Selasa, 07 Januari 2014

Upah, Kerja, dan Berkah

Sudah hampir satu semester lamanya saya tidak mendengarkan siraman rohani dari salah seorang teman sekaligus guru bagi saya, Rahmi Khoerunisa. Siang tadi saya, Yufie, dan Ami duduk bertiga di pelataran Masjid Salman untuk berbagi, saling memberi angin segar untuk kebutuhan rohani. 

Kami berdiskusi banyak hal. Saya dan Yufie cenderung menjadi pendengar atas lontaran ayat dan kisah dari Ami yang menenangkan hati. Alhamdulillah Allah mengirimkan teman saya yang satu ini untuk menjadi teman berbagi tentang ilmu-Nya. Saya tuliskan kembali sebagian yang saya dapatkan, untuk menjadi pengingat diri sendiri.

Salah satu kisah di bawah ini cukup menjadi bekal pengingat kami yang akan memulai fase baru, mengakhiri sekolah formal dan mulai menghidupi diri sendiri.

Seseorang datang kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kesempitan hidup yang ia alami. Dia memberi tahukan bahwa ia bekerja sebagai orang upahan dengan gaji 5 dirham. Dan gaji itu tidak mencukupinya.

Namun anehnya, Imam Syafi’i justru menyuruh dia untuk
menyedekahkan 1 dirham dari gajinya, sehingga ia hanya dapat menggunakan 4 dirham untuk keperluannya. Orang itu pergi melaksanakan perintah Imam Syafi’i sekalipun ia tidak paham apa maksud dari perintah itu.

Setelah berlalu beberapa lama orang itu datang lagi kepada Imam Syafi’i mengadukan tentang kehidupannya yang tidak ada kemajuan. Lalu Imam Syafi’i memerintahkannya untuk kembali menyedekahkan 2 dirham dari gajinya, sehingga ia hanya dapat menggunakan 3 dirham untuk hidupnya. Orang itupun pergi melaksanakan anjuran Imam Syafi’i dengan perasaan sangat heran.

Setelah berlalu sekian hari orang itu kembali lagi menemui Imam Syafi’i dan berterima kasih atas nasehatnya. Ia menceritakan bahwa uang 3 dirham justru bisa menutupi seluruh kebutuhan hidupnya, bahkan hidupnya menjadi lapang. Ia menanyakan apa rahasia di balik itu semua?

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa pekerjaan yang ia jalani itu tidak berhak mendapatkan upah lebih dari 3 dirham. Dan kelebihan 2 dirham itu telah mencabut keberkahan harta yang ia miliki ketika tercambur dengannya.

Sebenarnya poin utamanya adalah bukan besar kecilnya atas apa yang kita dapatkan, tetapi apakah itu memang menjadi hak atas apa yang kita kerjakan. Realistis dengan keperluan hidup sehari-harinya? Oh ya tetap perlu. Tetapi percayalah kalau manusia dibekali ilmu untuk mengatur keperluan hidupnya sebijaksana mungkin.

Di samping hitung-hitungan pemasukan-pengeluaran tersebut, jangan lupa untuk selalu merefleksikan nilai berkah atas apa yang kita kerjakan dan dapatkan.

Ketika kita merasa berkecukupan atas apa yang kita terima,
ketika kita dimudahkan atas setiap proses dan perjalanan kita,
dan ketika pribadi kita menjadi lebih baik, lebih dekat dengan Yang di Atas

InsyaAllah apa yang kita kerjakan memang berkah. 
Maka tetaplah berprasangka baik dengan skenario ke depannya. 

.....

"Kemampuan manusia memang terbatas, tetapi pertolongan Allah tidak terbatas"

Kalimat di atas mengakhiri bincang-bincang penyejuk hati kami. Pas sekali diucapkan ketika pada fase saya saat ini. Tetap yakin, berprasangka baik, dan semangat bekerja keras untuk apapun yang sedang dikerjakan di depan mata! :)

Selamat memulai tahun 2014!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar