Selasa, 13 Desember 2011

(bukan) TPA Bantar Gebang

Well, it's supposed to be the scientific one, but let's make it fun! :D

Ok, setelah sudah ke 'bekas' kerajaan sampah di Leuwi Gajah yang lalu dan sempat juga menemani mahasiswa MIT ke Sarimukti (tapi belum sempat saya ceritakan ya yang ini), saya dan teman-teman sejurusan akhirnya dapat kesempatan berkunjung ke Bantar Gebang! Oh ya, sebelum saya bercerita lebih jauh, sejujurrnya nanti jam 12.15 siang saya ada UAS mata kuliah pengelolaan sampah yang (mungkin) salah satu soalnya adalah tentang kunjungan lapangan ini. Jadi, daripada saya hanya membaca-baca laporan yang kelompok saya buat, lebih baik saya cerita hasil catatan dan dokumentasi saya :) Sebenarnya sudah mau segera menulis ini tapi selalu tertunda, jadi sekalian bantu saya belajar ya!


Jumat, 18 November 2011 lalu, saya dan teman-teman angkatan Teknik Lingkungan 2009 melakukan kunjungan lapangan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang. Bukan lagi TPA (Tempat Pembuangan Akhir) lho ya. Kenapa berubah menjadi TPST? Nah ini dia yang menarik. Untuk saat ini TPST Bantar Gebang adalah TPST terbesar dengan sistem pengelolaan sampah terbaik se-Indonesia lho. Luasnya saja mencapai 110,3 hektar!

Kami berangkat menggunakan bus dari gerbang depan kampus ITB pukul 07.00 dan sampai ke Bekasi sekitar pukul 10.00. Meskipun katanya sistem pengelolaannya sudah baik, hmm yang namanya gunungan sampah ya pasti kurang sedap baunya. Kami sudah siap amunisi dengan membawa masker. Begitu keluar bus, saya langsung disambut wangi sampah yang aduhai dan teriknya matahari.

Sebelum melihat ke lapangan, kami diberikan pengantar oleh Bapak Batara Erwin Sinaga sebagai manajer 2 dan Bapak Ir. Douglas Jiwanurung sebagai managing director. Beliau-beliau ini adalah orang-orang yang memegang peran cukup penting dalam sistem birokrasi TPST Bantar Gebang. Pengelolaan TPST Bantar Gebang ini dipegang oleh pihak swasta yang terikat kontrak dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yaitu PT Godang Tua Jaya dan PT Navigat Organic Energy Indonesia.


Sejarah (sangat) singkat

TPA Bantar Gebang mulai aktif pada tahun 1989. Pada saat itu sampah yang masuk adalah 5000-6000 ton/ hari. Pada saat itu lahannya adalah seluas 108 hektar. Hampir selama 20 tahun, sistem pengelolaan sampah hanya dengan open dumping dan sanitary landfill.

Sanitary landfill : Metode pengurugan sampah ke dalam tanah, dengan menyebarkan sampah secara lapis-perlapis pada sebuah site (lahan) yang telah disiapkan, kemudian dilakukan pemadatan dengan alat berat, dan pada akhir hari operasi, urugan sampah tersebut kemudian ditutup dengan tanah penutup (G.H. Tchobanoglous, H. Theissen, 1993)

Metode tersebut dikembangkan dari aplikasi praktis dalam peyelesaian masalah sampah yang dikenal sebagai open dumping. Open dumping tidak mengikuti tata cara yang sistematis serta tidak memperhatikan dampak pada kesehatan (Enri Damanhuri, 2010)

Kemudian Pemrov DKI Jakarta membuka tender untuk pengelolaan TPA ini, dan akhirnya pada Desember 2008 dimenangkan oleh kedua perusahaan tersebut di atas.


Tentang TPST Bantar Gebang

TPST Bantar Gebang yang memiliki luas total daerah 110,3 Ha ini terletak di Kota Bekasi. Posisi TPST dikelilingi oleh 4 kelurahan, yaitu Kelurahan Cikiwul, Kelurahan Sumur Batu, dan Kelurahan Ciketing Udik.


Visi dari pengelolaan TPST Bantar Gebang ini adalah sebagai pusat studi persampahan dan alternatif pariwisata. Saat ini luasnya mencapai 110 hektar, dan akan mengalami penambahan 10,5 hektar untuk tempat pengolahan. TPST terbagi menjadi 5 zona.

Pembagian 5 zona

Truk yang masuk ke dalam TPST ini kurang lebih 1000 truk/hari. Biaya yang didapatkan kedua perusahaan ini seharunya adalah Rp 230.000,00/ ton, sedangkan untuk community development kota Bekasi dipotong 20% sehingga hanya dibayarkan Rp105.300,00/ton. Sebelum truk masuk ke arena TPST, dilakukan penimbangan terlebih dahulu di jembatan timbang yang pengawasannya bertanggung jawab ke Dinas Kebersihan.

Sejumlah 53% dari jumlah sampah di TPST ini telah menjadi kompos. Sampah yang diakui cukup mendominasi adalah sampah-sampah plastik! Saya percaya betul setelah melihat dengan mata kepala sendiri.

Nah, intinya TPST ini dibagi menjadi 4 bagian pengelolaan sampah :
  1. Instalasi Pengolahan Air Sampah (IPAS)
  2. Unit Composting
  3. Sanitary Landfill
  4. Power Plant
Setelah mendengar cerita yang cukup panjang, kami melakukan santap siang dan shalat jumat bagi yang laki-laki. Kemudian tibalah saatnya melihat ke lapangan!


Instalasi Pengolahan Air Sampah (IPAS)

Lindi (Leachate) adalah cairan yang merembes melalui tumpukan sampah dengan membawa materi terlarut atau tersuspensi terutama hasil proses dekomposisi materi sampah atau dapat pula didefinisikan sebagai limbah cair yang timbul akibat masuknya air eksternal ke dalam timbunan sampah, melarutkan dan membilas materi terlarut, termasuk juga materi organik hasil proses dekomposisi biologis.(Enri Damanhuri, 2010)

Pernah memperhatikan air hitam yang keluar dari tumpukan sampah? Nah itulah air lindi. Bisa dibayangkan kan, air hasil ekstraksi sampah kandungannya pasti tidak karuan. Maka dari itu perlu dilakukan pengolahan airnya agar aman dibuang ke badan air.

Ini adalah lokasi yang paling menusuk baunya. Masker pun tidak terlalu membantu. Bahkan mata saya sangat pedih ketika berada di sini. Singkatnya, ini bagian-bagian yang ada di IPAS :
  • Kolam Equalisasi
  • Kolam Fakultatif
  • RBD ( Rotating Biological Denitrification)
  • Kolam Aerob
  • Ruang Proses Kimia
  • Bak Pengandap
  • Polishing Pond
  • Kolam Lumpur
IPAS (tampak dari kejauhan)


Hasil akhir airnya jangan bayangkan akan jernih. Ternyata di bak terakhir pun keluarannya akan tetap berwarna hitam. Hanya saja kandungannya katanya sih sudah tidak berbahaya lagi dan memenuhi standar air baku. Kalau teman-teman buka di PP 82 tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, air ini masuk dalam kelas 4. Lumpur yang dihasilkan dari proses ini dibuang ke landfill.

Aargh masker saya sekarang jadi dilekati bau lindi! Dan saya masih kagum dengan dosen saya Ibu Tri Padmi dan Pak Wahyu yang sama sekali tidak terlihat terganggu dengan "wangi" ini.


Unit Composting

Di lokasi ini kami membutuhkan masker bukan karena baunya, tetapi karena sangat berdebu. Untung saya juga gunakan kacamata saya karena kalau tidak bisa kelilipan. Sampah yang masuk ke proses ini adalah 500 ton/hari dan 15-20% nya berhasil menjadi pupuk. Sayangnya sampah yang melewati proses ini hanya sampah dari lokasi-lokasi terpilih, yaitu pasar tradisional seperti pasar Kramat Jati, Jembatan Lima, Cibubur, dll.

Prosesnya adalah :

Sampah disortir secara manual dilihat dari ukuran sampah. Kemudian dimasukan ke conveyor pemilah. Lalu dihancurkan di penghancur. Kemudian di conveyor feeder terpisahkan sampah yang bisa menjadi kompos dan tidak. Sampah yang tidak bisa masuk dalam proses composting di press untuk dijadikan briket.


Yang diambil adalah yang bubuk (bagian depan)

Kompos yang dihasilkan berbentuk bubuk. Tetapi dilakukan proses lagi agar dijadikan bentuk butiran. P
ara petani katanya masih belum percaya dengan pupuk berbentuk serbuk. Alasannya karena menempel di daun, mudah terbang, dan terapung di air. Proses pembuatan pupuk butiran (granule) adalah dengan penambahan 15-20% percikan air, kemudian setelah panas mencapai 65 derajat diberikan mikroba lagi (karena pada suhu ini beberapa mikroba mati). Total lama proses awal hingga akhir adalah 1,5 bulan hingga kompos siap jual. Biasanya pasarnya adalah sampai ke Pulau Sumatera.

Pupuk dalam butiran

Obrolan belum selesai, tetapi rombongan yang antusias mendengarkan semakin sedikit. Wah ternyata teman-teman lain sudah di bis duluan! Kami langsung bergegas pamit.


Power Plant


Sebagian besar timbunan sampah di TPST Bantar Gebang ditutup dan dipasang pipa di atasnya. Tujuannya adalah untuk menangkap gas metan yang dihasilkan oleh sampah. Proses degradasi anaerob (tanpa oksigen) akan menghasilkan gas metan. Gas metan ini kemudian dialirkan ke mesin untuk perolehan listrik. Saat ini TPST Bantar Gebang telah menghasilkan listrik 1220 - 2000 kW! Di Indonesia, hanya Bantar Gebang dan Bali yang sudah memiliki alat-alat ini.

Yang tertutup di bawahnya adalah sampah dan pipa-pipa tersebut adalah untuk mengalirkan gas metan

Ruang mesin

Ruang kontrol

Di bagian ini kami tidak punya waktu banyak untuk mendapat penjelasan. Mesin-mesin yang bunyinya sangat bising cukup mengganggu kami. Tetapi cukup nyaman karena dilengkapi pendingin ruangan. Sempat saya bertanya apakah petugas menggunakan penutup kuping ketika sedang bekerja? Dan jawabannya tidak. Hmm bahaya sekali ya... Dan petugas-petugas ini pun kebanyakan tidak berseragam.
- - - - -

Setelah ini kami meluncur ke TPA Sumur Batu, yaitu TPA yang melayani sampah warga Kota Bekasi. Letaknya tidak jauh dari sini. Ceritanya berbeda lagi tapi, saya bahas di postingan lain ya :D Membaca yang ini saja sudah banyaaak. Hehe

Nah, sekarang cukup terbayang kan kalau proses pengelolaan sampah itu rumit dan pastinya BUTUH BIAYA BESAR. Faktanya, banyak yang masih menyepelekan persoalan ini. Banyak pihak yang masih juga tidak mau bayar soal pengelolaan buangannya. Padahal di Amerika katanya pembayaran untuk waste to energy adalah 23-35 USD/ton. Masih banyak orang yang merasa kalau soal sampah buat apa bayar?

Sekarang sudah (atau hanya?) 4 TPA di Indonesia yang sedang dalam proses kelayakan teknis yang dilaksanakan oleh calon investor masing-masing untuk mendapatkan sertifikat emisi karbon dari PBB, yaitu (Dikatat Pengelolaan sampah, 2010):
  • TPA Suwung di Denpasar: status potensinya telah terdaftar pada badan dunia (UN-FCCC No.0938), sehingga menunggu persetujuan metodologi dan verivikasi untuk mendapatkan sertifikat
  • TPA Pontianak, TPA Kota Bekasi dan TPA Palembang: potensinya sedang dalam proses verifikasi
Semoga diikuti kota-kota lain juga ya. Kita tidak mau kan Indonesia jadi lautan sampah? Hiii (membayangkan film Wall-E)

Oh iya, saya menemukan ada tukang jualan di sini. Hii bisa-bisanya ada yang mau beli di tengah-tengah gunungan sampah ini.

Pak.. mbok ya jangan jualan di sini ya..

Kamis, 20 Oktober 2011

Tanya kenapa

Siang ini saya memutuskan untuk pulang cepat karena banyak hal yang harus saya selesaikan. Tetapi niat itu terhambat karena saya menghabiskan hampir 1 jam mengobrol dengan salah seorang teman. Banyak hal yang kami diskusikan, dan ada poin yang saya ingat dan membuat saya berpikir, "Iya juga ya". Bukan hal baru, tapi reminder pas untuk saat ini.

