Sabtu, 16 Juni 2012

SAMPO-SS, Rintisan Wirausaha Jamban Sehat Sederhana


Rabu, 6 Juni 2012

Hari ketiga saya di Desa Ponggang. Pukul 10.00 pagi saya dijemput oleh Pak Edo, Ketua Satuan Pelaksana Lembaga Keswadayaan Masyarakat Desa Ponggang. Nama Aslinya dalam KTP sebenarnya Pak Warga, hanya saja lebih beken disebut Pak Edo. Sehari sebelumnya saya dihubungi Pak Edo karena pada hari ini kata beliau akan ada pihak provinsi yang akan melihat jamban sehat, yang belakangan saya ketahui adalah Ibu Beti, dari Water & Sanitation Program, World Bank.

Saya dan Pak Edo menuju ke kediaman Ibu Kokom namanya. Bu Kokom baru saja membuat jamban pribadinya. Ibu Kokom bukan berasal dari keluarga berpunya. Ia berinisiatif membuat jamban pribadi setelah Pak Edo membentuk wirausaha pembuatan jamban. Sebelumnya Ibu Kokom mengaku membuang air di sungai, atau meminjam dari tetangga sebelah. Pada saat itu ada pula Ibu Cici yang sudah lebih dahulu memiliki jamban pribadi. Ibu kokom mulai merasa kesulitan membuang air besar karena jauhnya lokasi sungai tempat ia biasa membuang air. Pada awalnya ia enggan membangun jamban pribadi karena dianggap sebagai barang mewah.



Ibu Kokom
Ibu Kokom ikut  berkeringat mengerjakan septic tank nya sendiri

Namanya Sanitasi Masyarakat Ponggang (SMP), bentuk wirausaha sanitasi yang dirintis Pak Edo sebagai hasil pelatihan dari Water Sanitation Program, yang diselenggarakan oleh World Bank. Pelatihan tersebut selesai pada tanggal 5 Mei 2012. Pak Edo memulai usahanya pada tanggal 17 Mei 2012 dengan diawali sosialisasi sejak selesai pelatihan. Sosialisasi yang dilakukan Pak Edo tidak formal. Ia secara rutin mendekati setiap ada warga yang sedang berkumpul. Misalnya sedang istirahat setelah bertani di sawah, atau obrolan-obrolan ringan dengan ibu-ibu setempat. Pada saat ini jamban yang telah terbangun berjumlah 11 buah, dengan pemesanan untuk beberapa waktu ke depan mencapai angka 20an. Bentuk wirausaha yang dirintis Pak Edo memerlukan kerja tim, yang diisi oleh keluarga dari Pak Edo sendiri. Yaitu terdiri atas ahli teknik, manajer, bendahara, dan sales. Sedangkan untuk kuli yang mengerjakan saat ini sudah mencapai 8 tukang yang sudah terlatih.

Pelatihan tersebut diikuti oleh 4 kabupaten, yaitu : Subang, Cianjur, Bogor, dan Bandung. Setiap kabupaten mendelegasikan 2 orang untuk melaksanakan pelatihan. Pak Edo merupakan salah satu perwakilan Kabupaten Subang, yang direkomendasikan oleh Kepala Seksi bidang Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Subang. Karena masih banyaknya penduduk kelas menengah ke bawah yang tidak memiliki jamban di Desa Ponggang, saat ini Pak Edo menargetkan desanya sendiri untuk pembangunan jamban pribadi di rumah masing-masing. Ia menerapkan kebiasaan orang Sunda yang pasti akan mengikuti sesuatu yang sudah banyak dilakukan oleh sekelilingnya. Maka Pak Edo menawarkan usahanya ini dengan lokasi tersebar di berbagai RT. Melihat keadaan ekonomi warga yang beragam ini, Pak Edo menawarkan 4 paket tipe jamban dengan dilengkapi septic tank:
  1. Tipe 1 : 850.000
  2. Tipe 2 : 725.000
  3. Tipe 3 : 550.000
  4. Tipe 4 : 440.000

Biaya tersebut tidak harus dibayar lunas, tetapi Pak Edo menawarkan jasa cicilan 10 bulan dengan uang muka 20.000 saja. Tentu saja penawaran ini sangat menggiurkan. Prosedur pembuatan septic tank pada pelatihan tersebut tidak sepenuhnya dilaksanakan mentah-mentah oleh Pak Edo. Ada beberapa jenis modifikasi yang dilakukan, disesuaikan dengan praktik di lapangan. Salah satu contohnya adalah penggunaan penghalang kayu pada cetakan fiberglass dan waktu pengangkatan cetakan setelah dicor semen.

Bentuk jamban dan septic tank sangat sederhana. Septic tank dibuat dengan kedalaman 1,5 m. untuk tipe paling murah, tidak semua dinding septic tank diberi lapisan semen, tetapi hanya pada bagian atas saja, berikut dengan tutupnya. 


Septic tank dalam proses pembuatan
Ini dia bentuk cetakan sederhananya. Si batang kayu yang direkatkan dengan baut ini adalah hasil modifikasi sendiri

Saat ini permintaan jasa Pak Edo sudah tersebar hingga ke desa tetangga. Pak Edo baru melakukan sosialisasi ke 6 kades, tetapi belum melaksanakan sosialisasi ke kader tiap desa. 

Pada dasarnya pemahaman masyarakat tentang sanitasi masih sangat kurang. Maka Pak Edo memiliki pendekatan tersendiri untuk memasarkan usahanya, yaitu :
  • Pembuatan jamban dan septic tank yang dilakukan sendiri akan sangat mahal modalnya
  • Bentuk septic tank dengan pengecoran semen di dinding salah satunya adalah agar tanah di dindingnya tidak longsor
  • Dari sisi kesehatan, bahwa septic tank yang bocor akan dapat mempengaruhi kesehatan yang lain.

Salah satu jompo yang dihibahkan produk jamban sehat SAMPO-SS (Sanitasi Masyarakat Ponggang-Serangpanjang Subang)

Selain itu, masyarakat masih beranggapan bahwa kedalaman septic tank semakin besar semakin baik karena lama pemakaiannya akan lebih lama. Tetapi hal ini tidak sesuai dengan prosedur. Maka pendekatan untuk pemberian pengertiannya adalah :
  • Semakin dalam septic tank, maka material yang digunakan lebih banyak dan lebih mahal
  • Semakin dalam septic tank, maka kemungkinan dinding septic tank longsor akan semakin besar


Pak Warga a.k.a Pak Edo

Begitulah sebuah wirausaha sosial yang akan dikembangkan oleh Pak Edo. Dengan adanya usaha ini, masyarakat dengan penghasilan rendah akan lebih mempertimbangkan pembuatan jamban pribadinya karena harga yang ditawarkan sangat murah. Harapannya ini bisa menjadi batu loncatan untuk peningkatan kualitas sanitasi di suatu desa dengan masyarakat berpenghasilan rendah. Salut untuk keinginan kuat Pak Edo! Semoga bisa berkelanjutan dan bermanfaat bagi sekitarnya, karena beliau adalah perwakilan dari Kabupaten Subang yang mendapat amanah ini.

3 komentar: