiga jenis patty sekaligus, Anda bisa memilih menu Mini Trio. Tiga burger mini dengan patty yang berbeda-beda ; Mighty Mushroom, Spinach Chickpeas, dan Battlebeans


Ayo tentukan menu pilihanmu!
Yummy Mini Trio :9 
Untuk sajian minum disediakan pula minuman yang cocok untuk udara Jakarta yang panas. Pesanlah smoothies yang tidak hanya menyegarkan, namun juga menyehatkan; Groovy Berry dengan campuran pisang, strawberry, dan susu kedelai; Cheerish Choco dengan campuran pisang, nanas, susu kedelai, dan dark chocolate ; Green Goblin dengan campuran pisang, nanas, bayam, strawberry, dan plain yoghurt. Yummy! 

Sebagai pecinta dessert, tidak ketinggalan saya pesan 1 scoop raw ice cream, Chunky Monkey. Lengkap sudah! Mengenyangkan sekaligus menyehatkan badan. Saya makan tanpa rasa bersalah sama sekali! :) Hehehe. Selain itu kita bisa juga membawa pulang Homemade Peanut Butter, Rawballs, dan Sweet Potato Chips. Semuanya asli dibuat oleh tangan Chef Max sendiri. Untuk yang suka ngemil seperti saya, sweet potato chips berbahan ubi ungu yang digoreng dengan canola oil ini membuat ketagihan banget! Padahal bumbu yang digunakan tanpa MSG sama sekali.


Chunky Monkey Ice Cream
Sweet Potato Chips
Ingin memuaskan lidah dan perut tanpa rasa bersalah? 

Burgreens dapat ditemui di beberapa festival. Namun jika ingin mencicipi seluruh 'karya' Burgreens dan menikmati suasananya, saya sarankan untuk mampir langsung ke cafe mereka. Waktu favorit saya adalah di sore hari. Angin berhembus semilir dan udara tidak terlalu panas. Di tempat ini tersedia fasilitas wifi jika ingin berlama-lama dan memboyong pekerjaan ke sini. Untuk yang tidak berkendaraan pribadi, Burgreens dapat dengan mudah dijangkau dengan angkot S08 dari arah Terminal Lebak Bulus, dan kemudian turun di depan belokan Jalan Flamboyan (sebelum Giant Supermarket Rempoa dan persis dekat Alfamart). Lalu jalan kaki kira-kira 200 meter lurus ke dalam. Anda dapat temukan Bugreens di sisi kiri jalan.

Had enough junk food? Come over!


Burgreens Organic Eatery & Home Delivery
Jl.Flamboyan no 19

Rempoa, Jakarta Selatan
Tuesday - Friday 12 am - 9pm
Saturday - Sunday 9am - 9pm


Waze: BURGREENS eatery
Facebook Fanpage : Burgreens
Instagram : @burgreens #eatwhatyoucanpronounce


Rabu, 09 Januari 2013

Jelajah Rumah Ibadat : Gereja Katedral Jakarta

Arsitektur luarnya membuat saya sebegitu penasarannya dengan interiornya. Namun ada perasaan enggan dan ragu untuk masuk ke dalam, yaitu terbentur oleh perasaan tidak enak mengganggu aktivitas beribadah agama lain.

Tahun lalu tepatnya, di tengah obrolan ngalor ngidul saya dan teman-teman, tercetus keinginan untuk mengintip isi Gereja Katedral Jakarta itu. Dari salah satu di antaranya saya dapatkan informasi kalau terdapat museum di dalamnya yang dibuka untuk umum di hari-hari tertentu! Berbekal pencarian di internet, saya dapatkan informasi lengkap untuk bertamu ke gereja ini! Hore!

Gereja Katedral Jakarta (nama resmi: Santa Maria Pelindung Diangkat Ke SurgaDe Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming) adalah sebuah gereja di Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu. (Wikipedia Indonesia)

Saya putuskan untuk ke sana pada hari Rabu. Museum dibuka pada pukul 10.00 WIB. Setelah sempat mampir ke Monas sebentar sambil menunggu pukul 10 pagi, akhirnya kami sampai di depan gereja ini. Kami beragama muslim. Lagi-lagi ada perasaan tidak enak, namun ketika sudah memberitahukan maksud kami untuk mengunjungi museum, dengan ramah si penjaga gerbang langsung menunjukan jalan menuju ke museum yang terletak di lantai 2.

Tampak luar gereja
Tampak dari depan terdapat tiga puncak menara yang menjulang tinggi. Sebuah menara kecil di atas dan di tengah-tengah atap, yaitu Menara Angelus Dei. Menara ini diapit dengan dua menara yang menjulang setinggi. Menara disebelah utara, yang bentuknya menyerupai benteng disebut Benteng Daud yang melambangkan Maria sebagai perlindungan terhadap kuasa-kuasa kegelapan. Sedangkan yang di sebelah Lapangan Banteng disebut Menara Gading, gading yang putih dan murni melambangkan keperawanan Maria.

Masuklah dari pintu samping, dan telusuri ruang misa utama. Perasaan saya meledak-ledak ketika memasuki ruang ini. Sangat megah! Saya sangat bersemangat karena akhirnya bisa mengobati rasa penasaran saya setelah sekian lama. Hore!


Pintu masuk utama
Kami menyusuri deretan kursi panjang sebelum akhirnya sampai ke tangga menuju ke lantai dua. Di sini letak museumnya. Museum terletak di balkon. Dahulu kala tempat ini digunakan untuk tempat paduan suara. Mengingat kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi, maka tempat ini dipergunakan untuk menyimpan benda-benda bersejarah.

Salah satu sisi dalam museum
Kami disambut hangat oleh si penjaga museum, wanita usia 50-60an yang dengan ramah memberikan sedikit cerita. Di museum ini dipamerkan alat-alat ibadat, kasula (pakaian ibadah yang digunakan pastor/uskup/imam), patung-patung, buku-buku, lukisan, foto, dan benda-benda yang dianggap memiliki nilai sejarah. Di sepanjang dinding terpampang lukisan wajah Paus Paulus dari masa ke masa. Kami bisa mengambil foto sesuka hati. Setiap relief terlihat menarik di sini!


Kaca patri warna-warni yang cantik



Sudut dari tengah-tengah balkon. Megah!
Beberapa saat lamanya saya menikmati duduk di ruang misa. Altar berbentuk tiga buah setengah bundaran. Bagian tengah merupakan Altar Utama, bagian kiri adalah Altar Maria dan bagian kanan adalah Altar Santo Yosep. Saya duduk di salah satu sudut kursi panjang. Saya ambil posisi di tengah, pelan-pelan mengambil foto kemegahan interior ruangan dan memandangi kekhusyukan beberapa orang di sini yang tengah berdoa, tanpa mengganggu privasi mereka dan Tuhannya.


Sudut dari antara kursi-kursi panjang

Di halaman gereja terdapat Goa Maria, salah satu sudut yang perlu dihampiri dalam ritual ibadah di sini. Goa ini mirip dengan Goa Maria di Lourdes Perancis. Lalu lalang burung merpati putih semakin mengentalkan suasana gereja. Duduk sejenak di halaman ini rasanya sangat menenangkan.


Goa Maria



Petualangan di Gereja Katedral kami sudahi pada waktu adzan Dzuhur. Tinggal menyebrang sedikit, sampailah saya di Masjid Istiqlal untuk menunaikan shalat Dzuhur.

Untuk yang sedang mencari tempat bersejarah untuk jalan-jalan di Jakarta, cobalah sesekali wisata tempat ibadah, salah satunya ke Gereja Katedral Jakarta. Hati-hati dalam mengambil gambar dengan kameramu, jangan sampai mengganggu dengan mengambil foto yang mencolok dan perhatikan daerah yang boleh dan tidak boleh difoto.
Selamat menjelajah!

Gereja Katedral Jakarta
Jl. Katedral No.7B 
Pasar Baru Sawah Besar 
Jakarta Pusat
Dibuka untuk umum hari Senin, Rabu, Jumat pukul 10.00-12.00 WIB


*)Informasi detail mengenai gereja didapatkan dari situs resmi Gereja Katedral. Untuk tahu sejarah detailnya, bisa dibuka di situs resmi tersebut.

Kamis, 27 Desember 2012

Jelajah Kawasan Karst Citatah, Padalarang

Bandung, 9 September 2012

Sudah tercatat di agenda saya dari jauh hari sebelumnya. Geotrek adalah bentuk kegiatan jalan-jalan sambil memperkenalkan sudut pandang geologi, yang diselenggarakan oleh mahasiswa teknik geologi ITB. Setelah dua kali gagal ikut kegiatan ini, akhirnya kali ini kesampaian juga. Dan beruntunglah saya karena edisi kali ini adalah tepatnya di lokasi yang memang sudah saya rencanakan akan berpetualang ke sini selama saya masih kuliah di Bandung!

Dengan setelan  kaus lengan panjang, celana jeans yang nyaman, kain tutup kepala, sepatu bertali, dan ransel hitam yang lengkap dengan segala perbekalan, saya pun meluncur ke monumen kubus, di depan Taman Ganesha. Padatnya kegiatan sehari sebelumnya tidak menghalangsi saya bangun pagi-pagi sekali. Saya menuju spot pemberangkatan dan pengumpulan peserta tersebut tepat pukul 6.30. Sepertinya masih cukup sepi. Setelah ngobrol ngalor ngidul dengan peserta lain yang adalah masih teman-teman ITB juga, akhirnya acara dibuka.

Pak Budi Brahmantyo

Setelah sering mendengar cerita seru tentang beliau, membaca buku Wisata Cekungan Bandung, dan beberapa artikel di blognya, akhirnya saya bisa mendengarnya berbagi ilmunya secara langsung! Pak Budi adalah dosen sekaligus kepala program studi Geologi ITB yang terkenal aktif di dunia pergeologian. Salah satu ketertarikan terbesar saya mengikuti Geotrek ini adalah salah satunya karena kehadiran Pak Budi sebagai "pendongeng" kami. Ya memang pada dasarnya saya senang berjalan-jalan ke lokasi dengan bumbu cerita, sejarah, dan budaya di dalamnya. :)


Kami akan mengunjungi deretan Karst Citatah. Sebelumnya saya mengenal tempat ini sebagai salah satu alternatif tempat untuk melakukan olahraga panjat tebing. Nah, saat ini saya akan ikut belajar mengenai asal usulnya dan dari kacamata para geologis!

Karst adalah sebuah bentuk permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression),drainase permukaan, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping. (Wikipedia Indonesia)

Ya, sebagian besar batuan di wilayah ini adalah batuan gamping, atau lebih familiar disebut dengan batuan kapur. Kami melewati deretan pabrik batu gamping untuk bahan baku cat tembok sampai bahan pasta gigi.

Deretan bukit batuan ini disebut Formasi Raja Mandala yang jalurnya hingga Pelabuhan Ratu dan Formasi Citarum. Seperti cerita sejarah zaman dahulu bahwa wilayah Bandung sebelumnya adalah sebuah danau, nah begitu pula dengan wilayah ini. Namun bukan saja danau, tetapi lautan sedalam 30 meter! Kondisi itu terjadi pada 20-30 juta tahun yang lalu. Maka selayang pandang kami saat itu adalah deretan tetumbu karang pada zamannya.


Gunung Hawu

Natural brigde atau yang lebih beken dengan sebutan Gunung Hawu ini adalah bentuk tebing batuan dengan lubang besar di tengahnya. Mengapa hawu? Hawu dalam bahasa Sunda artinya adalah tungku. Disebut hawu karena bentuknya yang menyerupai tungku.Lubang tersebut terbentuk terbentuk jutaan tahun lamanya, akibat hujan asam dengan pH 4 yang mengakibatkan proses karstifikasi. Karena bentuk reaksi kimia di dalamnya, maka terjadi pelarutan secara vertikal di dalamnya yang mengakibatkan runtuhnya bagian tengah, dan membentuk seperti jembatan di bagian atas.


Gunung Hawu
Di titik ini Pak Budi memberikan sedikit demonstrasi pembuatan sketsa pegunungan batuan ala geologis sambil menjelaskan beberapa detil yang harus dipenuhi dalam membuat sebuah sketsa. Hal-hal yang perlu dilakukan adalah seperti pengukuran kemiringan bidang dengan kompas, bagaimana mengambil sudut pandang, hingga pentingnya kontrol proporsi vertikal dan horizontal yang biasanya menggunakan pensil sebagai media bantu. Sketsa dalam geologi sangat penting karena di situ terdapat proses berpikir, katanya. 


Pak Budi asyik membuat sketsa
Kemudian kami berjalan naik lagi dan mengitari "lubang" itu dari sisi belakang. Di sini kami beristirahat dan diberi kesempatan untuk membuat sketsa yang nantinya akan dilombakan antar peserta oleh panitia. Dengan mulut penuh kunyahan kue, saya mulai sok tahu corat-coret menggambar salah satu tebing di hadapan saya. Panas terik matahari benar-benar sampai ke ubun-ubun! Namun energi kami tetap terisi penuh.


Menuju Pasir Pawon

Gua Pabeasan

Setelah melewati turunan tajam dengan berpegangan pada tali, sampai juga ke destinasi berikutnya, Gua Pabeasan. Pabeasan dalam bahasa sunda artinya tempat beras. Di dalam gua ini sempat terjadi gempa pada tahun 1910. Hal ini diduga menjadi penyebab jatuhnya batu-batu besar, yang menjadikan asal muasal gua terbentuk. Ada lubang baru tepat di atas kami yang menurut cerita dari Pak Budi, pada tahun 2002 belum ada. Wah pada saat itu saya agak deg-degan karena kalau-kalau terjadi gempa ketika posisi kami sedang berada di dalam situ, tewas tertiban batu-batu besar lah kami. Dari Pak Budi, saya jadi tahu kalau ilmu yang secara khusus menelusuri gua adalah speleologi. Dari analogi bahwa orang zaman dahulu tinggal di dalam gua, maka akhirnya ditemukan pula Gua Pawon, destinasi kami selanjutnya.


Pintu masuk Gua Pabeasan

Stone Garden

Tepat pukul 12 siang, kami digiring ke Taman Batu. Seperti namanya, sejauh mana memandang, kami bisa melihat hamparan batuan yang tersusun tidak beraturan namun tampak apik. Lokasinya terletak di Pasir Pawon. Pasir di sini maksudnya adalah bukit. Dari bukit ini kami diajak untuk melihat sebentar dari lereng pasir pawon. Kami diajak untuk melihat Gunung Masigit. Di sana adalah tempat masyarakat sekitar sini menggali bebatuan. Fakta menyedihkan bahwa mereka hanya dibayar 30 ribu rupiah saja tanpa jaminan keselamatan!

Kami diberi waktu lagi sebentar untuk mengitari Stone Garden yang sangat luas ini. Pergilah ke salah satu sudutnya, maka kita akan menemukan batu yang susunannya menyerupai gerbang. Oleh orang-orang setempat konon dipercaya sebagai gerbang menuju alam gaib. Kemudian ada lagi julukan untuk batu lainnya, yaitu batu mesra, karena 2 buah batu ini saling bersenderan. Hehehe.


Stone Garden

"Gerbang"

Tekstur batuan yang seperti karang. Bukti otentik bahwa wilayah ini dulunya adalah dasar lautan !
Hampir di puncak Pasir Pawon, terdapat sebuah makam. Batu di sekelilingnya membentuk pola melingkar. Kami berspekulasi bahwa lokasi ini digunakan untuk semacam ritual. Batu-batu yang tampak bukan dari bukit ini mungkin sengaja dibawa untuk pemenuhan sebuah ritual.

Nah, makam ini diidentifikasikan sebagai makam seorang muslim, dikarenakan arahnya yang menghadap ke barat, yaitu arah kiblat. Tetapi ada fakta menarik lagi bahwa selidik punya selidik kabarnya ini adalah makam kosong! Kisahnya berawal dari seorang ibu-ibu dari Cianjur yang datang ke tempat ini dan merasa mendapat bisikan. Bisikan itu kemudian direspon dengan ritual yang berhasil membuat ibu itu menjadi kaya. Maka dibuatkan nisan karena diduga lokasi tersebut dihuni oleh leluhur sakti.

"Semua tempat yang memiliki nilai gaib pasti bisa dirasakan oleh semuanya ", kata Pak Budi. Maka mungkin sejak zaman dahulu daerah makam ini mempunyai nilai gaib.


Gua Pawon


Kami semua menuruni bukit dengan dipandu Pak Budi yang mencari akses jalan untuk kami semua. Namanya bukit putus asa. Menuruninya cukup bikin lutut gemetar, untung tidak naik lewat sini! Hehehe. Setelah beristirahat sekitar satu jam lamanya, kami lanjutkan perjalanan kami ke Gua Pawon, yang posisinya persis di samping tempat beristirahat kami.

Pak Budi adalah salah satu pencetak sejarah di Gua Pawon ini, sebagai anggota tim penemu fosil manusia zaman prasejarah! Kisahnya adalah pada tahun 1999, tim Pak Budi berencana mengunjungi lokasi ini untuk mencari fosil ikan. Kali pertama masuk ke dalam gua, mereka langsung disambut oleh hujan tai kelelawar. Di dalam Gua Pawon sendiri terbagi dalam tujuh kamar. Untuk memudahkan pemetaan, setiap kamar diberi julukan masing-masing. Dalam penggalian dalam gua tersebut ditemukan artefak dan alat-alat tulang lainnya yang langsung dilaporkan ke balai arkeologi. Namun respon dari balai tersebut sangat lambat.

Akhirnya dibentuklah kelompok riset cekungan bandung, beranggotakan Pak Budi, Pak Eko, dan Pak Bakhtiar. Tahun 2003 balai arkeologi pun memutuskan untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Dalam penelitian tersebut ditemukannlah rangka utuh homo sampiens, pada tahun 2005. Diduga usianya sudah mencapai 500-1500 tahun, ras mongoloid dan berjenis kelamin wanita.


Fosil homo sapiens. Ini adalah bentuk replika yang diletakkan di dalam gua. Fosil asli dilindungi oleh badan arkeologi
Hal terakhir yang digali adalah gigi ikan hiu! Dari penemuan tersebut dibuat dua kemungkinan, pertama adalah manusia di sini menjelajah sampai ke laut, atau hanya melakukan barter dengan manusia yang tinggal di daerah pesisir.

Sehubungan dengan penemuan ini, masyarakat sudah disosialisasikan untuk menjaga Gua Pawon. Gunung Masigit pun juga sudah dilindungi. Gunung ini menjadi referensi dari formasi rajamandala yang usianya 30 juta tahun yang lalu.

Nah, sekarang mari menilik dari kacamata legenda Sunda. Ada hawu yaitu tungku, ada pabeasan yang artinya tempat beras, pawon yang artinya dapur. Terdapat pula Karang Panganten dan Gunung Masigit yang berarti masjid. Ceritanya adalah amarah Sangkuriang yang bukan saja menelungkupkan perahu, tetapi juga mengacak-acak persiapan pesta sehingga segala isi dapur berantakan ke mana-mana! Waduh, serem juga kalau Mas Sangkuriang marah! Hehehe.

Akhirnya pukul 5 sore kami bergegas pulang dengan menumpang mobil dan truk untuk keluar sampai ke jalan raya, tempat bis kami parkir untuk kembali ke Bandung.  Kulit saya terbakar, keringat bercucuran, tapi senangnya bukan main! :D Akhirnya kesampaian juga bermain ke wilayah ini.


Kawasan Karst Citatah
Padalarang, Kabupaten Bandung,Jawa Barat

Kata kunci : Gua Pawon, Citatah, Gunung Masigit, Gunung Hawu, Stone Garden

Sabtu, 21 Juli 2012

Menengok Sejarah Cidugaleun

21 Juni 2012

Setelah berkeringat dari perjalanan cukup jauh ke mata air Cihantap dengan Pak Wahyu, saya putuskan untuk istirahat sebentar di Kantor Balai Desa. Saya pun tenggelam dalam obrolan ngalor ngidul dengan Pak Wahyu, Pak Ajat, Pak Firdaus, dan Pak Dede ditemani segelas air putih.

Cidugaleun. Asal muasal katanya dari Kedugalan, yang artinya adalah kekuatan. Ya, desa ini terkenal dengan orang-orang berilmu di dalamnya, dengan kekuatan tak tertandingi. Tidak bisa dipandang secara akal sehat. Ilmu-ilmu itu dimiliki oleh para leluhur. Macam-macam jenisnya. Ada yang bisa menggunakan betisnya sebagai penggantu kayu bakar, punya kemampuan pelet, sampai ada pula yang mendapat julukan Sangkuriangnya Cidugaleun, karena bisa menggarap berhektar-hektar sawah tengah malam seorang diri.

Ternyata hal ini tidak asing lagi di telinga penikmat ilmu-ilmu tersebut untuk kepentingan duniawi. Tak jarang pendatang melancong ke Cidugaleun untuk kepentingan jodoh, harta, dan kedudukan. Orang Banten yang hendak menaikan ilmu, pasti ke desa ini dan menginap sampai 4 hari 4 malam. Hanya saja, kabarnya kemampuan ini tidak bisa dinikmati warga Cidugaleun sendiri.

Alkisah namanya Mahdugal Kawasa. Seorang wanita yang cantiknya bukan main. Konon panjang rambutnya lebih dari 10 meter panjangnya. Kabarnya ia adalah salah satu dari penyebar agama Islam di Pulau Jawa, di luar dari yang sering kita dengar, Wali Songo. Meskipun perempuan, kekuatannya bukan main. Banyak sekali yang mau meminangnya, hanya saja terlalu banyak halangan yang menjadikan peminang bahkan tidak bisa menginjakan kaki di tanah Cidugaleun. Yang terkuat adalah Burangrang, itu pun belum sampai benar-benar bertemu dengan Mahdugal.

Hal ini menjadi salah satu kepercayaan masyarakat Cidugaleun, bahwa memanjangkan rambut bagi wanita seperti diharamkan. Selain itu seperti menjadi semacam sumpah, bahwa tidak ada satu pun warga Cidugaleun yang berparas cantik atau tampan. Tetapi ketika mereka keluar dari desa ini, katanya sih ada sesuatu yang menarik dari diri mereka. 

Ada lagi sebuah kepercayaan Sunda, yang kabarnya menjadi salah satu sumpah Mahdugal, bahwa rumah yang dibangun tidak diperbolehkan dengan tembok. Kalau tidak, akan kelaparan. Logisnya, ya ketika lahan sawah diambil alih untuk lahan tempat tinggal yang bertembok, bukan dengan rumah panggung, maka otomatis lahan tersebut tidak bisa digunakan untuk menghasilkan padi.

Pak Firdaus menyebut-nyebut sebuah naskah ejaan Sunda kuno di rumah Pak Endang si kepala dusun, sekaligus juru kunci makam. Saya pun dibuat tertarik. Wah, mengetahui cerita sejarah dibalik tempat yang saya tinggali, rasanya seperti menemukan harta karun!

Sore harinya setelah Ashar, saya ke rumah Pak Wahyu. Secara kebetulan tak lama saya sampai, Pak Endang datang. Setelah diceritakan oleh Pak Wahyu, maka Pak Endang pun memboyong saya, Pak Wahyu, dan Teh Deuis mengunjungi makam Mahdugal dan ke rumahnya.

Salah satu jalan yang kami lewati
Posisinya di Kampung Babakan. Kami harus melewati pematang sawah. Akhirnya sampai juga di hutan kecil tengah sawah. Makam di sana-sini. Hawanya beda. Ketika memasuki hutan itu, rasanya dingin. Jalannya berbatu dan berlumut. Sampailah kami di depan pagar sederhana yang ditutupi potongan tangkai bambu. Setelah menghentakkan kaki tiga kali, Pak Endang membuka pagar dan masuk.

Pintu masuk ke kompleks pemakaman. Siap-siap dengan hawa yang berbeda
Sedikit mendaki jalan berlumut menuju makam Mahdugal
Kompleks makam Mahdugal seluas sekitar 4x3 meter. Saya minta izin mengambil gambar dan diperbolehkan oleh sang juru kunci. Setelah itu tidak sampai 5 menit, kami keluar lagi. Tidak perlu berlama-lama. Langit juga sudah mulai gelap.


Pintu depan. Sang kuncen menghentakkan kaki tiga kali sebelum masuk
Makam Mahdugal Kawasa di sisi kanan
Kemudian saya ikuti lagi Pak Endang menuju kediamannya. Rumah panggung sederhana dengan pemandangan sawah terbentang. Jarak antar rumah berjauhan. Di dekatnya ada makam leluhur Pak Endang, juru kunci yang terdahulu. 


Sambil menunggu Pak Endang menunaikan shalat Ashar, kami disuguhi teh hangat. Beliau keluar kamar membawa naskah yang saya maksud, dan di tangan satunya ada pula kantong yang berisi beberapa barang pusaka. Wah. Saya sangat bersemangat! 


Naskah itu bentuknya seperti buku tulis biasa yang warnanya sudah kekuningan. Ditulis pada era penjajahan Belanda. Bukan dengan aksara sunda, hanya saja ejaannya masih ejaan lama dengan bahasa Sunda yang sangat halus. Ketika saya mengutarakan maksud saya untuk mengetahui isi naskah tersebut di balai desa tadi siang, Pak Firdaus bertanya balik ke saya. "Bener mau tau, Neng? Nanti takut lho"

Kabarnya isi naskah tersebut adalah tentang pembagian zaman di dunia. Bukan hanya Sunda, bukan hanya Indonesia. Tapi dunia. Pak Endang menjanjikan pada saya untuk mengabarin saya jika naskah tersebut sudah diterjemahkan dan diketik ulang dengan bantuan Pak Firdaus. Saya penasaran, tetapi tidak kekeuh untuk harus tahu. Jadi saya tanggapi dengan santai. 


Naskah dengan ejaan sunda kuno

Pusaka turun temurun
Setelah itu saya sibuk melihat-lihat benda pusaka yang ditunjukkan Pak Endang sampai tak sadar langit memang sudah benar-benar mau gelap. Jalan pulang yang akan kami tempuh tidak berlampu, akan gelap gulita di tengah pematang sawah. Maka saya, Pak Wahyu, dan Teh Deuis undur diri.

Wuaaaaaaaaah, hari ini seru sekali! :)