Rabu, 23 April 2014

Eksperimen Rupa Dengan Soft Pastels


Kali ini adalah kali pertama saya akan menggunakan alat gambar bernama soft pastels yang saya dapatkan gratis atas hadiah kelulusan dari teman saya! Sudah keburu gatal untuk mencobanya, saya sapukan mainan baru saya ini ke atas kertas gambar berukuran A4. Saya coba gambar yang mudah, seekor anjing Hush Puppies. Tekstur soft pastels merupakan perpaduan antara crayon dan kapur. Serbuk-serbuknya lahir ketika saya goreskan garis demi garis. Seru sekali! 

Gambar percobaan dengan soft pastels

Awalnya saya sibuk memikirkan kira-kira apa objek yang akan saya gambar. Kemudian saya terpikir untuk melukis wajah kedua orang tua saya, sebagai kado ulang tahun pernikahan mereka. Melukis dengan gaya realis manusia, mewarnainya, dengan objek orang yang dilukis adalah orang dengan ikatan batin yang paling kuat dengan saya, menjadikan sebuah sensasi mendebarkan tersendiri. Akhirnya saya putuskan untuk iseng mempelajari bentuk wajah kedua orang tua saya ini dengan berlatih membuat sketsa dengan pensil terlebih dahulu dia atas kertas gambar biasa.

Penasaran bereksperimen yang sebenarnya dengan soft pastels, saya kontak salah satu teman saya yang memang sudah berpengalaman bermain dengan berbagai jenis alat gambar, Nyoman. 


Sketsa awal untuk latihan

Jumat siang saya tiba di rumah Nyoman, namun kami baru mulai menggambar pukul 16.30. Kami memulai dengan memilih kertas yang akan saya jadikan kelinci percobaan. Jenis kertas yang memang khusus untuk soft pastels bernama canson. Teksturnya sedikit lebih kasar dari kertas gambar biasanya. Dari warna-warni gulungan kertas yang ada, saya tentukan pilihan pada kertas warna krem. Tips pemilihan kertasnya adalah pilih kertas dengan warna yang sekiranya akan cukup mendominasi warna gambar. Karena saya akan menggambar rupa ayah dan ibu saya, maka saya memilih warna krem karena paling dekat dengan warna kulit wajah.

Saya sengaja menggunakan pakaian yang paling nyaman karena proses berkarya seni untuk saya akan memakan waktu yang cukup lama dan butuh fleksibilitas dalam perubahan posisi badan. Kemudian iapkan peralatan dan bahannya terlebih dahulu : Soft pastels, kertas canson, tissue, gambar untuk ditirukan, dan cairan bernama fixative yang akan digunakan di akhir proses menggambar. Oh iya yang tidak kalah penting : sediakan cemilan dan minuman!

Senjata tempur!

Mumpung saya sedang bersama Nyoman yang jagoan menggambar dengan gaya realis, saya minta Nyoman untuk memberikan arahan langkah-langkah dan tips selama menggambar. Pertama-pertama ambil contoh gambar yang akan ditirukan dan buat grit di atasnya dengan pensil. Kemudian lakukan hal yang sama dengan skala gambar disesuaikan dengan ke atas kertas canson dengan soft pastel warna hitam. Jangan ditekan! Karena nantinya garis-garis ini akan dihapus. Lalu mulailah membuat sketsa dengan soft pastels berwarna coklat. Fungsi grit adalah menjadikan lekuk-lekuk dan tata letak pada gambar lebih proporsional, seusai dengan aslinya.`

Guru gambar saya dan gambarnya yang super dewa
Membuat grit dan sketching
Setelah selesai membuat sketsa, dengan soft pastels yang sama, gores dan gosok untuk beberapa titik yang berbayang. Contoh : hidung, pipi, dagu. Sesuaikan dengan gambar aslinya. Fungsi shading ini adalah menunjukkan lekuk-lekuk pada wajah. Sebelum memberikan bayang-bayang, saya terkena sindrom malas-diwarnai-ah-udah-bagus-takut-malah-jelek. Itulah mengapa saya hampir tidak pernah menggambar orang dengan warna!

Mulai menggores soft pastels

Setelah proses shading, saatnya untuk memberikan warna-warna lain dan membaurkannya sehingga warnanya menyatu atau membentuk warna tertentu. Soft pastels yang saya miliki ini punya karakteristik menghasilkan butiran serbuk yang cukup banyak. Tepuk-tepuk saja serbuk tersebut untuk mengisi warna pada tekstur kertas sekaligus menyatukan warna. 

Kesulitan utama biasanya membentuk bibir, hidung, dan puncaknya pada mata! Salah sedikit sudut saja langsung berbeda sekali! Menggambar memang butuh kesabaran, apalagi untuk jenis realis dengan memperhatikan detail sana sini. Saya berkali-kali berkomentar, "Aduh kok bokap gue kekurusan ya? Kok nyokap gue beda ya? Kok... Kok..." Dan banyak lagi yang terkadang membuat Nyoman geli sendiri mendengar celetukan saya mengomentari gambar sendiri. 

"Itu hidungnya kurang ke bawah... Sudut mulutnya... Matanya kurang..."

Kalau tidak benar-benar senang menggambar dan menikmati ini, sepertinya kita bisa frustasi sendiri. Tetapi keuntungan menggunakan soft pastels adalah bisa dihapus! Teknik menghapusnya perlahan dan tidak sembarangan. Harus super hati-hati supaya tidak merusak bagian yang lain. Kemudian perhatikan juga untuk tidak menyapu soft pastels terlalu tebal! Karena nantinya akan semakin sulit dibaurkan dan untuk warna yang seharusnya bisa memanfaatkan warna kertas menjadi percuma.

Setelah bolak-balik "mereparasi" wajah kedua orang tua saya, saatnya membubuhkan warna hitam untuk beberapa titik. Penggunaan warna hitam harap dilakukan terakhir sekali! Karena warna ini dapat mengotori banyak bagian. Ajaibnya, ketika membubuhkan sedikit warna hitam ke mata, rasanya seperti memberikan 'nyawa' ke gambar! 

Detik-detik tahap finishing
Nah, bagaimana cara memastikan gambar sudah proporsional, aneh/tidak, dan sebagainya? Pasang gambar pada posisi vertikal dan pandangi gambar dari jauh, maka kamu pasti akan menemukan jika ada titik kejanggalan pada gambarmu. Saat itu saya sudah super yakin dengan gambar saya. Lalu setelah memposisikan gambar vertikal, saya hampir frustasi karena ternyata salah satu mata ibu saya posisinya terlalu ke atas. Setelah diberikan tips langkah-langkah dari Nyoman, akhirnya dengan jurus soft pastels putih, mata yang kurang pas bisa dibetulkan! Hore!

Setelah yakin dengan gambar kita, semprot gambar dengan posisi vertikal menggunakan fixative. Semprit secara perlahan ke seluruh bagian gambar. Tujuannya supaya warna lebih menempel ke kertas.

Menyemprot dengan fixative

Hore akhirnya jadi juga! Setelah menghabiskan 8 jam lebih menggambar, saatnya berpuas diri! Wah rupanya gambar dengan soft pastels tidak bisa digulung karena akan merusak tekstur warna yang halus. Maka dari itu setelah melapisi gambar dengan plastik dan menjepitnya di buku gambar, saya boyong karya saya ini ke tukang pigura. Baiklah, ini menjadi kado ulang tahun pernikahan dan tanda terima kasih saya untuk kedua orang tua saya. Hore! Lain kali saya akan mencoba gambar-gambar lain dengan mainan baru saya ini!


Voila!

Selamat mencoba!


Kamis, 09 Januari 2014

Kisah Sang Kakek dan Cucunya

Setelah beradu dengan waktu dan berhasil menemui dosen pembimbing saya untuk meminta tanda tangan, saya putuskan untuk berbincang sejenak dengan beberapa kawan seperjuangan saya. Langit sebenarnya sudah mendung. Dan benar saja, langit menguras diri dan menurunkan air berton-ton jumlahnya dan berhasil menyurutkan niat dan menahan saya untuk pulang.

Perbincangan tentang hidup. Memaknai hal-hal kecil. Lalu ada sebuah kisah sederhana yang dilontarkan salah seorang teman saya tentang shalat, ibadah wajib bagi seorang muslim. Lagi-lagi saya tuliskan sebagai pengingat untuk diri sendiri. Begini ceritanya.

 .....

Alkisah di sebuah desa, seorang anak laki-laki tinggal dengan seorang kakeknya. Kakek ini terkenal akan pribadinya yang shaleh dan tidak pernah meninggalkan shalatnya. Tidak lupa sang kakek selalu mengingatkan cucunya untuk selalu menunaikan ibadah ini setiap saat, dalam 5 waktu. Sang cucu selalu mengikuti perintah kakeknya hingga suatu hari sang cucu mungkin mulai merasa bosan dengan rutinitas tersebut. Ia tidak merasakan manfaat yang berarti atas pengulangan ritual 5 kali sehari yang kata sang kakek sebagai bentuk ibadah kepada Yang Maha Kuasa.

Ketika sampai di titik kejenuhannya, sang cucu bertanya pada sang kakek, untuk apa ia harus melaksanakan shalat sementara ia tidak merasakan perubahan apa-apa? Sang kakek tidak langsung menjawab. Ia ambil sebuah ember yang kotor akan tanah dan berlubang. Ia minta cucunya untuk mengambil air di sungai untuk mengisi penuh bak air di rumah. 

Dengan masih diliputi perasaan heran, perlahan sang cucu ikuti permintaan kakeknya. Ia harus melalui jalan turunan dan tanjakan untuk menuju sungai. Setiap ia mengambil seember penuh air, ia tetap harus melewati perjalanan yang cukup jauh. Setiap sampai di rumah, air di embernya tersisa sedikit. Air yang ia ambil perlahan-lahan keluar dari lubang selama perjalanannya. Beberapa kali si cucu bolak-balik, namun air yang berhasil dibawanya tidak seberapa. 

Sampai di titik jenuh dan kesalnya, ia menghampiri si kakek dan menanyakan untuk apa si kakek memintanya melakukan hal yang sia-sia itu? Mengapa harus mengambil air dengan ember yang kotor bahkan berlubang? Sambil menunjuk bak air yang tidak kunjung penuh dan air yang diambil menjadi kotor akibat tanah yang menempel dari ember, ia mempertanyakan permintaan yang dianggapnya aneh itu.

Lalu sang kakek memanggil cucunya dan memintanya untuk memperhatikan ember kotor dan berlubang yang ia bawa. Ia menanyakan ke cucunya, apa yang anak itu lihat di ember sebelumnya dan apa yang berbeda setelah ia bolak-balik mengambil air. Rupanya ember berlubang yang tadinya kotor sekali oleh tanah tersebut menjadi bersih sekali. 

Mungkin kita terlalu terfokus pada hasil yang kita harapkan dalam usaha kita, dalam hal ini adalah memenuhi isi bak air. Namun tanpa kita sadari, ada hal lain yang kita dapatkan atas usaha dan sesuatu yang kita tekuni. Usaha kita untuk berulang kali mengambil air rupanya tanpa kita sadari membersihkan si ember itu sendiri.

Hati

Tanpa kita sadari, di luar ekspektasi yang kita harapkan, dengan secara konsisten beribadah dan berkomunikasi dengan Yang di Atas akan dengan perlahan membersihkan hati kita. Maka "air" yang kita ambil dengan "ember" yang perlahan menjadi bersih menyebabkan si air yang dikumpulkan olehnya juga semakin bersih dan dapat dimanfaatkan.

Selamat menimba air dengan embermu!

:)

Selasa, 07 Januari 2014

Upah, Kerja, dan Berkah

Sudah hampir satu semester lamanya saya tidak mendengarkan siraman rohani dari salah seorang teman sekaligus guru bagi saya, Rahmi Khoerunisa. Siang tadi saya, Yufie, dan Ami duduk bertiga di pelataran Masjid Salman untuk berbagi, saling memberi angin segar untuk kebutuhan rohani. 

