Senin, 15 Desember 2014

Bang Onte : Kuantita Kejiwaan Dari Alam


(Bandung, 13/12) Simpul Space BCCF pagi itu diwarnai dengan gelak tawa sekumpulan orang yang asik mendengarkan celotehan Bang Silverius Oscar Unggul (43), yang akrab disapa Bang Onte. Social Inovators Talk ke 4 kali ini mengundang beliau untuk berbagi kisahnya dalam membentuk internal organisasi yang kuat. Selama hampir 2 jam lamanya kami diasupi cerita-cerita perjuangan Bang Onte dan 8 kawannya dalam membangun visi menyelamatkan hutan Indonesia.

Bang Onte, pria kelahiran Kendari Sulawesi Tenggara ini adalah peraih Social Entrepreneur of The Year 2008, Ernst & Young, Schwab Foundation. Berawal dari perjuangannya di masa kuliah sebagai seorang pecinta alam, beliau dan kawan-kawannya membentuk organisasi Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) di kampusnya. Dari tempaan dan persahabatannya yang begitu erat dengan alam, Bang Onte benar-benar dimanjakan dengan warga-warga di pelosok Indonesia yang begitu baik. Sampai akhirnya Bang Onte berkesimpulan bahwa orang-orang akan berperilaku baik seiring dengan alamnya yang masih terjaga. Maka tidak heran ketika alam rusak akan berpengaruh negatif pada masyarakat di sekitarnya.

Bagaimana cara membantu orang-orang yang alamnya masih baik?
Bagaimana mengembalikan alam yang sudah rusak?

Yayasan Pecinta Alam (Yascita)

Sambil menahan geli, peraih Skoll Award for Social Entrepreneurship 2010 ini menceritakan asal muasal terbentuknya LSM buatannya dengan 7 kawannya. Ia melihat senior-senior kuliahnya yang sudah lulus bolak-balik menraktir makan ketika main ke kampus. Ditanya kerja apa, katanya di LSM. Bang Onte berkesimpulan :

Oh, kerja di LSM banyak duitnya

Dengan motivasi menyelamatkan alam dan gambaran finansial LSM yang menggiurkan,  tahun 1995 dibentuklah Yascita oleh 8 orang nekat ini. Rupanya setelah menjalani bidang pekerjaan di LSM yang mereka bentuk, angan-angan tentang LSM di awal buyar seketika. Selama 4 tahun mereka mencoba bertahan dalam kesempitan. Tetapi setiap merasa kesulitan, mereka akan kembali ke alam. Mereka percaya, bahwa alam akan membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh. 


Dari alam, Bang Onte mendapat pelajaran besar berupa kuantita kejiwaan : semangat pantang menyerah, semangat rela berkorban, semangat kebersamaan, dan semangat kekeluargaan.

Di sela-sela waktu, Bang Onte menggunakan berbagai cara untuk tetap menumbuhkan semangat timnya, di mana salah satunya adalah menuliskan target dan optimisme di papan setiap awal bulan, meskipun pada akhirnya seringkali target tersebut tidak berbuah hasil. 

Akhirnya setelah penantian 4 tahun, Yascita mendapatkan proyek pertama mendokumentasikan foto hutan yang rusak. Tidak puas dengan yang dikerjakan, Bang Onte sempat sampai di titik hampir putus asa. Namun niatnya dibatalkan oleh kejadian kebetulan yang menyadarkannya bahwa meninggalkan warisan harta itu jauh tidak seberapa dibanding meninggalkan nama baik. Itulah yang dilakukan ayah Bang Onte dalam menjalankan amanahnya di kantor pemerintahan.


Radio dan TV lucu-lucu

Berpikir di tengah kondisi yang susah akan menumbukan kreativitas yang luar biasa! Pengalaman yang menjadi sentilan kecil itu menumbuhkan semangat dan ide besar. Karena sulitnya menyebarkan informasi lewat media massa pada zaman itu, di tahun 2000 8 orang ini beride gila membangun sebuah radio, Radio Swara Alam namanya. Pemancarnya dikaitkan ke pohon. Makin lama makin tinggi pemancarnya seiring dengan tumbuhnya pohon. Tapi jangan kaget kalau musim hujan tidak bisa siaran karena pemancarnya ikut tergoyang angin ribut. Berawal dari 10 pendengar hingga akhirnya berkembang dan menimbulkan ide baru untuk membangun stasiun TV pada tahun 2002. 

