Rabu, 13 November 2013

Menyelisik Air Limbah Rumah Tangga Indonesia

Sanitasi yang tidak memadai di daerah-daerah perdesaan dan perkotaan telah memiliki konsekuensi berat bagi kesehatan dan dampak paling akut pada kaum miskin, yang paling tidak mampu memenuhi kompensasi kurangnya investasi pemerintah. Telah diperkirakan bahwa sanitasi dan higiene yang buruk menyebabkan setidaknya 120 juta jenis penyakit dan 50.000 kematian prematur setiap tahunnya. Dampak yang dihasilkan dari segi ekonomi secara langsung bernilai lebih dari Rp 29 triliun (Rp 3,1 miliar) per tahun, sedangkan kerugian secara keseluruhan diperkirakan mencapai Rp 6,5 miliar per tahun (WSP World Bank, 2008).
Dengan populasi penduduk Indonesia yang mendekati angka 250 juta, Indonesia menduduki urutan ke empat sebagai negara dengan populasi terpadat di dunia. Hampir sebagian dari penduduk tersebut tinggal di kawasan urban (perkotaan) dan sisanya masih di wilayah perdesaan.

Pada kondisi masyarakat pedesaan, kebutuhan masyarakat terhadap jamban masih rendah. Hal ini disebabkan minimnya pengetahuan terhadap pentingnya hidup bersih dan sehat, yang tercermin dari perilaku masyarakat yang hingga sekarang masih banyak yang buang air besar di sungai, kebun, sawah bahkan di kantong plastik yang kemudian dibuang di sembarang tempat.

Paciringan, salah satu sarana buang air masyarakat pedesaan (Dok. Pribadi)
Kondisi lain di masyarakat urban tercermin pada pelayanan air limbah terpusat di beberapa kota besar yang masih menghadapi kendala dalam pengelolaannya. Hal ini terkait dengan rendahnya kesediaan membayar (willingness to pay) dari masyarakat terhadap pelayanan air limbah terpusat dan masih rendahnya kualitas pengelolaan prasarana dan sarana air limbah terpusat. Dengan tidak adanya investasi pada pelayanan limbah terpusat, sebagian besar infrastruktur sanitasi permukiman terletak di rumah tangga masing-masing. 

Kondisi saluran drainase di salah satu permukiman terpadat ; Cicadas, Bandung. (Dok. Pribadi)
Sekitar tiga perempat penduduk perkotaan telah memiliki toilet dan pengolahan limbahnya secara pribadi, namun regulasi dan pengawasan pemerintah yang masih sangat lemah mengakibatkan jumlah rumah tangga yang membuang limbahnya dengan aman masih sedikit sekali. Rendahnya kepedulian masyarakat dan pemerintah terhadap peranan penyehatan lingkungan menyebabkan masih rendahnya cakupan pelayanan untuk mendukung kualitas lingkungan.

Kondisi perumahan padat di bantaran sungai wilayah Cicadas, Bandung (Dok. Pribadi)
Saluran limbah rumah tangga yang mengalir langsung ke sungai. (Dok. Pribadi)
Banyak rumah tangga berada di daerah yang tidak memiliki drainase yang memadai. Di beberapa kota, peristiwa banjir bahkan sudah menjadi hal yang biasa terjadi. Kehadiran sejumlah besar limbah dan sampah yang tidak terkumpul memperburuk masalah jaringan drainase. Di sebagian wilayah, saluran air limbah masih bercampur dengan saluran drainase. Air limbah yang dimaksud adalah air limbah permukiman (municipal wastewater) yang terdiri atas air limbah domestik (rumah tangga) yang berasal dari air sisa mandi, cuci, dapur dan tinja manusia dari lingkungan permukiman dikategorikan sebagai limbah domestik. Berikut ini adalah gambaran kondisi akibat penyalahgunaan fungsi drainase dalam sebuah kota.

Drainase Jalan Ir.H. Juanda Dago, Bandung saat hujan. (Dok. Pribadi)
Akibat sarana street inlet tidak berfungsi, jalan protokoler layaknya seperti sungai. (Dok. Pribadi)

Sanitasi yang buruk identik dengan wilayah permukiman yang padat, kumuh, dan miskin (pakumis). Dalam kasus di Indonesia, hampir sebagian besar kota di negara ini tidak memiliki batasan perbedaan area permukiman kumuh yang jelas. Penduduk dengan ekonomi yang lebih tinggi hingga yang rendah terkadang berada dalam satu lingkungan yang sama dan urusan sanitasi yang buruk menjadi persoalan bersama. Tidak ada jaminan bahwa rumah dengan fisik yang cenderung mahal terfasilitasi sarana sanitasi yang memadai. Maka dari itu, menyelesaikan permasalahan sanitasi ini tidak dapat dipandang sedikit demi sedikit, tetapi harus melihatnya secara keseluruhan. Air limbah permukiman ini perlu dikelola agar tidak menimbulkan dampak seperti mencemari air permukan dan air tanah disamping sangat beresiko menimbulkan penyakit seperti diare, thypus, kolera dan lain-lain.

Apa yang bisa kita usahakan di tempat tinggal masing-masing?

Selama pemerintah masih berbenah diri dalam menyelesaikan permasalahan limbah terpusat baik dari segi infrastruktur dan regulasi, opsi eskalasi teknologi pengolahan limbah di rumah tangga masing-masing bisa menjadi alternatif solusi. Paradigma sarana sanitasi yang memadai terkotak-kotakan dengan sarana yang canggih dan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu sarana pengolahan limbah identik dengan penurunan nilai estetika dan bau yang tidak sedap sehingga mengganggu aktivitas kegiatan di sekelilingnya. Namun lain halnya dengan sistem yang memanfaatkan proses alami seperti yang disebut sistem Sanitasi Taman (Sanita), hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat menjadi salah satu jalan keluar permasalahan ini.

Apakah itu Sistem Sanita?

Sistem Sanita adalah sebuah siklus yang mengolah tinja dan urine manusia sebagai sumber daya dengan memanfaatkan kapasitas tumbuh-tumbuhan untuk mereduksi sisa bahan pencemar. Tinja berproses sampai terbebas dari mikroba patogenik, tinja yang telah tersanitasi disiklus ulang untuk keperluan pertanian (pemulihan dan penggunaan kembali nutrisi). 

Sistem sanita memberikan manfaat dari berbagai aspek, yaitu di antaranya selain mengendalikan limbah cair agar tidak mencemari badan air atau lingkungan, memperbaiki kualitas air tanah dan air permukaan, sistem ini juga menciptakan keasrian lingkungan permukiman, mendukung kesuburan tanah dengan pengolahan sistem ekosan (Ekologi Sanitasi), dan membantu upaya pelestarian lingkungan. Dari hasil penelitian puslitbang, sistem sanita terbukti dapat mereduksi Zat Organik (BOD) sebanyak 97,7%, bakteri Fecal Coliform  99,98 %, dan total Nitrogen & Phospat 75%.

Gambaran Penerapan Sistem Sanita (Sumber : Web Balitbang PU)
Sistem sanita adalah salah satu alternatif yang dapat digunakan. Batasan yang dimiliki sistem ini adalah dibutuhkan ketersediaan lahan yang cukup. Untuk perumahan yang masing-masing rumahnya memiliki halaman dapat memanfaatkan sistem ini untuk mempercantik halaman rumah dan sekaligus memberikan nutrisi pada tanaman yang dimiliki. 

Hidup sehat didukung dari lingkungan yang sehat. Ke mana larinya air limbah rumah Anda?

Minggu, 11 Agustus 2013

Benang Kusut

Saya punya gulungan benang. 

Mau dijadikan apa ya? Baju? Syal? Ah baiklah mari saya tulis dulu. Wah, ada tumpukan ide rupanya. Seharusnya gulungan ini akan jadi banyak hal besar nantinya. 


Mau mulai menjahit, tapi si benang rupanya tidak kooperatif. Untaian benang yang tidak tersambung sama sekali pun bisa jadi saling menempel satu sama lain. Menyerah, lalu mencoba "menutupi" kepusingan dengan memilih menggunakan benang lain yang cenderung tergulung dengan rapi. Mudah, tidak bercelah. 

Tapi toh si benang kucut ini masih ada, menunggu untuk diurusi. Ah, bukannya si benang tidak kooperatif. Mana mungkin ia meluruskan dirinya sendiri. Si empunya yang seharusnya bertanggung jawab.

Baiklah, itu cuma benang dan itu milikmu sendiri. Saya jamin seratus persen pasti akan kau temukan ujung sama ujungnya. Telaah lebih dalam, maka kau akan dapatkan untaian benang panjang, lalu mari jahit seperti yang kau mau. Mungkin ada titik di mana harus kau gunting, dibuat jadi beberapa bagian yang memudahkanmu, atau kau buang sisi kusut itu. Itu pilihanmu. Hanya kau yang bisa kerjakan itu. Sendiri.

Otak kadang rasanya seperti benang kusut. Seakan-akan segala hal menjadi penting, timbunan hal yang harus dikerjakan, mimpi besar, ide yang tidak pernah habis, tuntutan, kebutuhan, belum lagi dari soal kewajiban hingga ego pribadi. 

Tuhan menciptakan manusia dengan nikmat sabar. Dan sabar itu lahirnya dari hati yang ikhlas. 

Hati, tolong bantu otak mengurai benang kusutnya, ya? Kalau tidak, tumpukan ide untuk menyulap si benang menjadi hal-hal besar cuma jadi angan-angan.

Mau tidak?

Ya, saya mau. 

Minggu, 04 Agustus 2013

Cerita Beberes Rumah : Inspirasi Dari Setumpuk Undangan Bekas

Hore! Sudah memasuki masa libur Lebaran!

Bicara soal hari libur, bisa dikatakan hampir setiap libur akhir pekan, waktu kedua orang tua saya habis untuk menghadiri berbagai acara pernikahan. Bahkan terkadang saling bentrok satu sama lain. Pilihannya bisa dengan menghadiri keduanya secara bergantian atau dihadapkan pada pilihan untuk menghadiri salah satu yang dianggap lebih diprioritaskan untuk dihadiri. Saya tidak bilang yang lainnya tidak penting, tapi bisa diukur dari kedekatan hubungan hingga jarak tempuh menuju gedung resepsi pernikahan. 

Kalau sudah di rumah dan ibu saya pun sudah memasuki masa cuti, pasti ada satu agenda yang tidak pernah absen (selagi tidak ada acara lain di luar), yaitu adalah beberes rumah!

Oh baiklah, rupanya ada satu kardus berisi barang antah berantah di sudut dekat piano. (Mulai sisingkan lengan)

Kami berdua sama-sama mengambil posisi untuk memilih dan memilah isi kardus itu. Dan ini dia! Sebagian besar isinya adalah bertumpuk-tumpuk undangan resepsi pernikahan. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, bahwa kedua orang tua saya "hobi"nya setiap akhir pekan menghadiri undangan-undangan ini. Kami mengambil satu kardus yang ukurannya lebih kecil untuk memisahkannya.

Kami terbiasa untuk memanfaatkan bekas barang yang tampak potensial untuk dibuat sesuatu. Paling sederhana yang biasa ibu saya lakukan adalah memotong motif-motif yang biasa ada di sisi tertentu lembar undangan, lalu dimanfaatkan sebagai pembatas buku. Namun kami kesulitan menemukan ide untuk memanfaatkan bentuk undangan dengan kertas-kertas tebalnya menyerupai tripleks, dari yang sederhana sampai yang "wah". Dari yang hanya menggunakan bahan dasar kertas hingga kain beludru.


Salah satu contoh undangan berbahan tebal. Yang seperti ini hanya berakhir di tempat sampah

Contoh potongan lembar undangan untuk dijadikan pembatas buku

Melihat bekas-bekas undangan ini sambil memasukannya ke kardus membuat saya banyak berpikir akan dikemanakan sampah-sampah ini. Sebenarnya jika dicari pasti ada beberapa oknum pengusaha yang mulai memanfaatkan sampah-sampah sisa undangan ini. Namun banyaknya saya rasa tidak berbanding lurus dengan jumlah resepsi pernikahan yang berlangsung di dalam sebuah kota.

Tumpukan undangan yang siap disisihkan

Mungkin belum menjadi sebuah pertimbangan utama dalam mendesain sebuah kemasan (saya katakan ini sebagai sebuah kemasan, penampilan luar), mengenai bagaimana keberlanjutan bahan yang digunakan itu akan berakhir. Dalam hal ini adalah sebuah desain undangan, yang saya rasa tidak semuanya dapat terolah dengan mudah. Mungkin lain ceritanya jika infrastruktur pengelolaan sampah di negara kita ini sudah benar-benar mumpuni dan masyarakatnya siap dengan sistem yang diberlakukan, sehingga sampah bukan lagi menjadi tumpukan masalah. 

Saya jadi teringat bentuk undangan pernikahan kakak perempuan saya tahun lalu. Kami sekeluarga sepakat untuk menggunakan lembaran cenderung tipis, tidak mengkilat, dengan desain sederhana namun tetap ada detil yang menjadi keinginan calon mempelai laki-laki dan perempuan. Tanggapannya macam-macam rupanya. Sebagian besar mungkin bertanya-tanya mengapa penggunaan bahan undangannya begitu sederhana?

Kemasan itu penting. Sebagian besar orang menilai niat dan besar/tidaknya acara itu dari tampilan awal, yaitu sebuah undangan. Tetapi mungkin kita dipaksa untuk berpikir lebih kreatif lagi dalam mendesain sesuatu, melihatnya dari berbagai aspek, yaitu : ekonomi, lingkungan, dan estetika.


Hahaha. Bicara soal temuan dari beberes rumah pikiran saya jadi ke mana-mana. Saya pribadi memutar otak sambil memilah tumpukan undangan ini. Akhirnya saya memisahkan sebuah potongan kain hijau dari hiasan ikat sebuah undangan dan selembar amplop undangan untuk saya "jodohkan" dengan buku agenda saya :) Hore!


Potongan kain ditemukan dalam keadaan lecek. Disetrika terlebih dulu supaya rapi dan mudah digunakan :)

Memanfaatkan potongan lembar undangan yang polos

Kain yang sudah disetrika dipotong-potong sesuai ukuran buku

Voila! Jadilah buku agenda saya bersampul kain ini. Warnanya pas dengan pita pembatas bukunya!

Bagian dalam agenda, seperti biasa sama seperti tahun 2012 lalu

Sisi dalam bagian belakang, untuk menyelipkan kertas-kertas kecil

Berpikir panjang sebelum mendesain sesuatu, supaya ujung-ujungnya tidak hanya jadi tumpukan sampah tidak berarti. Kalau sudah terlanjut ada, yuk putar otak dan manfaatkan sisa-sisa barang yang ada.

Minggu, 21 Juli 2013

Debar-Debar di Angkot

Mungkin agaknya cukup berlebihan kalau saya katakan bahwa jantung saya selalu berdebar-debar di kala detik-detik angkot yang saya naiki akan melewati tempat saya berhenti.

Siap-siap. Yak... sebentar lagi... (sambil sibuk merogoh-rogoh uang kecil di saku) 

"Kiri!" teriak saya dari kursi penumpang.

Seribu lima ratus atau dua ribu ya? 

Akhirnya saya putuskan cari aman. Saya ambil lembaran dua ribuan dan saya berikan ke Mang angkot melalui si jendela tanpa kaca. Saya perhatikan lekat-lekat. Kemudian keping lima ratus rupiah berpindah tangan ke tangan saya.

Alhamdulillah, masih seribu lima ratus!

Di lain waktu, dengan sopir yang berbeda dan/atau jurusan angkot berbeda, si sopir bisa dengan ketus memandang remeh lembaran uang yang saya berikan dan menagih paksa, "Seribu lagi, Neng!"

Aah.. Naiknya sampai dua kali lipat?! Pikir saya sambil menahan kesal di dalam hati.


Fenomena ini pasti dirasakan semua pengguna angkot. Secara luasnya adalah untuk semua bentuk angkutan umum dengan tarif yang tidak pasti. Dalam hal ini saya bicara angkot, sebagai moda transportasi yang sehari-hari paling sering saya gunakan. Perasaan berdebar-debar ini pun saya rasakan manakala saya gunakan angkot ke jurusan yang tidak pernah saya lewati maupun di kota yang tidak pernah saya tinggali. 

Belajar dari pengalaman

Prinsip saya hanya itu. Dari beberapa kali menaiki sebuah angkot jurusan tertentu, saya akan semakin paham kisaran tarifnya.

Kenaikan tarif yang tidak diprediksi

Semenjak peristiwa kenaikan BBM, perasaan berdebar-debar ini semakin menjadi-jadi. Beberapa angkot menaikan tarif dengan cukup realistis, namun ada pula yang saya nilai cukup berlebihan dan membuat si sopir angkot harus bersitegang dengan beberapa penumpangnya. Saya pilih tidak cari masalah, saya ikuti saya permintaan si Mang angkot.

Ya.. hitung-hitung nambah penghasilan si sopir.

Bukan, bukan soal ketidakikhlasan saya merogoh tambahan seribu bahkan dua ribu perak untuk ongkos sehari-hari. Namun ketidakpastian tarif ini untuk semua angkutan umum di Indonesia saya rasa menjadi sebuah ketidaknyamanan yang cukup krusial untuk bepergian ke manapun, juga sangat tidak ramah bagi orang-orang baru.

Semoga kelak seluruh sopir angkutan umum di Indonesia mendapat nominal penghasilan tetap yang layak dan seluruh angkutan umumnya memiliki tarif yang pasti! Aamiin!

Positifnya, jantung saya terlatih dengan setiap rasa deg-degan sebelum membayar ongkos angkutan. Hahaha..