Kami berdiskusi banyak hal. Saya dan Yufie cenderung menjadi pendengar atas lontaran ayat dan kisah dari Ami yang menenangkan hati. Alhamdulillah Allah mengirimkan teman saya yang satu ini untuk menjadi teman berbagi tentang ilmu-Nya. Saya tuliskan kembali sebagian yang saya dapatkan, untuk menjadi pengingat diri sendiri.

Salah satu kisah di bawah ini cukup menjadi bekal pengingat kami yang akan memulai fase baru, mengakhiri sekolah formal dan mulai menghidupi diri sendiri.

Seseorang datang kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.

Namun anehnya, Imam Syafi’i justru menyuruh dia untuk
menyedekahkan 1 dirham dari gajinya, sehingga ia hanya dapat menggunakan 4 dirham untuk keperluannya. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya untuk kembali menyedekahkan 2 dirham dari gajinya, sehingga ia hanya dapat menggunakan 3 dirham untuk hidupnya. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan perasaan sangat heran.

Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi’i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya.

Sebenarnya poin utamanya adalah bukan besar kecilnya atas apa yang kita dapatkan, tetapi apakah itu memang menjadi hak atas apa yang kita kerjakan. Realistis dengan keperluan hidup sehari-harinya? Oh ya tetap perlu. Tetapi percayalah kalau manusia dibekali ilmu untuk mengatur keperluan hidupnya sebijaksana mungkin.

Di samping hitung-hitungan pemasukan-pengeluaran tersebut, jangan lupa untuk selalu merefleksikan nilai berkah atas apa yang kita kerjakan dan dapatkan.

Ketika kita merasa berkecukupan atas apa yang kita terima,
ketika kita dimudahkan atas setiap proses dan perjalanan kita,
dan ketika pribadi kita menjadi lebih baik, lebih dekat dengan Yang di Atas

InsyaAllah apa yang kita kerjakan memang berkah. 
Maka tetaplah berprasangka baik dengan skenario ke depannya. 

.....

"Kemampuan manusia memang terbatas, tetapi pertolongan Allah tidak terbatas"

Kalimat di atas mengakhiri bincang-bincang penyejuk hati kami. Pas sekali diucapkan ketika pada fase saya saat ini. Tetap yakin, berprasangka baik, dan semangat bekerja keras untuk apapun yang sedang dikerjakan di depan mata! :)

Selamat memulai tahun 2014!

Rabu, 18 Desember 2013

Refleksi Tahun 2013 : Main di Kandang?


Ya, tahun ini saya tidak menghasilkan banyak tulisan. Bahkan terhitung hingga saat ini, hanya hampir sepertiga dari hasil tulisan saya tahun lalu. Saya ingat kembali kalau tahun ini tidak banyak saya habiskan untuk bermain dan bertualang ke tempat-tempat baru, mengikuti berbagai macam kegiatan di luar seperti tahun-tahun sebelumnya.

Karena tugas akhir?

Hahaha. Tidak juga. Sebuah keputusan mengejutkan yang saya buat membuat saya harus mengundur waktu kelulusan saya hinggal April 2014 nanti (aamiin). Dengan minimnya pengembaraan saya ke tempat-tempat baru tahun ini, saya tidak katakan kalau saya tidak belajar banyak. Keputusan besar untuk berkomitmen dan mengabdikan diri di lingkungan yang sama, tidak terlalu besar, bahkan mengurus kebutuhan dasar manusia-manusia dalam lingkup tertentu ini sama sekali tidak terpikir dalam rencana hidup saya. Tapi saya belajar banyak. Banyak sekali. Dan hingga saat ini saya masih tidak bisa berhenti mensyukuri skenario dan 'ramuan' lingkungan yang Tuhan berikan untuk menjadi wadah belajar dan berkembang untuk saya.

Keputusan untuk mengurus kandang sendiri

Yang saya kerjakan saat ini di kampus menuntut saya untuk dapat berkomunikasi dengan berbagai jenis pihak. Bahkan bukan hanya berkomunikasi, namun saya harus mampu 'mengadvokasi' sebuah hal yang saya anggap benar ke beberapa pihak berbeda. Ini adalah hal baru untuk saya. Sejujurnya saya sempat takut menerima amanah ini di awal. Ini bukan keahlian saya dan bidang yang sudah sering saya geluti selama ini. Saya tidak kenal banyak pihak di lingkungan ini. Namun atas dasar kepercayaan dan niat bahwa sudah saatnya saya memberikan sesuatu ke lingkungan yang akan saya tinggali ini di tahun depan, saya terima amanah ini.

Berbuat baik itu sederhana

Dulu saya banyak terpaku dengan membuat karya dan memikirkan hal-hal besar yang seakan-akan untuk kepentingan orang banyak. Namun rupanya lingkungan terdekat yang selama ini saya anggap semuanya baik-baik saja, tidak semanis dan seberuntung penampakannya. Lagi-lagi saya teringat perkataan Pak Anies Baswedan yang menganalogikan kampus sebagai kolam renang, tempat berlatih sekeras mungkin sebelum terjun ke samudera. Kolam renang, sebagai sesuatu yang terukur. Ya, kami benar-benar sedang berlatih keras untuk berenang di dalamnya sekarang. Dan hey, kampus saya ini rupanya berisikan ikan dan tetumbu karang yang sewarna-warni itu! Lalu lagi-lagi saya merasa beruntung bisa 'berenang' lebih dalam, berlatih, dan mengenal isinya.

Saya selalu tersenyum mendengar komentar Wakil Rektor saya, Pak Kadarsyah, ketika beliau mengingatkan berulang kali pada saya. "Kamu sedang belajar menjadi public leader, setiap keputusan yang diambil harus untuk kepentingan orang banyak". Dan benar sekali. Baru kali ini saya merasakan efek secara langsung atas setiap keputusan dan kegagalan yang saya dan teman-teman ambil. Nasib keberlangsungan hidup di kampus dan kesejahteraan sekian banyak anak ada di tangan kami. 

Memberikan penghargaan pada diri sendiri itu sederhana

Mengetahui bahwa hal kecil yang kamu kerjakan itu sangat membantu, lalu membuat orang lain tersenyum, sudah membuat kesenangan yang tidak ternilai. 

Menemukan bahwa kita adalah orang yang masih jauh lebih beruntung, membuat malu diri sendiri dan menambah rasa syukur.

Lalu untuk tim kerja saya yang luar biasa, kebahagiaan itu juga dibentuk dengan sederhana. Melihat kedekatan tim dan keikhlasan bekerja yang terbaik untuk kepentingan orang lain, saya senang bukan main. Ini adalah energi terbesar yang pernah saya dapatkan dari lingkungan bekerja saya. Energi yang ditularkan antar manusia itu benar adanya.

Perasaan marah, meledak-ledak, menangis, tertawa, hingga senyuman puas sudah sempat saya cicipi. Manusia itu luar biasa beruntung karena mendapatkan anugerah untuk mengekpresikan apa yang ada di hatinya. Sejujurnya, ini seru sekali! :) Semakin digeluti, semakin sadar bahwa saya masih harus banyak belajar! Bahwa berhubungan dengan manusia hingga menginvestasi sebuah hal besar seperti mimpi ke dalamnya gampang-gampang susah. Kalau kata partner saya, harus belajar nrimo. Ya, dengan belajar menerima semua perbedaan orang lain terutama pihak-pihak yang berhubungan dengan hal yang kita kerjakan, semuanya terasa lebih mudah.

Ke depannya akan ada ratusan bahkan, ribuan, bahkan jutaan jenis manusia yang akan saya temui dan geluti di luar sana. Saya sangat bersemangat! Terima kasih untuk semua skenario dan 'ramuan' lingkungan sosial untuk tempatku belajar ini :)