Kendari TV dijuluki sebagai "TV Lucu-Lucu" karena pengemasannya tidak seperti layaknya TV lain. Ketika sudah mampu menjadi perusahaan radio dan TV, Bang Onte dengan bangga mengundang para LSM untuk studi banding. Melihat kesederhanaan stasiun radio dan TV itu, mereka dicemooh. Namun rupanya Bang Onte punya alasan mengapa stasiunnya yang tampak "main-main" itu menjadi sasaran studi banding.

"Supaya kawan-kawan optimis bisa bikin seperti kami-kami ini. Kalau lihat stasiun TV besar, pulang-pulang nggak akan jadi bikin karena sudah keburu takut duluan dengan peralatan mahalnya" ujarnya.

Alhasil benar saja. Dari kunjungan tersebut, lahirlah stasiun TV lokal seperti Bengkulu TV dan lainnya. Dari stasiun-stasiun TV lokal tersebut, dibentuklah Asosiasi Televisi Kerakyatan Indonesia. Penikmat Kendari TV awalnya hanya 7 KK dan berkembang hingga dinikmati 8000 KK. 

Pada titik itu, Bang Onte dan kawan-kawan merenungkan kembali visi yang ingin mereka raih. Akhirnya tahun 2011 mereka menjual Kendari TV yang bernilai 12 Milyar (modal awal hanya 300 juta) dan Bengkulu TV yang bernilai 9 Milyar ke Kompas, dengan saham 40% masih dipegang oleh mereka. Demi mencapai visi bersama, didirikanlah TELAPAK yang masih bertahan hingga saat ini. TELAPAK adalah bentuk penggabungan LSM-LSM di Indonesia yang memiliki visi yang sama. 

Kunci Keberhasilan Tim

Yang berhasil membuat kami terkagum-kagum adalah salah satunya konsistensi 8 orang sebagai penggagas yang bertahan terus hingga saat ini. Hal itu yang menjadi teladan konkrit prinsip gotong royong, harapannya menjadi contoh bagi masyarakat yang mereka dekati. Yang mengikat mereka juga salah satunya adalah aturan main yang disepakati bersama. Misalnya dalam pembagian peran, masing-masing tidak akan campur tangan dengan bagian lainnya. Dari mulai yang jago berdiplomasi hingga peran menghibur tim, semuanya dipercayakan pada perannya masing-masing. Masalah pembagian uang, dulu dibagikan ke teman-teman yang membutuhkan. Misalnya pernah dalam cerita perjuangan di awal, ada 2 dari 8 orang ini yang mau menikah, maka 6 orang lainnya mengumpulkan uang untuk membantu kedua temannya. Untuk menghindari konlik internal, 8 orang ini rutin camping 2 minggu sekali. Ketika semakin banyak orang dalam radio dan TV, bentuknya berupa gathering 1 bulan sekali. Sekarang untuk skala TELAPAK, mereka rutin rapat besar 2 tahun sekali. 

Menariknya lagi, dalam pembagian hak secara finansial pun diatur sama rata dan gaji yang mereka terima masing-masing di luar masuk ke satu pintu. Mereka menggunakan sistem koperasi untuk mengikat  status kerjasama. Koperasi itulah yang memiliki saham di mana-mana. Menurut pengalaman Bang Onte, badan koperasi ini sangat membantu menghindari konflik internal karena hak dan kewajibannya diatur dengan sangat jelas. Selain menjunjung tinggi asas gotong royong,TELAPAK hingga saat ini yang beranggotakan 300 orang masih menggunakan sistem musyawarah, salah satunya dalam memilih pemimpin. Dalam rapat besar, orang-orang yang merasa pantas memimpin dan yang dipilih rekan-rekannya karena dianggap pantas diberikan waktu sendiri untuk menentukan siapa yang menjadi ketua di antara mereka. 

Kunci Keberhasilan di Masyarakat

Dalam bekerjasama dengan masyarakat di setiap programnya, mereka selalu belajar dari kegagaln. Salah satunya adalah tidak bergantung ke satu pihak yang dianggap sebagai tokoh masyarakat. Jika terjadi apa-apa dengan orang ini, maka program bisa bubar seketika. Kemudian proses pendekatan yang dilakukan juga unik. Selain prinsip partisipatif dengan membangun aturan bersama dengan masyarakat, pendekatannya adalah mengikuti kebiasaan masyarakat di awalnya. Kebiasaan makan bersama hingga mencuri kayu pun mereka geluti. Karena pada prinsipnya mereka percaya kalau banyak kesepakatan dan hal-hal penting yang dapat dilakukan dalam obrolan ringan di sela berkegiatan itu. Namun untuk beberapa kebiasaan negatif masyarakat, mereka strategikan untuk lama kelamaan digiring ke arah yang benar. Jika kebiasaan masyarakat yang kita rasa buruk langsung 'ditabrak' di awal, bisa-bisa kita langsung ditolak mentah-mentah. Sistem pembagian keuntungan juga dilakukan agar masyarakat merasakan timbal balik dari usahanya. Jika ada konflik, mereka menggunakan 'buku besar' yang mengatur segala aturan main-hasil kesepakatan mereka sendiri. Kunci lainnya adalah keteladanan. Delapan orang penggagas ini bertahan dengan jumlahnya dan menunjukan bukti nyata sebuah gotong royong dan koperasi.
Fokus dengan apa yang dicita-citakan. Fokus itu datangnya dari hati. Kalau memang tidak serius, lebih baik berhenti karena hanya buang-buang waktu saja!

Foto Bersama Seusai Ngobrol

Terima kasih untuk ceritanya yang sangat menginspirasi, Bang Onte! :)


Sabtu, 13 September 2014

Pesan Sang Guru


“The mediocre teacher tells. The good teacher explains. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.” -William Arthur Ward

Sudah lama sekali saya ingin menuliskan sedikit mengenai tokoh yang satu ini. 

Hari Kamis pagi lalu, saya menemui kembali dosen favorit, mentor, dan guru saya selama di Kampus. Dr. Ir. Tresna Dermawan Kunaefi, yang akrab disebut Pak Iwan. Seorang dosen sekaligus mantan duta besar UNESCO, yang menjunjung tinggi nilai socio-technology dan aktif di ranah pendidikan. Beliau adalah salah satu pihak yang berjasa dalam mengusahakan batik sebagai world heritage. Kecintaan beliau terhadap pekerjaan dan hobinya menginsipirasi saya sejak awal berkomunikasi dengan beliau sebagai dosen mata kuliah Infrastruktur Sanitasi, pembimbing mata kuliah kerja praktek, dan tugas akhir saya yang berkaitan dengan community based sanitation

Pesan ini selalu beliau ingatkan kepada saya, di sela-sela penyampaian harapan beliau terhadap saya menuju kesuksesan di masa depan. Maka izinkan saya menulis untuk membagi dan mengingatnya.

Bangga terhadap pekerjaanmu, 
Cintai pekerjaanmu, 
Lakukan yang terbaik pada pekerjaanmu,

Dibarengi dengan senyum lebar dan kisah beliau melewati serunya kehidupan.

Perjalanan amanah dan sepak terjang beliau yang naik turun dilakukan dengan sepenuh hati. Sudah beberapa kali beliau sampaikan ini kepada saya, setiap mendengar celotehan saya akan mimpi dan minat saya yang meledak-ledak. Harapan dan pesan selalu hadir dari beliau

Sumber : Pikiran Rakyat

Terima kasih, Pak Iwan. Semoga tetap sehat dan menginspirasi sepanjang masa!

Sabtu, 23 Agustus 2014

Empati Adalah Imunitas?

Lagi-lagi saya menemukan korelasi yang keren antara hati dan tubuh kita!

Pernahkan ketika kita sedang sibuk melakukan banyak hal rasanya seperti sehat selalu? Bahkan orang tua saya di rumah pun sampai bingung dan beberapa kali khawatir dengan kesehatan saya si anak bungsu ini. Awalnya saya pikir itu adalah efek dari pengalihan pikiran sehingga badan pun tidak terasa "sinyal-sinyal" capeknya. Maka biasanya baru terasa lelahnya atau ambruk ketika pekerjaan sudah selesai dan dalam masa rehat. 

Namun ada kalanya beberapa jenis aktifitas positif yang meskipun capeknya bukan main, tetapi badan saya baik-baik saja tuh setelah aktifitas tersebut usai. Yang saya dapatkan justru energi yang lebih meledak-ledak. Hehehe. 

Ada hal menarik yang lagi-lagi saya temukan dari temuan Gobind Vashdevh dalam buku Hapiness Inside

Korelasi empati dan imunitas tubuh

Gobind memberikan contoh seorang mendiang tokoh tersohor di dunia, Bunda Theresa. Seorang perempuan peraih nobel perdamaian karena perjuangannya bersama kaum papa. Bagaimana beliau dan rekan-rekannya bisa kebal dari penularan penyakit kusta selama begitu lamanya bersentuhan dengan pengidap penyakit menular ini? Kemudian saya jadi mengingat bagaimana para relawan-relawan selama ini baik-baik saja dalam misi menolong korban, baik dari penyakit menular, bencana, atau di permukiman kumuh yang katanya menjadi sumber penyakit? Kondisi terjepit tersebut mengakibatkan para relawan tidak sempat mengonsumsi makanan dan istirahat teratur. Secara nalar, hal ini sangat tidak mungkin.

Informasi setelahnya sangat mencengangkan dan membuat saya merinding.
Seorang psikolog dari Harvard, David McClelland dan Carol Kirshnit telah melakukan penelitian tentang hubungan antara empati dan kekebalan tubuh, melalui pengecekan air liur penonton film-film yang mengundang empati. Hasilnya luar biasa. Peningkatan empati berkorelasi positif terhadap kenaikan tingkat Immunoglobulin A (IgA).
Saya lagi-lagi harus katakan bahwa saya merinding dibuatnya. Saya sebarkan ke beberapa teman terdekat mengenai informasi luar biasa ini. Bahwa betapa hebatnya tubuh kita merespon kebaikan, empati, dan nilai berbagi kepada sekitar kita. Terjawab sudah pertanyaan saya. Itulah mengapa pemimpin-pemimpin hebat di negeri kita ini seperti tidak ada lelahnya, dan orang-orang mulia di sekitar kita seperti tidak pernah habis energinya. Karena mereka benar-benar berempati untuk sesama. :)



Jumat, 22 Agustus 2014

Media dan Saringan Diri

Tulisan mengenai fenomena paparan dan arus media yang terjadi saat ini sebenarnya sudah lama sekali ingin saya tuliskan. Mulai dari berita, sarana hiburan, hingga iklan dalam berbagai bentuk media menggelitik saya untuk mengamati fenomena yang terjadi atas akibat yang ditimbulkan olehnya. Namun hanya tersimpan dalam pikiran dan belum terpikirkan banyak hal untuk disampaikan hingga saya menemukan beberapa yang menarik.

Kemudian saya seperti seakan diingatkan kembali mengenai hal ini ketika dipinjamkan buku Happiness Inside karya Gobind Vashdev, yang menyebut dirinya sebagai heartworker. Izinkan saya mengutip dan menuliskan kembali beberapa poin menarik yang saya serap dari buku inspiratif ini, dan saya elaborasikan dengan sumber lainnya. 

Manusia dan Air

Mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita mengenai keajaiban yang terjadi dalam pengaruh struktur molekul dalam air terhadap respon hal-hal yang diterimanya, mulai dari kata-kata, lagu, bahkan tulisan di dekatnya. Penelitan yang telah menggemparkan dunia ini dilakukan oleh Dr. Masaru Emoto dari Jepang dengan pengamatan melalui mikroskop. Pembentukan kristal yang terjadi dalam air menunjukkan respon terhadap hal-hal positif seperti kata-kata yang baik, doa, dan alunan musik yang menenangkan.

Melihat hasil penelitian tersebut, maka menjadi logis kaitannya dengan perilaku manusia. Bicara mengenai air, kurang lebih 2/3 kandungan dalam tubuh manusia adalah air. Sama halnya dengan hakikat air yang disebutkan di atas, bahwa jika tubuh kita terpapar hal-hal yang baik, maka sebagian besar dari tubuh kita akan merespon dengan baik pula. Begitu pun sebaliknya yang terjadi pada hal-hal yang buruk.

Penularan Perilaku

Bukan hanya penyakit fisik yang bisa menjadi wabah. Rupanya segala bentuk perilaku juga bisa mengalami hal serupa. Kekhawatiran dan kecurigaan saya berawal dari banyaknya tayangan dan informasi negatif terkait tindakan kriminal, bahkan film-film berbau sadis tersebar bebas ke publik, yang mengakibatkan meningkatnya pula tindakan kriminal di dunia nyata. 

Rupanya kekhawatiran saya terjawab. Penelitian  telah dilakukan oleh David Philips dari University of California, San Diego mengenai korelasi positif antara pemberitaan di media mengenai kejadian bunuh diri dan tingkat bunuh diri yang terjadi di wilayah tersebut. Selain itu penelitian ini juga dibuktikan oleh Malcolm Gladwell yang mengamati fenomena di Mikronesia mengenai peningkatan kejadian bunuh diri hingga 7 kali lipat dengan cara yang hampir serupa, setelah 1 kejadian bunuh diri yang diberitakan media massa setempat.

Yang saya sampaikan di atas mungkin lebih kepada kekhawatiran untuk perilaku ekstrim. Untuk membuktikan fenomena penularan paling sederhana di sekitar kita, coba kita perhatikan tren yang dibentuk oleh media, atau kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan oleh teman di sekeliling kita yang membuat kita melakukan hal yang sama. Alam bawah sadar kita terbukti merespon apa yang kita dengar, lihat, dan rasakan.

Saringan Diri
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, pengelihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya." (QS. Al-Isra :36)
Dengan kepungan media yang terjadi saat ini, mau tidak mau kita sendiri yang harus "membentengi" diri dan menciptakan lingkungan yang baik di sekitar kita. Adalah sepenuhnya hak kita secara sadar untuk merespon hal-hal yang kita terima. Ada sebuah kisah menarik yang ingin saya kutip mengenai "saringan pikiran".

Pada jaman Yunani kuno, Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanaannya yang tinggi. Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan berkata, "Tahukah Anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman Anda?"
"Tunggu sebentar," jawab Socrates. "Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin Anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut dinamakan Ujian Saringan Tiga Lapis."
"Saringan Tiga Lapis?" tanya pria tersebut.
"Betul," lanjut Socrates," sebelum Anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Lapis."
" Saringan yang pertama adalah KEBENARAN. Sudah pastikah Anda bahwa apa yang akan Anda katakan kepada saya itu benar?"
"Tidak," kata pria tersebut. "Sesungguhnya saya hanya mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada Anda."
"Baiklah," kata Socrates. "Jadi Anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak."
"Sekarang mari kita coba saringan kedua, yaitu KEBAIKAN. Apakah yang akan Anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik?"
"Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk."
"Jadi," lanjut Socrates, "Anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi Anda tidak yakin jika itu benar. Anda mungkin masih dapat lulus ujian selanjutnya, yaitu KEGUNAAN. Apakah cerita yang Anda ingin beritahu kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?"
"Tidak, sungguh tidak," jawab pria tersebut.
"Jika begitu," simpul Socrates, "Jika apa yang akan Anda beritahukan kepada saya itu tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, mengapa Anda ingin menceritakannya kepada saya?"

Kisah di atas sebenarnya tepat sekali direnungkan oleh kita yang bisa mendapati kondisi diri kita sebagai penerima atau pemberi informasi. Sebagai penerima, ada beberapa informasi yang mungkin tidak dapat terhindarkan untuk kita terima, namun kita berhak memilih dan memilah mana yang baik untuk diresapi oleh diri kita. Tidak kalah penting halnya untuk ikut menjaga lingkungan terdekat kita dari "penularan perilaku" negatif melalui paparan media tersebut, khususnya terhadap anak kecil.

Bukan hanya sebagai penerima informasi yang harus pintar, tetapi juga si pemberi informasi. Sesuatu yang seharusnya paling dapat kita kontrol adalah sebagai pemberi. Meskipun saat ini media sosial memberikan hak kepada kita untuk seluas-luasnya menyebarkan atau menginformasikan sesuatu, alangkah lebih indahnya kalau kita mengambil waktu sejenak untuk memikirkan efek yang akan diterima oleh orang-orang di sekeliling kita sebagai si penerima. Tentunya masing-masing dari kita mengharapkan sekitar kita mendapatkan penularan hal-hal yang positif :)