Rabu, 22 Desember 2010

Sedikit cerita tentang Desa kidang pananjung

Setelah menghabiskan kira-kira 2 minggu berkutat dengan UAS, tanggal 21 Desember kemarin saya dan teman-teman HMTL berangkat ke Desa Kidang Pananjung, Cililin yang merupakan desa binaan KM-ITB. Lama perjalanannya sekitar 2 jam. Kami berangkat pagi-pagi naik tronton menuju lokasi. Melihat dan merasakan medan jalan yang kami tempuh, saya mulai mengira-ngira "Seberapa terpencil ya tempat ini?"

suasana jalan desa

Ternyata begitu kami sampai, saya buka handphone dan di situ terpampang jelas "No access to network". Berarti benar apa yang sudah saya lakukan sebelumnya, mengabari ibu saya kalau akan ke sini dan mungkin tidak bisa dihubungi.

Saya mendapat rumah yang cukup enak di beberapa halnya. Rumahnya tidak sumpek dan pemandangan di depan rumah indah sekali. Waktu malam hari kami bisa melihat lampu-lampu kota dari kejauhan. Selain itu yang paling membuat iri semuanya adalah di sini ada sinyal! :D Pemilik rumah juga baiiiiik sekali. Kami langsung disuguhi peyeum yang rasanya enak sekali. Tidak terlalu manis dan empuknya pas. Berjualan peuyeum adalah salah satu mata pencaharian mereka. Mereka bisa sampai berjualan di Cimahi. Per kilonya dijual hanya 5000 rupiah saja.

Suasana di depan rumah, kami sedang bermain dengan anak-anak sekitar rumah

ini dia teman-teman kecil saya di sana

peuyeum, salah satu mata pencaharian utama Desa Kidang Pananjung

Namun ada beberapa hal yang membuat saya prihatin. Di sini air adalah sesuatu yang sulit untuk didapatkan. Air bersih dialirkan melalui selang yang digunakan secara umum. Atau alternatif lain adalah kita karus ke "lebak" (artinya bawah dalam bahasa Sunda). Di sana ada sumur dan WC yang seadanya. Air sumurnya harus ditimba dulu. Wah ini pertama kalinya saya mencoba menimba air di sumur. Awalnya kami sempat dicontohkan cara menimba airnya oleh Heni & Nur, anak dari penduduk di sana. Wah mereka kuat sekali rupanya. Mudah sekali mereka mengerek ember berisi air yang ternyata saat kami coba, lumayan berat juga.

Hal lain yang memprihatinkan adalah WC nya. Satu hal yang saya pertanyakan dari awal ketika sampai di desa ini. Karena jujur saja, perut saya sedang kurang beres waktu itu. Dan.. ini lah yang kami temukan. WC dan dapur ada di satu ruangan yang sama dan TIDAK TERTUTUP. Haloo saya bisa buang air sambil menunggu masakan matang lho. Hahahaha. Saya ingat waktu saya kebelet sekali, tapi si Ibunya lagi masak di dapur.



Saya : "Punten Ibu, saya mau pipis."
Ibu : "Oh mangga neng, mangga." (masih tetap meneruskan memasak) -_____-"

Hahahahhahha.

Oia, si Ibu ini tidak bisa bahasa Indonesia. Dia bilang sih dia mengerti kalau dengar, tapi tidak bisa membalasnya. Lah saya boro-boro bisa bahasa Sunda. Setiap kami semua ngobrol, hanya Ika, Kak Riri, Kak Desti, dan Kak PJ yang aktif bicara dan sibuk men translate ke kami yang tidak bisa bahasa Sunda. Beliau tidak melewati jenjang sekolah, maka dari itu bahasa yang digunakan ya bahasa ibu daerahnya, yaitu bahasa Sunda.

Dan hal lain yang membuat saya paling prihatin juga, pendidikan kesehatan makanan di sini pasti minim sekali. Anak dan cucu pemilik rumah namanya Melanie dan Intan. Intan berumur 6 tahun dan Melanie 4 tahun. Saya tidak pernah menemukan mereka makan dengan semestinya. Yang saya lihat mereka makan jajan-jajanan tidak sehat dari warung seperti ciki-cikian ataupun minuman dengan pewarna berlebihan. Atau snack-snack lain yang pastinya mengandung penyedap rasa berlebih Yang paling membuat miris itu kadang mereka membuka mie instan untuk dimakan mentah-mentah. Malamnya, makan malam Melanie dan Intan pun mie instan yang disiram air panas. Lalu setelah makan malam, Intan ke dapur dan membuka mie instan yang mentah, lalu memakannya sebagai camilan. Daaan esok paginya, 2 anak ini diberi sarapan mie cup, lalu makan siangnya adalah mie yang dijual di gerobak dengan kuah yang merah karena sambal tomat busuk. Astagaaaaa. Anak-anak ini dapat vitamin dari mana? Pernah kami tanya ke Teh Ai, Ibu dari Melanie

Kami : "Nteu makan sangu, Teh?" (Nggak makan nasi, Teh?)
Teh Ai : "Sukanya jajan. Sehari bisa abis 10 ribu buat jajan."
(sambil tertawa kecil. Tidak sadar kalau ini adalah sebuah masalah sebenarnya. Mungkin yang ada di pikirannya adalah ini adalah salah satu bentuk kenakalan anak kecil yang susah makan)

Ya ampuuuuunnnn. Jajan saja bisa sampai 10 ribu? Uang segitu bisa untuk makan kenyang lho di Bandung. Ckckcckckck... Tapi saya juga tidak bisa menyalahkan mereka Boro-boro mau mikirin kesehatan makanan. Uang makan saja susah didapat. Prinsipnya yang penting anak senang. Aduh tapi saya sedih sekali melihat kondisi ini. Bagaimana mau maju pemikirannya kalau konsumsi makanannya saja seperti ini? :(

Esok harinya kami melakukan sosialisasi di SD Negeri Walahir tentang pendidikan kesehatan mencuci tangan dan menggosok gigi. Selebihnya kami bermain games bersama. Seru sekali lho :) semuanya antusias. Tapi ada beberapa anak yang sangat pemalu dan sulit menangkap instruksi permainan. Pemalunya benar-benar pemalu lho. Kalau ditanya hanya senyum-senyum lalu sembunyi di belakang temannya. Hehe mau tidak mau saya harus sabar menghadapinya. Eits tidak boleh asal-asalan, karena mereka pasti segan dengan orang-orang baru.





WC murid dan WC guru? Bukan WC perempuan dan laki-laki? Hmmm

Siangnya kami menyusul para lelaki yang sedang membangun konstruksi pipa di bagian atas bukit Untungnya kami sempat menebeng truk untuk bisa ke atas, lalu dilanjutkan dengan berjalan kaki. Wah cukup jauh dan medannya itu lho. Salut deh sama anak-anak SD yang rumahnya di atas sedangkan untuk ke sekolahnya harus jauh turun ke bawah.


4 thumbs up untuk anak-anak SD ini. Jarak rumah-sekolah mereka jauh sekali lho

Setelah melihat mata air yang nun jauh di atas, kami turun ke bawah untuk makan siang dan berkemas untuk pulang. Saya dan yang lainnya membeli beberapa kilo peuyeum buatan si Ibu untuk dibawa pulang ke Bandung dengan harga yang kami bayarkan adalah 2x lipat harga aslinya.

Pukul 17.00, setelah lama menunggu jemputan di bawah hujan yang mengguyur Desa Kidang Pananjung, kami meninggalkan desa ini dengan berdesak-desakan di dalam tronton.

Foto bersama sebelum pulang

Terima kasih untuk semalam yang berharga ini. Saya semakin menghargai air sekarang :)


1 komentar: