Rabu, 09 Januari 2013

Jelajah Rumah Ibadat : Gereja Katedral Jakarta

Arsitektur luarnya membuat saya sebegitu penasarannya dengan interiornya. Namun ada perasaan enggan dan ragu untuk masuk ke dalam, yaitu terbentur oleh perasaan tidak enak mengganggu aktivitas beribadah agama lain.

Tahun lalu tepatnya, di tengah obrolan ngalor ngidul saya dan teman-teman, tercetus keinginan untuk mengintip isi Gereja Katedral Jakarta itu. Dari salah satu di antaranya saya dapatkan informasi kalau terdapat museum di dalamnya yang dibuka untuk umum di hari-hari tertentu! Berbekal pencarian di internet, saya dapatkan informasi lengkap untuk bertamu ke gereja ini! Hore!

Gereja Katedral Jakarta (nama resmi: Santa Maria Pelindung Diangkat Ke SurgaDe Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming) adalah sebuah gereja di Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu. (Wikipedia Indonesia)

Saya putuskan untuk ke sana pada hari Rabu. Museum dibuka pada pukul 10.00 WIB. Setelah sempat mampir ke Monas sebentar sambil menunggu pukul 10 pagi, akhirnya kami sampai di depan gereja ini. Kami beragama muslim. Lagi-lagi ada perasaan tidak enak, namun ketika sudah memberitahukan maksud kami untuk mengunjungi museum, dengan ramah si penjaga gerbang langsung menunjukan jalan menuju ke museum yang terletak di lantai 2.

Tampak luar gereja
Tampak dari depan terdapat tiga puncak menara yang menjulang tinggi. Sebuah menara kecil di atas dan di tengah-tengah atap, yaitu Menara Angelus Dei. Menara ini diapit dengan dua menara yang menjulang setinggi. Menara disebelah utara, yang bentuknya menyerupai benteng disebut Benteng Daud yang melambangkan Maria sebagai perlindungan terhadap kuasa-kuasa kegelapan. Sedangkan yang di sebelah Lapangan Banteng disebut Menara Gading, gading yang putih dan murni melambangkan keperawanan Maria.

Masuklah dari pintu samping, dan telusuri ruang misa utama. Perasaan saya meledak-ledak ketika memasuki ruang ini. Sangat megah! Saya sangat bersemangat karena akhirnya bisa mengobati rasa penasaran saya setelah sekian lama. Hore!


Pintu masuk utama
Kami menyusuri deretan kursi panjang sebelum akhirnya sampai ke tangga menuju ke lantai dua. Di sini letak museumnya. Museum terletak di balkon. Dahulu kala tempat ini digunakan untuk tempat paduan suara. Mengingat kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi, maka tempat ini dipergunakan untuk menyimpan benda-benda bersejarah.

Salah satu sisi dalam museum
Kami disambut hangat oleh si penjaga museum, wanita usia 50-60an yang dengan ramah memberikan sedikit cerita. Di museum ini dipamerkan alat-alat ibadat, kasula (pakaian ibadah yang digunakan pastor/uskup/imam), patung-patung, buku-buku, lukisan, foto, dan benda-benda yang dianggap memiliki nilai sejarah. Di sepanjang dinding terpampang lukisan wajah Paus Paulus dari masa ke masa. Kami bisa mengambil foto sesuka hati. Setiap relief terlihat menarik di sini!


Kaca patri warna-warni yang cantik



Sudut dari tengah-tengah balkon. Megah!
Beberapa saat lamanya saya menikmati duduk di ruang misa. Altar berbentuk tiga buah setengah bundaran. Bagian tengah merupakan Altar Utama, bagian kiri adalah Altar Maria dan bagian kanan adalah Altar Santo Yosep. Saya duduk di salah satu sudut kursi panjang. Saya ambil posisi di tengah, pelan-pelan mengambil foto kemegahan interior ruangan dan memandangi kekhusyukan beberapa orang di sini yang tengah berdoa, tanpa mengganggu privasi mereka dan Tuhannya.


Sudut dari antara kursi-kursi panjang

Di halaman gereja terdapat Goa Maria, salah satu sudut yang perlu dihampiri dalam ritual ibadah di sini. Goa ini mirip dengan Goa Maria di Lourdes Perancis. Lalu lalang burung merpati putih semakin mengentalkan suasana gereja. Duduk sejenak di halaman ini rasanya sangat menenangkan.


Goa Maria



Petualangan di Gereja Katedral kami sudahi pada waktu adzan Dzuhur. Tinggal menyebrang sedikit, sampailah saya di Masjid Istiqlal untuk menunaikan shalat Dzuhur.

Untuk yang sedang mencari tempat bersejarah untuk jalan-jalan di Jakarta, cobalah sesekali wisata tempat ibadah, salah satunya ke Gereja Katedral Jakarta. Hati-hati dalam mengambil gambar dengan kameramu, jangan sampai mengganggu dengan mengambil foto yang mencolok dan perhatikan daerah yang boleh dan tidak boleh difoto.
Selamat menjelajah!

Gereja Katedral Jakarta
Jl. Katedral No.7B 
Pasar Baru Sawah Besar 
Jakarta Pusat
Dibuka untuk umum hari Senin, Rabu, Jumat pukul 10.00-12.00 WIB


*)Informasi detail mengenai gereja didapatkan dari situs resmi Gereja Katedral. Untuk tahu sejarah detailnya, bisa dibuka di situs resmi tersebut.

3 komentar:

  1. Ternyata dalamnya bagus sekali ya. Foto kaca patri nya juga cantik.

    BalasHapus
  2. Wuuuiih pengen juga jalan2 ke sana terutama buat tambah koleksi Foto

    BalasHapus