Seringkali seseorang, begitu pun saya melakukan banyak hal tanpa tahu untuk apa dan apa saja poin yang bisa diambil di balik itu.

Itu yang membuat saya tidak merasakan apa-apa saat mengerjakannya
Itu yang membuat saya lelah setelah mengerjakannya
Itu yang membuat saya merasa pekerjaan lain atau milik orang lain lebih menguntungkan dan menyenangkan
Itu yang membuat saya berpikir bahwa itu adalah tugas, bukan dari sisi bahwa akan ada manfaat yang bisa saya, atau orang lain dapatkan dari apa yang saya kerjakan
Itu yang menjadikan saya "perhitungan" dengan pekerjaan itu Itu yang membuat saya tidak ikhlas saat mengerjakannya

Semua hal pasti ada manfaatnya dan bernilai. Hanya saja apakah kita mau cari tahu dan bisa melihat hal-hal tersebut dari sisi positifnya?


Lalu, kenapa saya menulis ini?
:)

Selalu ada alasan manis di balik semua yang kita kerjakan.

Rabu, 19 Oktober 2011

Nasib sisa mata air Babakan Siliwangi

"Bandung, aku akan selalu berusaha menyempurnakanmu"
-Ridwan Kamil-

Isu Babakan Siliwangi. Setelah ramai dibicarakan soal pencanangan sebagai hutan kota dunia, bagaimana kelanjutan nasibnya? Apakah mahasiswa kampus ganesha berdiam diri saja?

Himpunan Mahasiwa Teknik Geologi ITB berbagi di Forum Ganesha Hijau pada tanggal 7 Oktober 2011 lalu. Isunya tentang mata air Babakan Siliwangi.

Babakan Siliwangi BUKAN tempat resapan air, tetapi justru tempat luapan air.

Info ini sudah saya dengar sebelumnya bahwa ada beberapa mata air di Babakan Siliwangi. Beberapa di antaranya digunakan ITB untuk fasilitas watertapnya, sedangkan ada pula yang telah tertutup bangunan. Hanya tersisa satu mata air yang dapat kita lihat wujudnya. Jika dilihat begitu saja, maka akan sangat meragukan bentuknya. Masuklah ke dalam hutan Babakan Siliwangi yang dari arah kolam renang menuju kandang domba, maka kamu akan menemukan seperti kolam kecil di sisi kiri, dan cekungan berisi timbunan sampah dan limbah di kanan. Tetapi ternyata mata air tersebut masih sering dipergunakan warga. Sesekali mungkin kamu bisa menemukan orang yang sedang mandi di sana.

Kondisi mata air (oleh Agnindhira N)

Babakan Siliwangi yang masih belum jelas peruntukannya, pencahayaan minim, sering terjadi kriminalitas, menjadi tempat orang tunawisma, adalah disebut dengan istilah negative space, kalau kata anak arsitek. Sudut seperti ini tidak sehat dan idealnya tidak ada di dalam sebuah kota. Nah, tujuan besarnya adalah menjadikan Baksil sebagai area yang bisa dinikmati publik dengan tetap menjaga ekologinya. Salah satu aspek yang harus dijaga adalah si mata air ini. Kang Emil (panggilan akrab Ridwan Kamil) menantang untuk membuat rekayasa mata air ini sehingga bisa digunakan sebagai mana mestinya.

Kondisi pengelolaan mata airnya masih sederhana. Mata air dikumpulkan dari sumber ke bak pengumpul, di mana setelah itu langsung digunakan. Sedangkan tak jauh dari situ terdapat cekungan yang berisikan limbah bekas terpakainya air.

kondisi penggunaan mata air (Oleh Agnindhira N)

Kami mendiskusikan isu ini dalam forum ini dengan harapan timbul banyak ide dari banyak keprofesian di ITB. Kang Emil menyampaikan bahwa hal terburuk yang akan dilakukan untuk mata air tersebut jika tidak ada solusi terhadapnya adalah menjadikan itu sebagai kolam ikan. Solusi ini merupakan tamparan besar untuk ITB jika tidak memberikan solusi teknologi apapun.

Beberapa usul sempat disampaikan untuk menjadikannya MCK, sumber air minum (perlu pengecekan kualitas air minum), atau bahkan monumen. Acuan besarnya adalah Baksil akan difungsikan menjadi hutan kota untuk umum, tetapi belum termasuk persoalan mata air ini.

Hasil brainstorming kami adalah membutuhkan sejumlah data sebelum masuk ke dalam tahap desain dan penerapan teknologi tepat guna, yaitu :
  1. Kontinutitas mata air. Seberapa banyak air mengalir di situ?
  2. Analisis air. Sejauh mana kelayakan air tersebut dapat digunakan? Apakah sebatas air baku? Atau mungkin air minum? Hal ini perlu dilakukan penelitian lebih lanjut di laboratorium.
  3. Siteplan. Sejauh mana wilayah yang dapat digarap?
  4. Kondisi mata air
  5. Kondisi sosial. Bagaimana pendapat dan masukan warga sekitar mengenai keberadaan dan pemberdayaan mata air ini?
  6. Siapa yang akan mengelola. Hal ini berkaitan dengan antisipasi perawatan selanjutnya. Jika dikelola warga, maka desain teknologi harus disesuaikan dengan budaya dan pendidikan warga. Karena teknologi yang akan dirancang akan dijadikan fasilitas publik.
  7. Bagaimana mekanisme perawatan selanjutnya. Berkaitan dengan desain yang mudah dan murah dalam hal perawatan.
Kajian, solusi, dan langkah selanjutnya akan kami bahas lebih tuntas lagi. Semoga saja keluar gagasan menarik yang dapat kami realisasikan. Apakah ada yang punya ide? :)

Sabtu, 15 Oktober 2011

Susur Sungai Cikapundung

Akhirnya mendapat kesempatan menelusuri Sungai Cikapundung! Cikapundung sekarang sedang berusaha dipercantik dan dialihfungsikan sebagaimana mestinya oleh warga Bandung. Terutama beberapa komunitas dan warga yang punya kepedulian lebih pada sungai ini.

Ceritanya di Sabtu pagi yang cerah tanggal 1 Oktober kemarin, dalam salah satu rangkaian Semud (Sekolah Ijo Muda) yang merupakan rangkaian kaderisasi U-Green ITB. Kami berpetualang menyusuri bantaran Sungai Cikapundung dari Curug (Air terjun) Dago hingga tembusnya ke Cisitu.

Aksesnya tidak sulit, cukup naik angkot Kelapa-Dago, turun di terminal Dago kemudian jalan sedikit sampai menemukan belokan turunan tajam ke bawah. Nanti jalan turuun saja ke bawah dan masuk ke jalan kecil berplang "Prasasti Curug Dago". Jalan setapak ini dibatasi tembok di sebelah kiri dan jurang kecil di sisi kanan. Dalam perjalanan saya menemukan ada sekolah alam di sini. Hmm menarik sepertinya!

Jalan setapak menuju Curug Dago

Jangan jalan keterusan, ketika menemukan jalan turunan ke bawah di sisi kanan, belok lah ke situ. Nah dari situlah kami memulai perjalanan kami. Peserta angkatan 2011 kami berikan tugas untuk mengobservasi dan nantinya akan mewawancarai warga di pemukiman yang kami lewati. Dari tempat ini kami melewati jembatan yang bisa kami lihat di bagian bawahnya adalah aliran sungai yang deras dengan beberapa air terjun. Daan.. ujung-ujungnya tetap ada tumpukan sampah. Berarti sampah ini memang sudah dari hulu, kawan-kawan!



Pemandangan dari jembatan. Lihat timbunan tanah di bagian tengahnya? Itu timbunan sampah lho..

Jalur yang dilewati tidak terlalu sulit, kami tidak selalu berada di tepi sungai. Terkadang melewati permukiman, perumahan elit, sampai sawah yang ada kerbau bajaknya! (saya baru pertama kali lihat kerbau membajak sawah. Hahahaha. Dasar kasihan orang kota).


Penyediaan air bersih yang masih sederhana

Kami sempat berhenti di suatu permukiman, di mana kami bisa turun ke sungainya langsung. Selama menunggu peserta 2011 dan kakak pendampingnya berkeliling, saya dan teman-teman bersantai di pinggir sungai. Sayangnya sungai ini juga lagi-lagi tidak bersih dari sampah. Tapi sepertinya itu bukan masalah besar bagi anak-anak di perkampungan ini. Segerombolan anak laki-laki asyik bercanda dan berenang di situ. Di sisi kanan sungai terdapat pipa berkarat yang besar sekali. Diameternya kira-kira sebesar 1 meter. Karena airnya coklat dan terdapat banyak sampah, saya memilih untuk duduk saja di atas batu.



Sampah di mana-mana

Perjalanan kami lanjutkan lagi. Dengan sedikit menanjak dan melewati padang rumput, kami sampai juga di lokasi penanaman pohon. Lokasi ini dikelola dan dirawat oleh komunitas CRP (Cikapundung Rehabilitation Program). CRP telah berdiri selama 3 tahun. Saya telah mengetahui komunitas ini sebelumnya, tapi ini kali pertama saya mengunjungi langsung ke lapangannya.

Menuju kawasan menanam pohon

Sebelum mulai menanam pohon, kami diberikan kuliah singkat dari tim CRP sambil beristirahat duduk di bawah pohon rindang. Diskusi diawali oleh Abang Te-er yang berbagi pesan singkat untuk kami :

"Meskipun berasal dari beda kota, tapi kalian akan lama tinggal di Bandung. Mari wujudkan sungai bersih, hutan hijau pohonnya, dan kita wujudkan bersama-sama"

Diskusi di bawah pohon rindang

Kang Rohim sebagai pupuhu (ketua dalam bahasa sunda) dari CRP pun bercerita sambil membagi semangat. Meskipun sempat beberapa kali mengeluhkan sambil menunjuk bangunan rumah susun yang sedang dibangun ITB tak jauh dari situ. Beberapa program CRP bersama komunitas lain adalah :
  • Menanam dan merawat pohon
  • Pokja, yaitu memperbaiki alur sungai dari batu berbahaya untuk jalur kukuyaan (semacam body rafting dengan ban), rafting, dan jelajah sungai
Kang Rohim

Asrama ITB yang baru dibangun. Jadi bulan-bulanan warga


Yang selalu ditekankan Kang Rohim adalah :

"Tumbuhkan jiwa naturalis sejak remaja, jangan sampai idealisme itu hilang ketika dewasa"


Asik mendengarkan cerita Kang Rohim, kami pun lalu digiring untuk langsung menanam pohon yang telah kami pesan sebelumnya. Untuk informasi, kita dapat membeli bibit pohon dan menanamnya di lahan ini, kemudian membayar sejumlah uang untuk biaya perawatan yang dilakukan oleh CRP. Saya sibuk mendokumentasikan saja sementara anak-anak 2011 asyik menggali-gali, memasukan benih, dan menyirami pohonnya.


1 pohon per 2 orang

Panas yang terik tidak menyurutkan semangat anak-anak dan panitia. Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang dan matahari benar-benar di atas kepala. Kami me review sedikit tentang materi hari itu, yang juga didiskusikan bersama tiap kelompok.

Pada saat yang sama saya mengobrol dengan Kang Soleh, salah satu pegiat komunitas Bagasi (Barudak Gang Siliwangi). Beliau rupanya adalah salah satu petugas Proses Pengolahan Sampah (PPS) Sabuga. Ia banyak berkeluh kesah dan mengecam keberadaan insinerator ITB itu karena gas yang dihasilkan sampai ke rumahnya di daerah Taman Sari. Ada emosi dan harapan dari pembicaraan ini. Ia sangat berharap pada kami sebagai mahasiswa yang memikirkan nasib warga sekitar ITB. Saya bahkan memilih tidak menyebutkan saya berasal dari jurusan Teknik Lingkungan, karena jurusan ini yang selalu disalahkan olehnya. Beberapa informasi saya catat sebagai referensi, tetapi beberapa fakta yang bisa menjadi bantahan saya karena saya tahu cerita lengkapnya di mata kuliah Pengelolaan sampah, saya tahan saja. Mendengar keluhan-keluhan ini ternyata cukup pelik.

Tak berapa lama kami pamit pulang. Hanya dibutuhkan sedikit waktu untuk berjalan ke gerbang menuju jalan umum. Kemudian kami menyusuri gang di daerah Cisitu, dan sampailah kami di daerah permukiman.

Badan basah karena keringat, otak juga cukup berkeringat mendengar wawasan baru, masalah baru. :) Lalu setelah tahu, mau bertindak apa?